Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dibentak Orang Lain? Ini Cara Menghadapinya Menurut Psikolog
ilustrasi sedang bertengkar (pexels.com/liza-summer)

Berhadapan dengan orang yang membentak bisa membuatmu terkejut, marah, hingga sulit berpikir jernih. Dalam situasi seperti ini, kamu mungkin ingin membalas perkataannya atau buru-buru meminta maaf agar pertengkaran segera berakhir. Namun, ada cara yang lebih tepat untuk menghadapi konflik tanpa memperkeruh keadaan atau mengabaikan batasan diri.

Kamu bisa memulainya dengan mengendalikan respons sendiri, memahami penyebab kemarahan orang lain, dan tetap tegas menjaga batasan. Jika percakapan gak lagi berjalan dengan baik, kamu juga berhak mengambil jeda atau menjauh demi keamanan. Yuk, simak cara menghadapi orang yang membentakmu berikut ini!

1. Tenangkan diri sebelum merespons

ilustrasi duduk menyendiri (pexels.com/129684048)

Saat dibentak, wajar jika kamu merasa marah, takut, atau ingin membalas. Namun, bereaksi spontan justru bisa membuat situasi semakin panas dan menyulitkanmu berpikir jernih. Karena itu, tarik napas perlahan dan beri dirimu waktu untuk menenangkan diri sebelum menjawab.

Dikutip dari TIME, Dr. Lokesh Shahani, profesor madya di Departemen Psikiatri dan Ilmu Perilaku UTHealth Houston, menjelaskan bahwa orang yang sedang marah biasanya kesulitan berpikir jernih dan mendengarkan. Itulah sebabnya, menyuruhnya langsung tenang atau buru-buru membela diri belum tentu membantu. Kendalikan responsmu terlebih dahulu agar kamu bisa menghadapi situasi dengan lebih bijak.

“Ketika orang sedang marah, mereka tidak berpikir dengan jernih. Mereka tidak bisa mendengarkanmu,” ujar Dr. Lokesh Shahani.

2. Dengarkan keluhannya tanpa langsung membela diri

ilustrasi bertengkar (pexels.com/liza-summer)

Setelah emosimu lebih terkendali, cobalah memahami apa yang membuat orang tersebut marah. Keinginan untuk membantah tuduhan yang terasa gak adil memang wajar, tetapi menyela pembicaraan bisa memperbesar konflik. Selama situasinya aman, beri dia kesempatan untuk menjelaskan keluhannya sebelum kamu menyampaikan pendapat.

Moshe Cohen, pakar penyelesaian konflik di Boston, dikutip dari TIME, menyarankan agar kamu mengajukan pertanyaan terbuka dan mendengarkan jawabannya dengan saksama. Kamu bisa mengatakan, “Bantu aku memahami apa yang terjadi dari sudut pandangmu,” untuk menunjukkan bahwa kamu bersedia mendengarkan tanpa harus langsung menyetujui semua perkataannya. Menurut Cohen, mendengarkan dan mengakui perasaan seseorang dapat membantu meredakan kemarahan.

“Tidak ada yang lebih efektif untuk meredakan kemarahan selain mendengarkan dan memvalidasi perasaan seseorang,” ujar Moshe Cohen.

3. Pahami perasaannya tanpa membenarkan bentakan

ilustrasi bertengkar (pexels.com/veraarsic)

Mendengarkan keluhan juga membantumu melihat bahwa kemarahan terkadang bukan satu-satunya emosi yang dirasakan seseorang. Menurut Arela Agako, psikolog klinis di Toronto, dikutip dari TIME, kemarahan yang meledak-ledak bisa menyembunyikan emosi lain, seperti ketakutan, rasa malu, atau kesedihan. Memahami kemungkinan penyebab tersebut bisa membantumu merespons dengan lebih empatik tanpa menganggap bentakan sebagai hal yang wajar.

Kamu tetap bisa mengakui perasaannya tanpa menyetujui cara dia memperlakukanmu. Sikap ini menunjukkan bahwa kamu bersedia memahami masalah yang dihadapinya, tetapi tetap mengharapkan komunikasi yang saling menghormati. Dengan begitu, pembicaraan punya peluang lebih besar untuk berlanjut tanpa saling menyakiti.

4. Tetapkan batasan dengan tegas dan sopan

ilustrasi duduk berjauhan (pexels.com/cottonbro)

Meski sudah berusaha memahami perasaannya, kamu gak harus menerima bentakan atau perlakuan yang merendahkan. Sampaikan dengan jelas bahwa kamu bersedia membicarakan masalah, tetapi ingin melakukannya tanpa saling membentak. Hindari menyerang pribadinya agar pesan yang kamu sampaikan tetap berfokus pada perilaku yang perlu dihentikan.

Dr. Lokesh Shahani menyarankan pendekatan yang menegaskan batasan tanpa membuat orang lain merasa diserang. Kamu bisa mengatakan, “Aku bersedia berbicara, tetapi bukan jika kita saling membentak.” Kalimat ini menunjukkan bahwa kamu tetap terbuka untuk mencari solusi, sekaligus menegaskan bahwa komunikasi perlu berlangsung dengan saling menghormati.

5. Akui kesalahan yang memang kamu lakukan

ilustrasi berpegangan tangan (pexels.com/shvetsproduction)

Dalam konflik, gak semua keluhan orang lain harus kamu terima, tetapi kesalahan yang memang kamu lakukan tetap perlu diakui. Rod Mitchell, psikolog di Calgary, Kanada, yang berspesialisasi dalam pengelolaan amarah, dikutip dari TIME, menjelaskan teknik disarming, yaitu mencari dan mengakui bagian yang benar dari perkataan orang lain. Pendekatan ini dapat membantu mengurangi sikap defensif sehingga pembicaraan gak hanya berisi saling menyalahkan.

“Kemarahan sering kali merupakan emosi defensif. Menemukan cara untuk menyetujui orang lain benar-benar bisa membuat mereka terkejut,” ujar Rod Mitchell.

Mengakui kesalahan bukan berarti kamu harus menerima semua tuduhan atau membiarkan diri dibentak. Mintalah maaf dengan tulus atas tindakan yang menjadi tanggung jawabmu, lalu jelaskan keadaan yang relevan jika diperlukan. Dengan begitu, kamu bisa bertanggung jawab tanpa membenarkan perilaku agresif orang lain.

6. Ambil jeda jika pembicaraan gak lagi produktif

ilustrasi couple berbicara hal yang serius (pexels.com/rdne)

Meski kedua pihak sudah berusaha saling memahami, masalah belum tentu bisa diselesaikan ketika emosi masih memuncak. Memaksakan percakapan dalam kondisi seperti ini justru berisiko membuat kalian terus berdebat tanpa menemukan jalan keluar. Jika pembicaraan mulai berputar-putar, sepakati untuk berhenti sejenak dan melanjutkannya setelah lebih tenang.

Moshe Cohen menyarankan agar kamu gak terburu-buru menawarkan solusi sebelum orang lain selesai mengungkapkan kekesalannya. Beri waktu bagi kedua pihak untuk menenangkan diri dan menyusun pikiran sebelum kembali membahas masalah. Jeda ini bukan berarti menghindari tanggung jawab, melainkan memberi kesempatan agar percakapan selanjutnya lebih terarah.

7. Menjauhlah jika merasa gak aman

ilustrasi mengekspresikan kecemasan (pexels.com/alexgreen)

Ada kalanya seseorang tetap membentak, menghina, atau mengintimidasi meski kamu sudah berusaha berkomunikasi dengan baik. Dalam situasi seperti ini, kamu gak perlu terus bertahan hanya demi menyelesaikan masalah saat itu juga. Utamakan keselamatan dengan meninggalkan tempat tersebut, mengakhiri panggilan, atau meminta bantuan orang yang kamu percaya.

Moshe Cohen menekankan pentingnya menjaga keselamatan fisik dan emosional ketika menghadapi konflik. Jika orang tersebut terus bersikap agresif, kamu boleh mengakhiri percakapan dan mengambil jarak tanpa harus menunggu persetujuannya. Apabila ada ancaman kekerasan, segera cari bantuan dari pihak yang bisa melindungimu atau hubungi layanan darurat setempat.

Menghadapi orang yang membentak bukan berarti kamu harus selalu mengalah atau berhasil meredakan emosinya. Kamu bisa berusaha memahami, menyampaikan batasan, dan memilih menjauh ketika situasi gak lagi aman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article