Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dari Kebanggaan Jadi Tekanan, Gelar Haji Picu Dilema Generasi Muda
ilustrasi orang berhaji (pexels.com/Fahad Puthawala)
  • Penyematan gelar haji di Indonesia berawal dari masa kerajaan hingga kolonial Belanda, awalnya sebagai simbol kehormatan lalu berkembang jadi alat pengawasan terhadap jemaah dari Hindia Belanda.
  • Tiap generasi punya makna berbeda soal ibadah haji: Baby Boomer meneguhkan identitas, Milenial mencari aktualisasi diri, sementara Gen Z fokus pada nilai spiritual dan makna sosialnya.
  • Bagi anak muda, gelar haji kini bukan sekadar status sosial tapi juga beban moral dan finansial; mereka ingin mengembalikan esensi haji sebagai perjalanan spiritual yang berdampak nyata.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Naik haji di Indonesia jadi momen yang penting. Naik haji gak sekadar menunaikan rukun Islam yang kelima, tapi juga pencapaian spiritual sekaligus validasi sosial. Kenapa dikatakan demikian? Sebab, begitu seseorang kembali dari tanah suci, sebuah gelar kehormatan pun otomatis melekat dalam diri, terpampang di depan namanya, yaitu Haji atau Hajjah.

Nah, bagi Gen Z dan generasi muda, apakah tradisi penyematan nama ini merupakan bentuk penghormatan, atau justru berubah menjadi beban sosial baru yang diemban?

1. Penyematan gelar haji hanya ada di Indonesia dan sejumlah negara di Asia Tenggara

ilustrasi orang melaksanakan ibadah haji (pexels.com/Muhammad Khawar Nazir)

Fakta menariknya adalah penyematan gelar haji itu gak berlaku di semua negara di dunia, melainkan hanya ada di beberapa negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di Indonesia, pemberian gelar haji untuk laki-laki dan hajjah untuk perempuan sudah terjadi sejak zaman dulu.

Sejak era kerajaan Islam di Nusantara, naik haji sudah jadi pencapaian yang luar biasa. Bayangkan saja, di masa itu, perjalanan ke Mekah harus ditempuh berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun melalui jalur laut yang penuh risiko. Maka, mereka yang berhasil pulang dari tanah suci dianggap bak pahlawan. Cerita perjalanan mereka menjadi inspirasi sehingga gelar haji itu bergengsi dan punya nilai tinggi di masyarakat.

Kemudian, melansir laman Badan Pengelola Keuangan Haji, penyematan gelar haji mulai punya fungsi tambahan di masa kolonial Belanda. Kekhawatiran pemerintah Hindia Belanda kala itu turut serta melahirkan tradisi ini. Mereka khawatir sepulang dari tanah suci, para jemaah membawa ideologi antikolonial yang bisa memicu perlawanan.

Maka dari itu, di tahun 1872, pemerintah kolonial Belanda mendirikan Konsulat Jenderal di Arab Saudi. Tujuannya untuk mencatat pergerakan jemaah dari Hindia Belanda dan menuntut mereka menggunakan atribut tertentu, termasuk gelar haji ini untuk mempermudah pengawasan penjajah.

2. Sudut pandang tiga generasi terhadap ibadah haji

ilustrasi orang melaksanakan ibadah haji (pexels.com/Muhammad Khawar Nazir)

Bagaimana tiap-tiap generasi memandang dan memaknai ibadah haji? Setiap generasi nyatanya punya pandangan yang berbeda terkait ibadah haji ini. Dilansir laman Kementerian Agama, berikut pandangan tiap tiga generasi.

  • Bagi Generasi Baby Boomer, ibadah haji dipandang sebagai puncak ibadah sekaligus peneguh identitas. Tradisi penyematan gelar haji menjadi bagian dari peneguhan identitas yang memunculkan privilese sosial tersendiri. Pelaksanaan ibadah haji yang dilakukan generasi ini umumnya terjadi ketika mereka telah mapan secara ekonomi dan matang secara usia.

  • Berbeda dengan Generasi Baby Boomer, Generasi Milenial punya motivasi melaksanakan ibadah haji yang bervariasi. Mereka berhaji karena dorongan spiritual, keinginan pencapaian diri, eksistensi, dan bentuk aktualisasi. Milenial juga cenderung ingin naik haji di usia muda. Untuk merealisasikannya, mereka melakukan berbagai cara, seperti menabung hingga berinvestasi.

  • Sementara itu, Generasi Z memandang haji sebagai perjalanan spiritual yang relatable dan meaningful. Ini berarti, alih-alih sekadar menggugurkan rukun Islam yang kelima, mereka justru lebih tertarik untuk menggali pemahaman mendalam terhadap nilai sejarah ibadah haji dan dampak sosial yang nyata dari ibadah itu. Media sosial menjadi sumber inspirasi serta informasi utama bagi Generasi Z, sekaligus medium dalam mencari makna.

3. Ibadah haji bagi anak muda merupakan beban sosial dan moral di samping finansial

ilustrasi seorang muslim yang sedang berdoa (pexels.com/Sigit Prismono)

Pandangan Generasi Milenial dan Generasi Z yang spesifik terkait ibadah haji membuat makna haji bergeser gak sekadar budaya penghormatan, tetapi juga beban sosial dan moral. Gen Z dan Milenial melihat bahwa menyandang gelar ini di era modern adalah bentuk tanggung jawab yang gak sederhana. Tekanan ini muncul salah satunya karena masyarakat telah memasang standar kesalehan individu yang tinggi terhadap mereka yang sudah berhaji.

Dilansir laman Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah, sebagian masyarakat merasa ada beban psikologis untuk melaksanakan ibadah haji, terutama di kalangan anak muda. Hal ini karena mereka takut dengan ukuran kemabruran yang dilihat dari sisi formalitas ibadah.

Karena itulah, Generasi Z memandang bahwa haji bukan sekadar status atau validasi formal, melainkan tentang bagaimana esensi nilai-nilai spiritual itu bisa diterapkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Selama mereka mampu memahami substansi dan esensinya, mereka berhasil menunaikan ibadah haji. Namun, selama pola pikir mereka masih berada dalam pembuktian status sosial dan gengsi, esensi ibadah haji itu akan luntur.

Selain itu, keadaan ekonomi juga jadi salah satu faktor yang membuat anak muda bersikap realistis untuk menunaikan ibadah haji. Banyak Gen Z dan Milenial berperan sebagai sandwich generation. Di tengah tren haji muda, mereka dihadapkan oleh realitas kondisi perekonomian yang gak pasti. Maka, memaksakan diri mengalokasikan dana demi mengejar antrean haji hanya untuk sekadar memenuhi gengsi dirasa kurang bijak.

Jelasnya, gelar haji di mata anak muda itu bukan sekadar penghormatan saja, ya, tapi juga bernilai luhur. Gelar haji pun akan otomatis jadi beban sosial selama dijadikan alat untuk menuntut kesempurnaan moral seseorang.

Melalui pergeseran cara pandang ini, anak muda sebenarnya sedang berusaha mengembalikan esensi dari ibadah haji itu sendiri. Bagi mereka yang memahami esensinya, kesalehan seseorang itu gak dinilai dari gelar haji yang disematkan di depan nama. Sebab, kemabruran itu ada ketika seseorang berhasil menjadi pribadi yang lebih humanis dan berdampak positif bagi sekitarnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Topics

Editorial Team

Related Article