Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BookTok Bikin Gemar Membaca atau Sekadar Belanja Buku Viral?

4 min read
BookTok Bikin Gemar Membaca atau Sekadar Belanja Buku Viral?
Ilustrasi sedang membaca buku (pexels.com/George Milton)
  • BookTok membuat buku lebih menarik bagi generasi muda, tetapi juga mendorong pembelian berlebihan hingga buku berisiko diperlakukan sebagai koleksi atau aksesori gaya hidup.
  • Algoritma dan tren viral dapat menyeragamkan pilihan bacaan, sementara rekomendasi singkat berbasis reaksi emosional kerap tidak menggambarkan isi buku secara utuh.
  • Tekanan mengejar jumlah buku dan estetika dapat menggeser makna membaca; literasi menekankan pemahaman, pemikiran kritis, serta eksplorasi perspektif, bukan kecepatan atau kepemilikan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

BookTok telah mengubah cara banyak orang menemukan, membicarakan, dan membeli buku. Melalui video singkat di TikTok, sebuah novel dapat mendadak viral hanya karena satu kutipan, adegan emosional, atau reaksi pembaca yang dramatis. Fenomena ini juga membawa dampak positif karena membuat aktivitas membaca kembali terlihat menarik, terutama bagi generasi muda yang sebelumnya merasa dunia buku terlalu serius atau membosankan.

Namun, di balik popularitasnya, BookTok juga memiliki sisi yang perlu dikritisi. Ketika membaca semakin erat dikaitkan dengan tren, estetika, jumlah buku yang dimiliki, dan konten yang mendapatkan banyak views, muncul pertanyaan penting: apakah kita benar-benar sedang membangun budaya membaca, atau hanya menciptakan bentuk baru dari konsumerisme? Berikut lima sisi gelap BookTok yang menarik untuk diperhatikan.

  1. 1. Membaca berubah menjadi ajang konsumsi

    Ilustrasi rak buku
    Ilustrasi rak buku (pexels.com/cottonbro studio)

    Salah satu sisi yang paling terlihat adalah munculnya budaya membeli buku dalam jumlah besar. Rak buku yang penuh, tumpukan “TBR” atau to be read, serta video book haul sering menjadi bagian dari konten BookTok. Membeli buku memang bukan hal buruk, tetapi aktivitas membeli dapat perlahan mengambil alih tujuan utama, yaitu membaca.

    Seseorang bisa memiliki puluhan bahkan ratusan buku, tetapi hanya sebagian kecil yang benar-benar selesai dibaca. Dalam kondisi tertentu, buku akhirnya diperlakukan seperti produk koleksi atau aksesori gaya hidup. Nilai sebuah buku pun berisiko bergeser dari isi dan gagasannya menjadi seberapa cantik sampulnya, seberapa populer judulnya, atau apakah buku tersebut sedang viral.

  2. 2. Tren viral bisa mengalahkan selera membaca

    Ilustrasi merekomendasikan buku baru
    Ilustrasi merekomendasikan buku baru (pexels.com/Antoni Shkraba)

    Algoritma media sosial cenderung mendorong konten yang menarik perhatian dalam waktu singkat. Akibatnya, buku tertentu dapat muncul berulang kali di halaman pengguna sampai menciptakan kesan bahwa buku tersebut wajib dibaca semua orang.

    Fenomena ini sebenarnya dapat membantu pembaca menemukan judul baru. Namun, jika terlalu mengikuti tren, pilihan bacaan menjadi semakin homogen. Orang mungkin membaca buku bukan karena benar-benar tertarik pada topiknya, melainkan karena takut ketinggalan tren atau merasa perlu ikut dalam percakapan komunitas. Pada akhirnya, eksplorasi terhadap genre, penulis, atau gagasan yang lebih beragam bisa berkurang.

  3. 3. Jumlah buku dibaca menjadi ukuran produktivitas

    Ilustrasi produktif membaca buku
    Ilustrasi produktif membaca buku (pexels.com/RDNE Stock project)

    Budaya membaca seharusnya tidak selalu diukur dari berapa banyak buku yang selesai dalam satu bulan. Namun, BookTok dapat secara tidak langsung menciptakan tekanan untuk mengejar angka. Tantangan seperti membaca puluhan buku dalam setahun memang bisa menjadi motivasi, tetapi dapat berubah menjadi kompetisi jika tidak disikapi dengan sehat.

    Akibatnya, pembaca mungkin terburu-buru menyelesaikan buku hanya demi mencapai target. Mereka bisa melewati bagian yang sulit, tidak memberikan waktu untuk merenungkan gagasan, atau bahkan merasa bersalah ketika membaca dengan lambat. Padahal, membaca satu buku secara mendalam dan benar-benar memahami isinya bisa jauh lebih bermakna daripada menyelesaikan sepuluh buku tanpa mengingat apa yang dipelajari.

  4. 4. Estetika buku bisa mengalahkan isi

    Ilustrasi menceritakan isi buku
    Ilustrasi menceritakan isi buku (pexels.com/https://kaboompics.com/)

    BookTok memiliki kekuatan besar dalam menjadikan buku sebagai sesuatu yang visual. Sampul menarik, special edition, ilustrasi, sprayed edges, book sleeve, dan dekorasi rak dapat membuat pengalaman membaca terasa lebih menyenangkan. Industri penerbitan pun dapat memanfaatkan daya tarik visual tersebut untuk memasarkan produk.

    Masalahnya muncul ketika estetika menjadi alasan utama seseorang membeli buku. Buku dengan desain cantik bisa mendapatkan perhatian jauh lebih besar daripada karya dengan gagasan kuat tetapi kemasannya sederhana. Dalam kondisi seperti ini, buku berisiko diperlakukan sebagai bagian dari gaya hidup alih-alih sebagai media untuk bertemu dengan ide, pengalaman, dan perspektif baru.

  5. 5. Rekomendasi singkat tidak selalu mewakili isi buku

    Ilustrasi merekomendasikan buku
    Ilustrasi merekomendasikan buku (pexels.com/Anna Shvets)

    Salah satu daya tarik BookTok adalah kemampuannya membuat buku terasa mudah dipahami. Video berdurasi singkat dapat menggambarkan sebuah novel melalui beberapa kata seperti “bikin nangis”, “enemies to lovers”, atau “plot twist gila”. Format tersebut efektif untuk menarik rasa penasaran, tetapi tidak selalu memberikan gambaran utuh tentang sebuah karya.

    Ketika rekomendasi hanya berfokus pada reaksi emosional atau satu bagian yang paling menarik, konteks buku bisa hilang. Pembaca akhirnya membeli atau membaca buku berdasarkan ekspektasi yang dibentuk oleh konten viral. Jika isi sebenarnya berbeda, mereka mungkin merasa kecewa. Karena itu, rekomendasi BookTok sebaiknya menjadi pintu masuk, bukan satu-satunya dasar untuk menilai kualitas sebuah buku.

    Literasi sejati tidak ditentukan oleh seberapa banyak buku yang kita punya atau seberapa cepat kita menyelesaikannya. Literasi berkaitan dengan kemampuan memahami informasi, mempertanyakan gagasan, melihat perspektif yang berbeda, menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan, dan membangun pemikiran yang lebih kritis.

    Karena itu, tidak masalah jika dalam satu bulan kita hanya menyelesaikan satu buku. Tidak masalah pula jika buku yang kita baca bukan buku yang sedang viral. Bahkan, tidak memiliki rak buku yang estetik pun tidak membuat seseorang menjadi pembaca yang buruk.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More