Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Benarkah Takut Nikah Muda Berarti Gak Berani Mengambil Tanggung Jawab?

ilustrasi nikah muda
ilustrasi nikah muda (vecteezy.com/Parid Muslim)
Intinya sih...
  • Menikah muda bukan satu-satunya bentuk keberanian atau tanggung jawab.
  • Tanggung jawab hadir dalam banyak pilihan hidup, bukan hanya lewat pernikahan.
  • Usia dan status menikah tidak otomatis menentukan kedewasaan seseorang.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Fenomena nikah muda kembali ramai dibicarakan setelah beredarnya video TikTok seorang perempuan berusia 19 tahun yang menikah dengan pria 29 tahun. Ada yang menyebut bahwa keberanian nikah pada usia muda merupakan bukti kesiapan memikul tanggung jawab. Narasi semacam ini cepat menyebar karena terdengar tegas, sederhana, dan mudah dicerna. Padahal, kehidupan tidak berjalan dengan satu ukuran yang sama untuk semua orang, termasuk soal waktu menikah.

Mengaitkan keberanian mengambil tanggung jawab hanya pada keputusan menikah pada usia tertentu berisiko menyederhanakan realitas hidup yang jauh lebih kompleks. Di titik inilah, diskusi soal nikah muda seharusnya ditempatkan sebagai pilihan hidup, bukan standar nilai diri. Berikut beberapa sudut pandang yang jarang dibahas secara utuh.

1. Keputusan menikah datang dari kondisi hidup yang berbeda

ilustrasi menikah
ilustrasi menikah (pexels.com/afiful huda)

Setiap orang tumbuh dengan latar belakang keluarga, ekonomi, dan pengalaman hidup yang tidak pernah sama. Itu sebabnya, keputusan menikah lahir dari konteks yang berbeda-beda. Ada yang sejak muda sudah terbiasa mandiri secara finansial, ada pula yang baru menemukan pijakan hidup setelah melewati usia tertentu. Dalam kondisi seperti ini, menunda menikah bukan berarti lari dari tanggung jawab, melainkan bentuk kehati-hatian membaca situasi hidup sendiri.

Bagi sebagian orang, tanggung jawab justru diambil melalui pilihan lain, seperti membantu keluarga, menyelesaikan pendidikan, atau menata karier agar tidak bergantung pada pasangan kelak. Keputusan tersebut sering kali tidak terlihat glamor di media sosial, tetapi nyata dijalani setiap hari. Mengukur keberanian hanya dari status pernikahan jelas mengabaikan proses hidup yang panjang dan berliku.

2. Tanggung jawab tidak selalu berwujud pernikahan

ilustrasi bekerja
ilustrasi bekerja (vecteezy.com/visoot uthairam)

Dalam kehidupan sehari-hari, tanggung jawab hadir dalam banyak bentuk yang sering luput dari sorotan. Ada orang yang belum menikah, tetapi menanggung biaya hidup orang tua, adik, atau keluarga besar tanpa banyak bicara. Ada pula yang memilih fokus membangun usaha kecil demi bertahan hidup meski jauh dari sorotan publik.

Pilihan untuk tidak menikah muda sering kali justru diambil agar tidak menyeret orang lain ke dalam kondisi hidup yang belum stabil. Sikap semacam ini bukan tanda takut berkomitmen, melainkan kesadaran bahwa pernikahan membawa konsekuensi panjang. Tanggung jawab tidak selalu perlu diberi label pernikahan agar dianggap sah.

3. Narasi media sosial sering menyederhanakan realitas pernikahan sebenarnya

ilustrasi pernikahan
ilustrasi pernikahan (pexels.com/Emma Bauso)

Konten media sosial cenderung menyukai pesan yang singkat, tegas, dan mudah viral meski kerap mengorbankan konteks. Klaim bahwa tidak berani nikah muda berarti tidak berani bertanggung jawab terdengar kuat, tetapi tidak memberi ruang bagi pengalaman hidup lain. Narasi semacam ini berpotensi membentuk standar sosial baru yang menekan, terutama bagi anak muda.

Banyak orang akhirnya merasa tertinggal hanya karena hidupnya tidak sesuai dengan standar masyarakat yang ditampilkan lewat gawai. Padahal, media sosial tidak pernah benar-benar menampilkan proses di balik layar, termasuk konflik, adaptasi, atau kesulitan setelah menikah muda. Mengambil keputusan hidup berdasarkan potongan konten jelas berisiko menyesatkan.

4. Usia menikah bukan ukuran kedewasaan seseorang

ilustrasi menikah
ilustrasi menikah (vecteezy.com/Volodymyr Ivash)

Kedewasaan tidak otomatis datang bersamaan dengan usia atau status pernikahan. Ada yang menikah muda, tetapi masih bergantung penuh pada orangtua. Ada pula yang menikah lebih matang dengan kesiapan mental dan finansial yang kuat. Usia hanyalah angka, bukan jaminan kemampuan mengelola hidup bersama orang lain.

Menikah pada usia berapa pun tetap membutuhkan proses belajar yang panjang. Menganggap nikah muda sebagai satu-satunya jalan menuju kedewasaan justru menutup ruang dialog yang sehat. Kedewasaan lebih terlihat dari cara seseorang mengambil keputusan dan menanggung konsekuensinya, bukan dari cepat atau lambatnya menikah.

5. Pilihan hidup tidak perlu dijadikan alat pembanding

ilustrasi menikah
ilustrasi menikah (vecteezy.com/Roy Anditya Kusworo)

Menjadikan pilihan menikah sebagai tolok ukur keberanian berisiko menciptakan kompetisi yang tidak perlu. Setiap orang memiliki garis waktu hidup sendiri yang tidak bisa diseragamkan. Ketika satu pilihan diangkat sebagai standar moral, pilihan lain otomatis diposisikan lebih rendah.

Padahal, kehidupan nyata tidak berjalan seperti lomba. Ada orang yang bahagia menikah muda, ada pula yang menemukan makna hidupnya setelah melewati banyak fase tanpa pernikahan. Menghormati pilihan orang lain justru mencerminkan kedewasaan yang lebih nyata dalam kehidupan bersama.

Nikah muda pada akhirnya merupakan pilihan personal yang tidak bisa dijadikan ukuran tunggal soal keberanian dan tanggung jawab. Menjalani hidup dengan sadar atas konsekuensi pilihan sendiri, apa pun bentuknya, jauh lebih relevan daripada mengikuti standar yang dibentuk media sosial. Daripada sibuk menilai keputusan orang lain, bukankah lebih baik jika setiap orang fokus dengan hidup masing-masing?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us

Latest in Life

See More

5 Zodiak yang Merasa Bersalah saat Mengutamakan Diri Sendiri

06 Jan 2026, 07:15 WIBLife