Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Capek Jadi Orang yang Selalu Available? Ini Cara Menyudahinya
ilustrasi selalu available (pexels.com/MART PRODUCTION)

Mungkin niat awalnya kamu mau jadi teman yang baik dan suportif, tapi ujung-ujungnya malah jadi tempat pelarian teman pas mereka lagi butuh doang. Giliran kamu lagi repot atau butuh bantuan, jangankan dibantu, batang hidungnya pun sama sekali gak kelihatan. Kalau dibiarin terus-menerus, posisi sebagai orang yang selalu pasang badan cuma bakal bikin kamu makan hati sendirian sementara yang lain asyik dengan kesibukannya.

Kebiasaan selalu siap sedia dalam kondisi apa pun kalau dipelihara terlalu lama terbukti cuma menguras energi mental dan bikin diri sendiri kewalahan. Waktu serta tenaga yang kamu punya bakal habis buat ngurusin hidup orang lain sampai lupa dengan prioritas diri sendiri. Daripada capek jadi orang yang selalu available dan terus-menerus jadi korban kebaikanmu sendiri, terapkan tiga langkah berikut buat mulai pasang batas serta merawat kewarasanmu.

1. Belajar bilang gak tanpa harus merasa bersalah

ilustrasi berkata tidak (pexels.com/Yan Krukau)

Hal paling sulit bagi seseorang yang terbiasa available adalah mengucapkan kata "tidak" atau menolak permintaan orang lain. Kamu mungkin takut dibilang egois, gak solidaritas, atau mungkin takut hubungan jadi renggang kalau sekali saja menolak. Padahal, menolak ajakan atau permintaan yang di luar batas kapasitasmu bukanlah sebuah kejahatan, melainkan bentuk pertahanan diri yang sangat wajar dan itu merupakan hak kamu.

Mulai sekarang, latihlah dirimu untuk berani jujur pada kondisi diri sendiri sebelum mengiyakan sesuatu. Kamu tidak perlu memberikan alasan yang terlalu berbelit-belit saat ingin menolak, cukup katakan secara sopan bahwa kamu sedang tidak bisa. Orang yang benar-benar menghargaimu pasti akan mengerti batasan yang kamu buat, alih-alih ngambek atau malah memanfaatkan rasa gak enakan kamu.

2. Stop langsung gercep setiap kali orang lain butuh bantuan

ilustrasi gercep (pexels.com/Theo Decker)

Kebiasaan buruk lainnya dari orang yang selalu available adalah selalu bergerak cepat (gercep) seolah-olah hidupmu didedikasikan untuk melayani orang lain. Pas ada chat masuk, langsung dibalas detik itu juga, atau langsung mengiyakan ajakan tanpa memikirkan jadwal kamu sendiri. Padahal, respons yang terlalu instan ini justru membuat orang lain menganggap waktumu sama sekali gak berharga dan bisa mereka atur kapan saja.

Cobalah untuk memberi jeda waktu (delay response) sebelum merespons permintaan atau ajakan seseorang, terutama jika itu bukan hal yang mendesak. Gunakan waktu luangmu untuk fokus pada diri sendiri, hobi, atau istirahat yang cukup. Dengan tidak selalu merespons dengan kecepatan kilat, perlahan orang lain akan belajar untuk menghargai waktu dan kehadiranmu.

3. Alihkan energi dan perhatian penuh untuk diri sendiri

ilustrasi fokus kebahagiaan diri (pexels.com/Gabriela Cheloni)

Selama ini, energimu mungkin sudah habis terkuras untuk memikirkan validasi, masalah, dan kepentingan orang lain sampai lupa sama diri sendiri. Ini waktunya bagi kamu untuk melakukan detoks mental dengan mengalihkan fokus dan perhatian kembali kepadamu. Jadikan kebutuhanmu sebagai prioritas utama, bukan sekadar opsi cadangan setelah urusan orang lain beres.

Ketika kamu mulai sibuk mengembangkan diri, mengejar mimpi, dan mencintai diri sendiri, kamu sama sekali gak akan punya waktu lagi untuk merasa galau atau kepikiran omongan orang yang menyepelekanmu. Orang-orang di luar sana juga akan melihat perubahan auramu, bahwa kamu adalah sosok mandiri yang punya standar dan batasan tegas dalam berteman. Pada akhirnya, lingkungan pertemanan yang sehat akan datang dengan sendirinya saat kamu berani menghargai dirimu sendiri terlebih dahulu.

Capek jadi orang yang selalu available dan ingin berhenti melakukannya memang butuh proses serta latihan mental yang gak instan. Ini dikarenakan kamu harus melawan rasa gak enak hati. Tapi ingat, memprioritaskan diri sendiri bukanlah tindakan egois, melainkan cara agar kamu tidak terus-terusan menjadi korban kebaikanmu sendiri. Yuk, mulai belajar berkata cukup dan sayangi dirimu lebih dari siapa pun!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article