Menurut psikolog dan profesor, Clay Routledge, “Nostalgia membantu kita mengingat bahwa hidup kita memiliki makna dan nilai, sekaligus membantu kita menemukan kepercayaan diri dan motivasi untuk menghadapi tantangan di masa depan,” dikutip dari Psychology Today.
Borrowed Nostalgia: Kangen pada Zaman yang Gak Pernah Dialami

- Borrowed nostalgia adalah rasa kangen pada era yang tidak dialami langsung; survei Vevo 2026 mencatat 65 persen gen Z responden merasakannya terhadap momen budaya masa lalu.
- Akses berulang melalui streaming, media sosial, playlist, film, dan arsip budaya membuat era lama terasa familier. Ketertarikan pada benda analog juga menawarkan pengalaman baru bagi gen Z.
- Daya tarik musik, film, fashion, dan kamera lawas kerap berasal dari emosi serta gambaran hidup yang diasosiasikan dengannya, meski representasi era tersebut di media telah dikurasi.
Pernah gak kamu merasa kangen sama era yang bahkan gak pernah kamu alami? Misalnya, kamu suka lagu 90-an, ingin punya kamera digital, atau merasa film dan gaya hidup di awal tahun 2000-an lebih dekat dari masa sekarang. Fenomena ini dikenal sebagai borrowed nostalgia, yaitu rasa nostalgia terhadap budaya atau zaman yang gak dialami langsung.
Dalam laman Advanced Television, istilah ini ramai dibahas setelah survei Vevo pada 2026 menemukan 65 persen gen Z yang disurvei mengaku merasakan borrowed nostalgia terhadap momen budaya sebelum mereka lahir atau saat masih terlalu kecil untuk mengingatnya.
Internet membuat musik, film, fashion, hingga cerita dari berbagai era bisa ditemukan kapan saja. Generasi sekarang gak cuma mengenal masa lalu dari orang tua saja, tetapi juga dari streaming, media sosial, dan konten pop culture. Zaman yang familier kemudian terasa seperti sesuatu yang pernah kita kenal, meski sebenarnya cuma ditemui lewat media.
1. Masa lalu terasa dekat karena terus muncul di sekitar kita

ilustrasi mendengarkan musik (pexels.com/cottonbro studio) Generasi sekarang punya akses yang mudah ke arsip budaya. Lagu lama muncul di playlist, film lama yang tersedia di paltform streaming, sementara foto dan video dari era tertentu beredar lagi di media sosial. Paparan berulang membuat sebuah zaman terasa familier tanpa pengalaman langsung.
Dalam laman Bustle, menurut Dr. Stephanie Steele-Wren, seorang psikolog berlisensi, ketertarikan gen Z terhadap benda analog juga muncul karena mereka justru mengalaminya sebagai sesuatu yang baru. Bagi gen Z, kembali ke hal-hal analog sering berarti mencoba sesuatu untuk pertama kalinya dan sensasi itu bisa langsung terasa menarik.
Karena itu, ketika tahun 2000-an terasa familier, yang dirindukan belum tentu tahunnya. Bisa jadi yang terasa dekat adalah gambaran kehidupan pada saat itu yang lebih sederhana.
2. Yang dirindukan sering kali bukan zamannya, tapi perasaannya

ilustrasi kamera digital (unsplash.com/Ludde Lorentz ) Coba lihat disekitar kita, kenapa ada orang yang suka vinyl, kamera digital, musik lawas, atau film dari puluhan tahun yang lalu. Benda dan budaya itu berasal dari masa tertentu, tetapi daya tariknya sering muncul dari emosi di dalamnya.
Makanya, gak aneh kalau seseorang merasa dekat dengan era yang dikenalnya dari film atau playlist. Yang kita rindukan mungkin kualitas hidup yang kita bayangkan pada masa tersebut.
3. Musik dan pop culture bikin rasa nostalgia makin kuat

ilustrasi menonton film bersama (pexels.com/ron lach) Musik menjadi salah satu elemen paling cepat untuk masuk ke masa lalu. Lagu lama bisa muncul lewat film, konser, atau playlist, lalu menemukan pendengar baru yang belum lahir pada saat lagu itu dirilis. Hal serupa juga bisa terjadi pada film, fashion, dan visual yang dihidupkan kembali.
Penelitian Sedikides dkk. (2021), dalam laman Psychology Today, menjelaskan bahwa musik dapat membawa pendengarnya kembali ke masa dan tempat tertentu dalam hidup mereka, sekaligus menghadirkan kembali emosi yang melekat pada pengalaman tersebut. Mendengarkan musik yang sering diputar saat momen penting dalam hidup, seperti perayaan keluarga bertahun-tahun lalu, dapat memicu pengalaman emosional yang sangat nostalgis.
Perasaan tersebut bukan berasal dari musiknya, melainkan dari apa yang diingatkan oleh musik tersebut. Sebuah lagu dapat membuka berbagai macam perasaan. Kita bebas menikmati masa lalu, tetapi perlu ingat bahwa versi yang muncul di layar adalah versi yang sudah dipilih dan dikurasi. Era tertentu mungkin terlihat seru lewat musik, fashion, dan filmnya, padahal kehidupan nyata di era itu bisa jadi jauh lebih kompleks.
Kangen pada zaman yang gak pernah dialami bukan hal yang aneh. Borrowed nostalgia menunjukkan bahwa hubungan kita dengan masa lalu gak selalu dibangun dari memori pribadi, tetapi juga dari cerita dan budaya yang ditemui. Mungkin yang kita cari bukan benar-benar masa lalu, melainkan perasaan yang kita bayangkan ketika ada di sana. Menikmati budaya lama bisa jadi cara seru untuk memahami apa yang sebenarnya kita sukai.























