Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Buku Feminisme Interseksional untuk Memperkaya Pengetahuan
rekomendasi buku feminisme interseksional (dok. Penguin/Women, Race & Class | dok. Marjin Kiri/Kodrat Alam)
  • Feminisme interseksional menekankan bahwa ketidaksetaraan dipengaruhi oleh irisan identitas, seperti ras, kelas, dan gender.

  • Lima buku yang direkomendasikan membahas isu feminisme dari berbagai perspektif, termasuk sejarah, lingkungan, arsitektur, teknologi, dan ilmu hewan.

  • Beberapa penulis juga mengkritik pandangan umum, seperti penyederhanaan penyebab kerusakan alam dan stereotip gender dalam sains.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Feminisme bukanlah satu konsep tunggal. Ia bersifat interseksional. Apa itu? Istilah tersebut diperkenalkan secara luas oleh Kimberlé Crenshaw pada 1989 lewat artikel ilmiah yang berjudul "Demarginalizing the Intersection of Race and Sex" terbitan University of Chicago Legal Forum. Inti dari argumennya ialah semua ketidaksetaraan itu bekerja beriringan. Itu sebabnya, feminisme bertautan erat dengan isu diskriminasi ras, gender, seksualitas, ketimpangan kelas, konservasi lingkungan, dan sebagainya. Ia tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang terpisah, sesuai dengan identitas manusia yang juga berlapis alias tidak tunggal.

Sebagai gambaran, perempuan tidak hanya punya gender sebagai satu identitas tunggal. Mereka juga punya ras, etnik, kewarganegaraan, pekerjaan, peran, hingga kelas sosial ekonomi yang memengaruhi hidup dan akses terhadap hak mereka. Ingin belajar lebih banyak soal feminisme interseksional? Silakan coba baca lima buku nonfiksi berikut.

1. Women, Race & Class (Angela Davis)

Women, Race & Class karya Angela Y Davis (dok. Penguin/Women, Race & Class)

Sebagai perkenalan, kamu bisa membaca bukunya Angela Davis yang berjudul Women, Race & Class. Di sini, Davis membahas banyak hal tentang tiga konsep tadi, terutama dalam lingkup Amerika Serikat yang punya sejarah perbudakan. Selama ini, pergerakan perempuan di sana didominasi narasi aktivis kulit putih sehingga kerap melupakan bagaimana budak-budak kulit hitam perempuan sebenarnya juga menginisiasi banyak perlawanan dan kesetaraan hak. Buku ini juga membahas berbagai kejahatan kemanusiaan yang menarget perempuan kulit berwarna dari kelas sosial-ekonomi bawah, seperti kekerasan seksual terhadap budak hingga sterilisasi paksa terhadap perempuan dari etnik minoritas.

2. Kodrat Alam: Gangguan Metabolik Perubahan Iklim (Vandana Shiva)

Kodrat Alam karya Vandana Shiva (dok. Marjin Kiri/Kodrat Alam)

Dikenal sebagai aktivis ekofeminis, bukunya Vandana Shiva yang satu ini berisi argumennya soal siapa yang bertanggung jawab atas berbagai kerusakan alam dahsyat di Bumi. Shiva tak setuju dengan teori anthropocene yang menyederhanakan penyebab kerusakan alam sebagai ulah manusia secara umum. Menurutnya, pihak paling bersalah dan harus diminta pertanggungjawaban adalah korporasi besar yang bekerja dengan prinsip kapitalis patriarki. Korporasi-korporasi ini memperlakukan Bumi layaknya mereka mereduksi perempuan sebagai objek yang bisa dieksploitasi untuk kepentingan mereka sendiri.

3. Making Space: Women and the Man Made Environment (Matrix)

Making Space: Women and the Man Made Environment karya Matrix (dok. Verso Books/Making Space: Women and the Man Made Environment)

Pernahkah kamu berpikir kalau ketidaksetaraan gender di ruang publik itu sebenarnya terpampang nyata? Lewat buku yang ditulis kolektif Matrix ini, kamu bakal tercerahkan. Memakai sudut pandang feminisme dan arsitektur, mereka membedah desain-desain bangunan dan fasilitas umum yang tidak bersahabat untuk perempuan. Itu semua seolah mereduksi peran perempuan sebagai pemegang tanggung jawab domestik sehingga tak perlu dipikirkan kepentingannya di ruang publik.

4. Cyborg Manifesto (Donna Haraway)

Cyborg Manifesto karya Donna Haraway (dok. University of Minnesota Press/Cyborg Manifesto)

Cyborg Manifesto merupakan esai panjang yang ditulis Donna Haraway untuk jurnal Socialist Review. Dalam tulisan ilmiah itu, Haraway berargumen soal interseksionalitas dan kaitannya dengan identitas manusia yang berlapis. Ia menolak dikotomi dan taksonomi yang tak perlu dan secara umum mengkritik konsep feminisme tradisional yang memberatkan narasi Barat dan perempuan kulit putih. Menariknya, ia memakai siborg (cyborg) sebagai analogi. Menurutnya, manusia sekarang susah dipisahkan dari teknologi dan sudah waktunya aktivis feminis pun menggunakan teknologi untuk menciptakan liberasi etis serta ideal yang diidam-idamkan itu.

5. Feminism in the Wild (Ambika Kamath, Melina Packer)

Feminism in the Wild karya Ambika Kamath dan Melina Packer (dok. MIT Press/Feminism in the Wild)

Sadarkah kamu kalau banyak sekali ilmu soal hewan dan alam liar yang dijelaskan dengan bias manusia? Lebih jauhnya, sering kali penjelasan itu berakar dari nilai-nilai patriarki, heteronormatif, sampai ableisme. Padahal, hewan liar punya sistem yang beragam dan ternyata amat cair. Asumsi bahwa pejantan agresif dan dominan, sementara betina pasif dan submisif dibantah. Dalam banyak kasus, betina justru dominan dan punya posisi penting dalam penentuan keputusan, termasuk memilih pasangan untuk keperluan reproduksi. Ini hanya sebagian. Ada banyak hal lain yang dikupas dua penulis ini lewat kacamata feminisme.

Semenarik itu, bukan? Feminisme bukan hanya soal gender, melainkan juga bisa dikupas dan dibedah lagi untuk menjelaskan berbagai fenomena keilmuan lain. Tertarik baca yang mana, nih?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎