Ketika mendengar kata bullying, banyak orang mungkin langsung membayangkan seseorang yang membentak, menghina, atau melontarkan kata-kata kasar kepada orang lain. Gambaran tersebut memang tidak salah, tetapi perundungan sebenarnya tidak selalu hadir dalam bentuk yang begitu jelas. Ada kalanya bullying justru muncul melalui perilaku yang terlihat sepele, seperti sengaja mengabaikan, mengucilkan, atau terus-menerus meremehkan seseorang. Karena bentuknya lebih halus, perilaku tersebut sering dianggap hanya sebagai candaan atau masalah hubungan biasa.
Padahal, perlakuan yang dilakukan berulang kali dapat membuat korban merasa tidak nyaman, tertekan, bahkan kehilangan rasa percaya diri. Di sekolah maupun di tempat kerja, bullying juga bisa terjadi tanpa adanya satu pun bentakan atau kata kasar. Seseorang bisa saja menjadi sasaran gosip, tidak dilibatkan dalam kelompok, atau dibuat merasa bahwa pendapatnya tidak pernah cukup baik. Lantas, mengapa bullying gak selalu berupa bentakan atau kata kasar maupun tindakan agresif yang terlihat jelas?
