Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Benarkah Rasa Takut Selalu Jadi Alasan Seseorang Gak Mau Merantau?

4 min read
Benarkah Rasa Takut Selalu Jadi Alasan Seseorang Gak Mau Merantau?
ilustrasi merantau (unsplash.com/Kit formerly ConvertKit)
  • Memilih tidak merantau bukan tanda karier mandek atau kurang ambisi, karena seseorang tetap bisa bekerja, belajar, membangun usaha, dan berkembang di daerah asal.
  • Tanggung jawab terhadap orang tua, keluarga yang membutuhkan bantuan, atau adik yang masih ditanggung dapat menjadi alasan utama seseorang tetap tinggal.
  • Merantau membutuhkan modal awal dan perhitungan biaya hidup; gaji lebih tinggi belum tentu menyisakan lebih banyak uang, sementara pekerjaan layak idealnya tersedia lebih merata.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Merantau sering dianggap sebagai salah satu cara untuk mendapatkan pengalaman baru dan kehidupan yang lebih baik. Karena itu, orang yang memilih tetap tinggal di daerah asal kadang langsung dicap takut keluar dari zona nyaman atau gak berani mengambil risiko.

Padahal, keputusan untuk merantau melibatkan banyak hal yang harus dipikirkan, bukan sekadar soal berani meninggalkan rumah. Lalu, benarkah rasa takut selalu jadi alasan seseorang gak mau merantau? Yuk, lihat alasan lain yang mungkin lebih dekat dengan keadaan sebenarnya.

  1. 1. Gak mau merantau bukan berarti kariernya berhenti

    Ilustrasi bertema karier dari Pexels oleh David Toledo yang digunakan untuk membahas peluang pekerjaan baru setelah Lebaran.
    ilustrasi karier (pexels.com/David Toledo)

    Ada orang yang memang tidak punya keinginan untuk pindah kota karena kehidupan yang dia jalani sekarang sudah punya arah. Dia bisa bekerja, belajar hal baru, membangun usaha, atau mengejar karier dari tempat tinggalnya sendiri. Pindah kota bukan syarat supaya seseorang bisa mendapatkan pengalaman atau punya kehidupan yang lebih baik atau validasi untuk dianggap keren oleh orang lain.

    Coba tengok sejenak orang yang sejak awal memang ingin bekerja di daerah asalnya. Kalau bidang pekerjaannya tersedia, kariernya bisa berkembang, dan dia merasa cocok dengan kehidupan domisili asal, buat apa harus pindah hanya supaya dianggap berani oleh orang lain? Merantau boleh jadi pilihan, tetapi tidak tepat kalau dijadikan ukuran apakah seseorang punya ambisi atau tidak untuk dianggap berkembang.

  2. 2. Ada keluarga yang memang gak bisa ditinggalkan begitu saja

    Ilustrasi keluarga yang menggambarkan hubungan orang tua dan anak dalam suasana kebersamaan di rumah.
    ilustrasi keluarga (pexels.com/Ron Lach)

    Keputusan untuk pergi merantau juga bisa berubah ketika seseorang punya keluarga yang membutuhkan mereka. Orang tua yang sudah lanjut usia, anggota keluarga yang sedang membutuhkan bantuan, atau adik yang masih menjadi tanggungan bisa membuat seseorang memilih tetap berada di rumah. Hal seperti ini tentu gak bisa diselesaikan dengan nasihat sederhana seperti “coba aja dulu buat merantau.”

    Bisa jadi kesempatan kerja di luar kota sebenarnya ada, tetapi setelah dipikirkan lagi, pergi berarti meninggalkan urusan keluarga yang selama ini dia bantu. Bukan berarti pekerjaan tersebut gak menarik atau dia gak ingin punya pengalaman baru. Dia hanya punya hal lain yang menurutnya lebih penting untuk dijalankan saat ini.

  3. 3. Sebelum menerima gaji, orang yang merantau harus keluar uang dulu

    Ilustrasi tumpukan uang kertas dan koin sebagai simbol biaya, tarif, serta kebutuhan pembayaran dalam layanan publik.
    ilustrasi uang (vecteezy.com/Onyengradar)

    Ini bagian yang sering dilupakan ketika orang menyuruh seseorang untuk merantau. Hari pertama kerja belum tentu seseorang langsung mendapatkan gaji, sebab gaji biasanya turun setidaknya setelah sebulan bekerja. Sedangkan kos, makan, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari sudah harus dikeluarkan sejak hari pertama tinggal di kota baru.

    Bayangkan seseorang mendapat tawaran kerja dengan gaji Rp3,5 juta, tetapi tabungannya bahkan belum cukup untuk membayar kos dan makan selama satu bulan. Dia bukan sedang menolak kesempatan karena takut hidup susah. Memang harus realistis karena ada biaya yang harus disiapkan, dan gak semua pencari kerja punya uang cadangan untuk menanggung masa sebelum memperoleh gaji pertama.

  4. 4. Gaji lebih besar belum tentu dinikmati semua

    Ilustrasi gaji yang menggambarkan pendapatan pekerja dan pengelolaan uang setelah menerima pembayaran bulanan.
    ilustrasi gaji (pexels.com/Defrino Maasy)

    Angka yang tertera di slip gaji sering dipakai sebagai alasan kenapa seseorang seharusnya mau merantau. Masalahnya, orang yang pindah kota juga harus membayar kebutuhan yang mungkin sebelumnya tidak dia keluarkan ketika masih tinggal di rumah. Gaji Rp4 juta, misalnya, harus dibagi lagi untuk kos, makan, transportasi, pulsa, laundry, dan berbagai pengeluaran lainnya.

    Karena itu, pekerjaan dengan gaji lebih banyak belum tentu memberikan perubahan besar pada kondisi keuangan seseorang. Kalau di daerah asal ada pekerjaan dengan penghasilan lebih kecil tetapi biaya hidupnya juga jauh lebih rendah, selisih tersebut perlu dihitung dengan matang-matang. Bisa saja setelah semua pengeluaran dibayar, uang yang tersisa dari dua pekerjaan tersebut tidak berbeda jauh.

  5. 5. Kenapa harus merantau kalau pekerjaan layak bisa tersedia di daerah asal?

    Ilustrasi bertema pekerjaan sebagai visual pendukung pembahasan mengenai aktivitas kerja dan dunia profesional sehari-hari.
    ilustrasi pekerjaan (pexels.com/Kampus Production)

    Pertanyaan tentang merantau juga perlu diarahkan kepada persoalan lapangan kerja. Ketika pekerjaan yang layak hanya mudah ditemukan di daerah tertentu, orang yang tinggal di wilayah lain akhirnya harus pergi untuk mencari kesempatan tersebut. Beban untuk mendapatkan pekerjaan pun ikut bertambah karena pencari kerja harus menanggung sendiri biaya pindah dan hidup di tempat baru.

    Di sinilah pemerintah punya pekerjaan rumah yang gak bisa terus dibebankan kepada pencari kerja. Kesempatan kerja seharusnya tidak hanya menjadi alasan orang meninggalkan daerah asalnya, terutama ketika kebutuhan untuk bekerja juga ada di daerah tersebut. Kalau seseorang bisa mendapatkan pekerjaan yang layak tanpa harus pindah kota, merantau bisa tetap menjadi pilihan bagi yang menginginkannya, bukan sesuatu yang seolah wajib dilakukan supaya seseorang punya masa depan.

    Merantau memang bisa membuka pintu ke pengalaman dan kesempatan yang berbeda. Namun, tidak semua orang yang memilih tinggal sedang takut mencoba sesuatu yang baru. Kalau kamu sendiri, bakal tetap tinggal di daerah asal atau memilih merantau kalau punya kesempatan?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More