ilustrasi ibu membacakan cerita untuk anak sebelum tidur (pexels.com/Artem Podrez)
Mbok Sirni adalah seorang janda yang menginginkan seorang anak agar dapat membantunya bekerja. Suatu hari, ia didatangi oleh raksasa yang ingin memberi seorang anak dengan suatu syarat. Apabila anak itu berusia enam tahun, maka ia harus diserahkan ke raksasa itu untuk disantap.
Mbok Sirni pun setuju. Raksasa memberinya biji mentimun agar ditanam dan dirawat. Setelah dua minggu, di antara buah ketimun yang ditanamnya, ada satu yang paling besar dan berkilau seperti emas.
Kemudian Mbok Sirni membelah buah itu dengan hati-hati. Ternyata, isinya seorang bayi cantik yang diberi nama Timun Emas. Semakin hari, Timun Emas tumbuh menjadi gadis jelita.
Suatu hari, datanglah raksasa untuk menagih janji. Mbok Sirni amat takut kehilangan Timun Emas. Ia pun mengulur janji agar raksasa datang 2 tahun lagi dengan iming-iming semakin dewasa, semakin enak Timun Emas untuk disantap. Raksasa pun setuju.
Mbok Sirni semakin sayang pada Timun Emas. Setiap kali ia teringat akan janjinya, hatinya menjadi cemas dan sedih. Suatu malam, Mbok Sirni bermimpi, agar anaknya selamat, ia harus menemui petapa di Gunung Gundul. Akhirnya, ia pergi di pagi hari.
Di Gunung Gundul, ia bertemu seorang petapa yang memberinya 4 buah bungkusan kecil, yaitu biji mentimun, jarum, garam, dan terasi sebagai penangkal. Sesampainya di rumah, diberikannya 4 bungkusan tadi kepada Timun Emas. Disuruhnya Timun Emas berdoa.
Pagi hari datang, raksasa datang lagi untuk menagih janji. Timun Emas disuruh keluar lewat pintu belakang oleh Mbok Sirni dan raksasa pun mengejarnya. Timun Emas teringat akan bungkusannya, maka ditebarnya biji mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya.
Raksasa memakannya, tetapi buah timun tersebut malah menambah tenaga si raksasa. Kemudian, Timun Emas menaburkan jarum sampai sekejap tumbuhlah pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam. Dengan kaki yang berdarah-darah, raksasa terus mengejar. Lantas, Timun Emas membuka bingkisan yang berisi garam dan ditaburkannya.
Seketika hutan pun menjadi lautan luas. Dengan kesaktiannya, raksasa dapat melewati. Setelahnya, Timun Emas kemudian menaburkan terasi, seketika terbentuklah lautan lumpur yang mendidih dan raksasa pun mati. Akhirnya, Timun Mas dan Mbok Sirni hidup bahagia dengan damai.
Pesan moral dari cerita legenda ini adalah setiap perbuatan jahat akan mendapat balasan dan ganjaran di kemudian hari. Jadi, jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari.