Di tengah persaingan konten yang semakin ketat, menarik perhatian audiens adalah tantangan bagi para pemasar digital. Setiap hari, ribuan konten bersaing untuk mendapatkan klik, komentar, dan jumlah tayangan sebanyak mungkin. Gak heran jika judul sensasional, iklan provokatif, hingga strategi pemasaran yang memancing emosi semakin sering ditemukan di media sosial.
Selama mampu mendatangkan engagement, berbagai cara promosi terkadang dianggap layak untuk dicoba. Namun, mengejar perhatian audiens bukan berarti semua strategi pemasaran bisa dibenarkan. Di balik angka engagement yang tinggi, ada persoalan etika yang perlu diperhatikan. Lantas, seperti apa dilema etika dalam dunia pemasaran digital yang serba mengejar sensasi, dan mengapa hal ini penting untuk dipahami?
