ilustrasi seorang muslim yang sedang berdoa (pexels.com/Sigit Prismono)
Pandangan Generasi Milenial dan Generasi Z yang spesifik terkait ibadah haji membuat makna haji bergeser gak sekadar budaya penghormatan, tetapi juga beban sosial dan moral. Gen Z dan Milenial melihat bahwa menyandang gelar ini di era modern adalah bentuk tanggung jawab yang gak sederhana. Tekanan ini muncul salah satunya karena masyarakat telah memasang standar kesalehan individu yang tinggi terhadap mereka yang sudah berhaji.
Dilansir laman Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah, sebagian masyarakat merasa ada beban psikologis untuk melaksanakan ibadah haji, terutama di kalangan anak muda. Hal ini karena mereka takut dengan ukuran kemabruran yang dilihat dari sisi formalitas ibadah.
Karena itulah, Generasi Z memandang bahwa haji bukan sekadar status atau validasi formal, melainkan tentang bagaimana esensi nilai-nilai spiritual itu bisa diterapkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Selama mereka mampu memahami substansi dan esensinya, mereka berhasil menunaikan ibadah haji. Namun, selama pola pikir mereka masih berada dalam pembuktian status sosial dan gengsi, esensi ibadah haji itu akan luntur.
Selain itu, keadaan ekonomi juga jadi salah satu faktor yang membuat anak muda bersikap realistis untuk menunaikan ibadah haji. Banyak Gen Z dan Milenial berperan sebagai sandwich generation. Di tengah tren haji muda, mereka dihadapkan oleh realitas kondisi perekonomian yang gak pasti. Maka, memaksakan diri mengalokasikan dana demi mengejar antrean haji hanya untuk sekadar memenuhi gengsi dirasa kurang bijak.
Jelasnya, gelar haji di mata anak muda itu bukan sekadar penghormatan saja, ya, tapi juga bernilai luhur. Gelar haji pun akan otomatis jadi beban sosial selama dijadikan alat untuk menuntut kesempurnaan moral seseorang.
Melalui pergeseran cara pandang ini, anak muda sebenarnya sedang berusaha mengembalikan esensi dari ibadah haji itu sendiri. Bagi mereka yang memahami esensinya, kesalehan seseorang itu gak dinilai dari gelar haji yang disematkan di depan nama. Sebab, kemabruran itu ada ketika seseorang berhasil menjadi pribadi yang lebih humanis dan berdampak positif bagi sekitarnya.