5 Rekomendasi Buku Anti-Penyesalan untuk Masa Depan yang Lebih Baik

- Artikel ini membahas lima buku inspiratif yang membantu pembaca mengelola emosi, uang, dan keputusan agar terhindar dari penyesalan di masa depan.
- Setiap buku menawarkan pendekatan berbeda—dari psikologi keuangan, seni kesabaran, hingga kekuatan manifestasi dan kepemimpinan—untuk menata pola pikir lebih bijak.
- Pesan utamanya: hidup tanpa penyesalan bukan berarti tanpa kesalahan, tetapi tentang kesiapan mental dalam mengambil keputusan dengan tenang dan sadar.
Penyesalan memang punya cara yang menyebalkan untuk datang kembali. Ia terasa seperti beban yang tak terlihat di pundak, sesak, pahit, dan sering kali membuat kita merasa jalan di tempat karena terus-menerus menoleh ke belakang. Akibatnya, kita jadi takut melangkah dan kehilangan rasa percaya diri untuk membuat keputusan besar lainnya.
Penyesalan biasanya datang dari dua hal, yaitu terlalu cepat bertindak atau ketidakmampuan mengelola ekspektasi. Entah itu tentang bagaimana kita menghabiskan uang, cara kita memimpin orang lain, hingga seberapa sabar kita menunggu sebuah hasil. Pertanyaannya, apakah kita akan terus membiarkan diri kita terjebak dalam siklus yang melelahkan itu?
Nah, supaya kamu bisa melangkah dengan lebih tenang dan mantap, mari simak daftar rekomendasi buku berikut ini yang akan membantumu menata pola pikir dan meminimalisir rasa menyesal di masa depan!
1. The Psychology of Money Edisi Revisi karya Morgan Housel

The Psychology of Money karya Morgan Housel mengajak kita menyadari bahwa mengelola uang bukan soal angka di atas kertas, melainkan soal mengelola perilaku dan emosi. Banyak orang pintar yang justru mengalami kehancuran finansial karena gagal mengendalikan ego, sementara orang biasa tanpa latar belakang keuangan bisa menjadi kaya hanya karena memiliki kebiasaan yang disiplin. Melalui 19 cerita pendek, buku ini membuktikan bahwa keputusan keuangan nyata tidak diambil melalui rumus matematika di spreadsheet, melainkan di meja makan—di mana sejarah pribadi, gengsi, dan ketakutan kita saling bercampur.
Rekomendasi utama buku ini terletak pada kemampuannya menghancurkan rasa iri yang sering menjadi akar penyesalan finansial. Penulis mengajarkan kita untuk berhenti membandingkan diri dengan orang lain dan lebih fokus pada apa yang membuat kita bisa "tidur nyenyak di malam hari" daripada sekadar mengejar keuntungan logis yang bikin stres. Dengan memberikan perspektif tentang kapan harus merasa "cukup", buku ini berfungsi sebagai rem yang menjaga kita agar tidak mengambil risiko konyol akibat keserakahan, sehingga kita bisa menjalani hidup yang lebih tenang dan bebas dari rasa menyesal di masa tua.
2. The Art of Spending Money karya Morgan Housel

Banyak dari kita yang bekerja keras mengejar uang, tetapi justru terjebak dalam penyesalan karena tidak tahu cara menggunakannya dengan benar. Kita seringkali membelanjakan uang hanya untuk membuat orang lain terkesan atau justru terlalu takut menggunakannya untuk hal-hal yang sebenarnya bisa meningkatkan kualitas hidup. Morgan Housel menjelaskan bahwa masalah utama kita bukanlah angka di rekening, melainkan kegagalan dalam membedakan antara status dan kegunaan, serta antara gengsi dan kebahagiaan sejati. Buku ini membongkar sisi psikologis di balik keputusan belanja kita—seperti rasa iri dan tidak aman—yang seringkali lebih menentukan cara kita mengeluarkan uang daripada jumlah pendapatan kita sendiri.
The Art of Spending Money mengajak untuk menyelaraskan pengeluaran dengan nilai-nilai pribadi, bukan ekspektasi sosial. Alih-alih memberikan rumus keuangan yang kaku, penulis menunjukkan bahwa seni menggunakan uang yang paling berharga adalah untuk mendapatkan ketenangan pikiran dan kemandirian jangka panjang. Dengan begitu, kamu tidak akan lagi merasa bersalah saat mengeluarkan uang untuk hal yang tepat dan memiliki keberanian untuk memangkas pengeluaran yang tidak bermakna.
3. The Magic of Manifesting karya Ryuu Shinohara

Pernahkah kamu merasa terjebak dalam siklus hidup yang itu-itu saja, seolah-olah usaha kerasmu tidak membuahkan perubahan berarti? Ryuu Shinohara menjelaskan bahwa hambatan terbesarnya mungkin ada di dalam pikiran kamu sendiri. Melalui buku ini, ia membongkar bahwa manifestasi bukanlah trik sulap atau sekadar harapan kosong, melainkan metode praktis yang didukung oleh ilmu pengetahuan untuk menyelaraskan pikiran, emosi, dan tindakan. Dengan memahami cara kerja niat dan energi, kamu diajak untuk melepaskan hambatan bawah sadar (limiting beliefs) yang selama ini menghentikan langkahmu, lalu mengubah mentalitas "kekurangan" menjadi mentalitas "kelimpahan" untuk menarik kesuksesan, cinta, dan pencapaian yang nyata.
The Magic of Manifesting menjadi kompas penting agar kamu tidak menoleh ke belakang dan menyesali peluang yang hilang karena rasa ragu. Penulis menawarkan 15 teknik canggih yang sering digunakan oleh para juara untuk tetap fokus dan berkembang, sehingga kamu tidak lagi menjadi "penumpang" dalam hidup sendiri. Dengan mempelajari cara mengatasi kesalahan umum dalam bermanifestasi dan menerapkan latihan harian yang ampuh, kamu akan berhenti membuang waktu dalam ketidakpastian.
4. The Power of Patience karya M. J. Ryan

Di tengah dunia yang menuntut segalanya serba instan, kita sering kali merasa mudah lelah, cepat marah, hingga akhirnya kehilangan arah. M. J. Ryan melalui The Power of Patience mengingatkan bahwa kunci untuk hidup yang lebih tenang dan keputusan yang lebih bijak sebenarnya sederhana, yaitu kesabaran. Namun, kesabaran di sini bukan berarti pasif atau lemah, melainkan sebuah kekuatan untuk memperlambat langkah demi menemukan makna di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern. Dengan pendekatan praktis, penulis menunjukkan cara menumbuhkan sikap sabar saat menghadapi berbagai tekanan, mulai dari hal sepele seperti antrean panjang hingga masalah serius dalam hubungan dan penataan prioritas hidup.
Kita semua tahu bahwa penyesalan sering kali lahir dari kata-kata tajam yang terucap saat marah atau tindakan gegabah karena ingin hasil yang cepat. Buku ini mengajarkan kita untuk memberikan ruang bagi diri sendiri agar bisa merespons situasi dengan bijaksana, bukan sekadar bereaksi secara emosional. Dengan melatih otot kesabaran, kamu akan hidup lebih selaras dengan waktu, mengurangi stres harian, dan memastikan bahwa setiap keputusan yang diambil hari ini tidak akan menjadi beban pikiran atau penyesalan di masa depan.
5. The Psychology of Leadership karya Sébastien Page

The Psychology of Leadership menawarkan sudut pandang segar bahwa kepemimpinan sejati sebenarnya adalah sebuah "permainan mental". Melalui kombinasi penelitian psikologi positif, kepribadian, hingga dunia olahraga, Sébastien Page mengajak kita untuk memiliki kemampuan "membaca pikiran" dalam memahami motivasi tersembunyi dan dinamika orang-orang di sekitar kita. Dengan gaya bahasa yang cerdas dan penuh humor, buku ini bukan hanya mengajarkan cara menginspirasi organisasi atau meningkatkan kemampuan komunikasi, tetapi juga fokus pada penguatan pola pikir dan ketahanan diri sang pemimpin itu sendiri.
Buku ini menjadi rekomendasi yang sangat kuat karena membantu kita menghindari konflik yang tidak perlu dan kerusakan hubungan yang sulit diperbaiki. Sering kali, penyesalan muncul di kemudian hari karena kita merasa telah bersikap terlalu keras, tidak adil, atau gagal memberikan dukungan di saat yang tepat. Dengan memahami psikologi kepemimpinan, kamu akan belajar mengambil keputusan yang lebih adil dan membangun lingkungan yang harmonis.
Menjalani hidup tanpa penyesalan bukan berarti kita tidak pernah berbuat salah, melainkan tentang bagaimana kita membekali diri dengan sudut pandang yang lebih bijak sebelum melangkah. Kelima buku di atas hadir sebagai petunjuk agar kita tidak lagi terjebak dalam keputusan impulsif yang merugikan atau ekspektasi yang menyiksa diri sendiri.


















