Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Buku yang Cocok Dibaca kalau Kamu Muak sama Semua Orang

5 Buku yang Cocok Dibaca kalau Kamu Muak sama Semua Orang
Buku Norwegian Wood & Buku How to Be Alone (dok. Penguin Book /Norwegian Wood | dok. Pan Macmillan /How to Be Alone)
Intinya Sih
  • Artikel merekomendasikan lima buku yang menemani saat seseorang ingin menyendiri, menghadirkan ketenangan tanpa menghakimi kebutuhan untuk menjauh dari keramaian.
  • Setiap buku menawarkan perspektif berbeda tentang kesendirian dan refleksi diri, mulai dari pembelaan terhadap introversi hingga perjalanan spiritual mencari makna hidup.
  • Tema utama artikel menegaskan bahwa keinginan untuk sendiri bukan tanda kerusakan, melainkan cara sehat untuk kembali mengenali diri sebelum hadir lagi bagi orang lain.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ada fase dalam hidup ketika keramaian terasa melelahkan dan percakapan kecil terasa seperti beban. Bukan karena kamu membenci orang-orang di sekitarmu, tapi karena ada sesuatu di dalam diri yang sedang butuh ruang untuk bernapas. Perasaan itu valid, dan tidak perlu buru-buru diperbaiki.

Kadang yang paling dibutuhkan bukan solusi, tapi teman diam yang tidak menuntut apa-apa. Buku-buku ini cocok dibaca tepat di momen itu, ketika kamu ingin sendirian tapi tidak mau benar-benar kosong. Berikut ini lima pilihan buku yang cocok dibaca kalau kamu muak sama semua orang.

1. Quiet — Susan Cain

Buku Quiet
Buku Quiet (dok. Penguin Book /Quiet)

Susan Cain menulis buku ini sebagai pembelaan yang panjang dan terukur terhadap mereka yang selama ini merasa salah karena lebih suka ketenangan daripada keramaian. Dunia terlalu lama merancang dirinya untuk para ekstrover, mulai dari ruang kerja terbuka, rapat brainstorming, hingga ekspektasi sosial yang menganggap pendiam sebagai masalah yang perlu diperbaiki. Cain membongkar asumsi itu satu per satu dengan argumen yang didukung banyak penelitian dan kisah nyata.

Buku ini tidak hanya berbicara tentang introversi sebagai tipe kepribadian. Ia berbicara tentang bagaimana orang yang tidak suka banyak bicara sering kali justru berpikir lebih dalam dan bekerja lebih baik saat diberi ruang yang tepat. Membaca buku ini di saat sedang muak sama semua orang terasa seperti akhirnya menemukan seseorang yang mengerti tanpa perlu kamu jelaskan panjang lebar.

2. The Stranger — Albert Camus

Buku The Stranger
Buku The Stranger (dok. Penguin Book /The Stranger )

Meursault, tokoh utama dalam novel tipis ini, menjalani hidupnya dengan jarak emosional yang membuat pembaca tidak nyaman sekaligus terpesona. Ia tidak pura-pura peduli pada hal-hal yang menurutnya tidak perlu dipedulikan, dan ia tidak meminta maaf atas cara pandangnya terhadap dunia. Camus menulisnya bukan sebagai tokoh yang harus dikagumi atau dikecam, tapi sebagai cermin dari pertanyaan yang lebih besar tentang makna dan absurditas.

Novel ini pendek dan bisa habis dalam satu sore, tapi efeknya tidak selesai saat buku ditutup. Ada sesuatu dalam cara Meursault merespons dunia di sekitarnya yang terasa anehnya melegakan, terutama ketika kamu sedang lelah berpura-pura antusias terhadap hal-hal yang tidak benar-benar kamu pedulikan. Buku ini tidak memberi jawaban, tapi mengajak kamu duduk lebih lama bersama pertanyaan yang biasanya dihindari.

3. Norwegian Wood — Haruki Murakami

Buku Norwegian Wood
Buku Norwegian Wood (dok. Penguin Book /Norwegian Wood)

Murakami menulis novel ini dengan tempo yang lambat dan penuh keheningan, persis seperti perasaan yang ingin ditemani saat tidak ingin bicara dengan siapa pun. Toru Watanabe, tokoh utamanya, adalah seseorang yang hidup di antara dua dunia tanpa benar-benar merasa memiliki tempat di keduanya. Kesepian dalam buku ini tidak digambarkan sebagai sesuatu yang harus segera diselesaikan, melainkan sebagai bagian dari cara seseorang memproses kehilangan dan menemukan dirinya sendiri.

Prosa Murakami di sini terasa seperti musik yang diputar pelan di kamar yang sepi. Tidak ada plot yang bergerak cepat, tidak ada konflik yang meledak-ledak, hanya percakapan-percakapan yang jujur dan perasaan-perasaan yang dibiarkan ada tanpa terburu-buru. Bagi kamu yang sedang butuh bacaan yang tidak menuntut banyak energi tapi tetap memberi sesuatu untuk dirasakan, Norwegian Wood adalah pilihan yang tepat.

4. Siddhartha — Hermann Hesse

Buku Siddhartha
Buku Siddhartha (dok. Simon and Schuster/Siddhartha)

Siddhartha adalah kisah tentang seorang pemuda yang memutuskan untuk mencari jawabannya sendiri, bahkan ketika semua orang di sekitarnya sudah puas dengan jawaban yang sudah ada. Ia meninggalkan kenyamanan, menolak ajaran yang tidak benar-benar menyentuh sesuatu di dalam dirinya, dan memilih perjalanan panjang yang tidak ada jaminannya. Hesse menulisnya dengan bahasa yang tenang dan penuh kedalaman, tanpa terasa menggurui.

Buku ini relevan dibaca ketika kamu sedang lelah dengan ekspektasi orang lain dan mulai mempertanyakan apakah jalan yang sedang kamu tempuh memang benar-benar milikmu. Siddhartha tidak memberikan instruksi tentang cara hidup yang benar. Ia hanya memperlihatkan bahwa perjalanan menemukan diri sendiri adalah satu-satunya perjalanan yang tidak bisa diwakilkan oleh siapa pun, dan itu sesuatu yang jarang terasa semelegakan ini saat dibaca.

5. How to Be Alone — Sara Maitland

Buku How to Be Alone
Buku How to Be Alone (dok. Pan Macmillan /How to Be Alone)

Sara Maitland menulis buku ini setelah memilih untuk menjalani hidup dalam kesendirian yang ia anggap bukan pelarian, melainkan pilihan yang disadari penuh. Ia menelusuri sejarah panjang kesendirian dalam berbagai tradisi dan budaya, memperlihatkan bahwa keinginan untuk sendiri bukanlah kondisi yang perlu disembuhkan. Di dunia yang terus mendorong semua orang untuk terhubung, produktif, dan terlihat, buku ini hadir sebagai argumen yang tenang tapi kuat untuk hal yang berlawanan.

Maitland tidak menulis sebagai orang yang antisosial atau terluka. Ia menulis sebagai seseorang yang benar-benar menemukan sesuatu yang berharga dalam keheningan dan ingin berbagi cara untuk sampai ke sana. Buku ini cocok dibaca bukan hanya saat kamu muak sama orang lain, tapi juga saat kamu mulai bertanya-tanya apakah keinginan untuk sendiri itu sehat atau justru tanda ada yang salah. Jawabannya, menurut Maitland, jauh lebih melegakan daripada yang kamu kira.

Muak dengan semua orang bukan berarti kamu sedang rusak atau perlu diperbaiki. Kadang itu hanya tanda bahwa kamu butuh waktu untuk kembali ke diri sendiri sebelum bisa hadir sepenuhnya untuk orang lain. Rekomendasi buku yang cocok dibaca kalau kamu muak sama semua orang tidak akan menyuruhmu keluar dan bersosialisasi. Mereka akan menemanimu dengan diam, dan itu kadang jauh lebih berharga.g

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Related Articles

See More