“Kami di Muaradaya melihat tenun itu sebagai pengetahuan yang menumbuh. Pengetahuan yang agak sulit sedikit sulit apabila harus dijabarkan, tapi menyangkut apa yang diketahui oleh tubuh kita atau yang melekat pada diri kita. Dengan identitas tersebut, mereka bisa tahu dari jauh, dia dari marga apa, dari desa mana, hanya melihat dari motif tenunnya,” ungkap Gabriella.
Dari Tradisi ke Inovasi, Perempuan Molo Berdaya Lewat Tenun

Jakarta, IDN Times – Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya, mulai dari bahasa, makanan, suku, hingga wastra. Salah satu wastra khas Indonesia yang memiliki keunikan tersendiri adalah kain tenun. Setiap motif kain tenun memiliki ciri khas dan makna yang berbeda karena dibuat berdasarkan budaya daerah asalnya. Hal ini menjadikan kain tenun bukan sekadar produk budaya, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat yang perlu dijaga dan dilestarikan.
Tenun bukan hanya kain dengan motif yang unik, melainkan juga menyimpan nilai budaya yang terkandung dalam setiap bentuknya. Hal ini sejalan dengan pandangan Gabriella Manurung, Founder sekaligus Designer Khara Contemporary Craft Studio, yang memandang kain tenun bukan sekadar produk fisik, melainkan pengetahuan turun-temurun yang melekat pada identitas masyarakat, mulai dari marga, desa, hingga alam sekitar. Begitu pula dengan kain tenun dari Molo yang menyimpan cerita dan sejarah serta memiliki potensi untuk dilestarikan dan diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Gabriella dalam forum World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 yang diselenggarakan di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Jumat (23/10/2026). Dalam forum bertajuk “Weaving Futures: Making Space for Women to Create” tersebut, Gabriella hadir bersama Yuke Sri Rahayu, Deputy of Cultural and Design Creativity, Ministry of Creative Economy of the Republic of Indonesia, serta Dinanti Bella Shafira, EIGER Women Project Leader. Melalui forum ini, WCCE 2026 berupaya menunjukkan bagaimana kain tenun yang dibuat oleh para perempuan di Molo dapat menjadi sarana untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif sekaligus pemberdayaan perempuan secara berkelanjutan. Berikut penjelasannya.
1. Tenun bukan sekadar pengetahuan, tapi identitas yang melekat

World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 yang diselenggarakan di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Jumat (23/10/2026). Dalam forum bertajuk “Weaving Futures: Making Space for Women to Create” (IDN Times/Fadila N. Aziziyah) Di Molo, tenun tidak hanya dipandang sebagai kerajinan tangan, tetapi juga sebagai pengetahuan yang tumbuh dan melekat pada identitas serta asal-usul masyarakatnya. Tenun khas Molo dibuat bukan semata-mata dengan mempertimbangkan nilai estetika, melainkan juga cerita dan filosofi di balik setiap motifnya. Masyarakat Molo menghargai warisan leluhur yang telah membentuk budaya dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Hal ini menjadikan tenun sebagai salah satu wujud identitas budaya yang kuat bagi masyarakat setempat.
Identitas yang berakar pada marga, desa, dan alam sekitar juga tercermin melalui motif kain tenun yang dikenakan. Gabriella menjelaskan bahwa para perempuan penenun di Molo bahkan mampu mengenali asal marga atau desa seseorang hanya dengan melihat motif tenunnya. Hal ini menunjukkan bahwa kain tenun memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar pakaian karena turut menjadi penanda identitas masyarakat Molo.
2. Mendorong perempuan penenun menjadi pencipta (creator), bukan sekadar pewaris

World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 yang diselenggarakan di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Jumat (23/10/2026). Dalam forum bertajuk “Weaving Futures: Making Space for Women to Create” (IDN Times/Fadila N. Aziziyah) Selama ini, mama-mama penenun di Molo menjalankan tradisi membuat kain tenun secara turun-temurun dengan menggunakan motif khas daerah mereka. Penggunaan motif warisan leluhur menjadi salah satu cara untuk menjaga budaya dan identitas agar tetap lestari. Namun, melalui kolaborasi yang dilakukan, mereka juga diberikan ruang dan kesempatan untuk berinovasi dengan menciptakan motif-motif tenun baru tanpa meninggalkan nilai budaya yang selama ini dipertahankan.
Kesempatan untuk berkreasi ini menunjukkan bahwa mama-mama penenun bukan sekadar pelestari atau pewaris tradisi, tetapi juga pencipta (creator) yang memiliki gagasan dan pemahaman budaya yang luas. Gabriella bersama Kementerian Ekonomi Kreatif berupaya mendorong para penenun untuk mengembangkan kreativitas melalui motif baru yang tetap mengangkat identitas budaya mereka agar dapat dikenal oleh masyarakat luas.
“Selama ini, mungkin penenun atau mama-mama khususnya itu adalah mereka kelompok penenun yang melakukan tenun secara berulang atau tradisi turun-temurun. Tetapi, dengan potensi yang mereka miliki, kami mencoba memberikan kepada mereka kesempatan untuk melakukan inovasi dengan membuat kreasi, yang awalnya mereka penenun secara berulang-ulang menjadi seorang kreator sebetulnya," kata Yuke.
3. Kolaborasi bersama brand untuk menjangkau pasar yang lebih luas

World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 yang diselenggarakan di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Jumat (23/10/2026). Dalam forum bertajuk “Weaving Futures: Making Space for Women to Create” (IDN Times/Fadila N. Aziziyah) Semangat mama-mama penenun di Molo dalam berinovasi membawa karya mereka berkolaborasi dengan brand EIGER. Kolaborasi ini bertujuan memadukan keunikan kain tenun tradisional dengan kebutuhan produk modern yang fungsional. Dalam koleksi kolaborasi tersebut, EIGER menggunakan lini produk daily wear, seperti sling bag, backpack, dan vest, yang dilengkapi aksen kain tenun.
Melalui kolaborasi ini, EIGER ingin menunjukkan bahwa inovasi perempuan melalui karya tenun dengan motif baru dapat dikenal dan diapresiasi oleh masyarakat luas. Selain itu, kolaborasi ini juga mendorong perubahan pandangan terhadap mama-mama penenun. Mereka tidak lagi hanya dipandang sebagai pelestari budaya, tetapi juga sebagai pekerja ekonomi kreatif profesional yang karyanya memiliki nilai ekonomi dan haknya perlu dilindungi.
“Melalui kolaborasi EIGER bersama dengan mama-mama penenun, kami ingin memberikan pandangan baru tentang orang-orang yang melihat mama-mama penenun sebagai pelestari budaya. Namun sekarang, mereka perlu dilihat sebagai pekerja, pekerja ekonomi kreatif yang haknya juga perlu dijamin oleh negara,” ucap Dinanti saat ditanyai mengenai kolaborasi bersama mama-mama penenun di Molo.
4. Memberikan perlindungan hukum melalui hak cipta dan royalti

World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 yang diselenggarakan di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Jumat (23/10/2026). Dalam forum bertajuk “Weaving Futures: Making Space for Women to Create” (IDN Times/Fadila N. Aziziyah) Menurut Yuke, kolaborasi strategis ini juga menjadi langkah untuk mendorong perlindungan hukum bagi karya para perempuan penenun. Pemerintah melalui kementerian terkait berkomitmen untuk memberikan perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI) terhadap karya-karya tersebut. Dengan demikian, pihak yang ingin menggunakan atau menggandakan karya para penenun perlu memperoleh izin dan memberikan royalti sesuai ketentuan yang berlaku.
Perlindungan ini menjadi bentuk apresiasi terhadap mama-mama penenun yang turut berkontribusi dalam mengembangkan ekonomi kreatif melalui karya mereka. Setiap karya yang memiliki hak perlindungan dapat memberikan nilai ekonomi bagi penciptanya, termasuk melalui pengaturan izin penggunaan oleh pihak lain.
“Kami juga berencana untuk melakukan kolaborasi dengan Kementerian Hukum Republik Indonesia terkait hak cipta dari mama-mama itu sendiri. Dan nantinya ketika desainer atau siapapun yang akan menduplikasi, menggunakan karya kreatif dari mama-mama harus mendapatkan izin bahkan memberikan royalti kepada mama-mama ini. Dan ini menjadi sumber nilai ekonomi baru buat mama-mama penenun,” tambah Yuke.
Kain tenun bukan sekadar kekayaan budaya yang dimiliki berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga memiliki potensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan pemberdayaan perempuan. Melalui kesempatan untuk berinovasi, mama-mama penenun di Molo dapat mengembangkan kreativitas sekaligus memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat luas. Dengan demikian, perempuan tidak hanya dipandang sebagai pelestari budaya, tetapi juga sebagai pencipta karya yang memiliki nilai ekonomi dan layak mendapatkan pengakuan.
















![[QUIZ] Dari Karakter Upin Ipin, Ini Cara Kamu Lari dari Masalah](https://image.idntimes.com/post/20260608/mengapa-sebagian-perjuangan-tidak-pernah-diceritakan-konsumsi-publik_cd027948-9919-4c9d-aa0a-a09fd3ac36f6.jpeg)



![[QUIZ] Pilih Karakter SpongeBob, Ini Ambisi Kamu yang Selama Ini Dipendam](https://image.idntimes.com/post/20260302/bagaimana-jika-setan-bukan-makhluk-ghaib-merupakan-sifat-kita-sendiri-ambisi_f02476f5-4f51-4783-9712-db5e107f854e.jpeg)
![[QUIZ] Dari Permainan Favorit Masha, Terungkap Sisi Dirimu yang Jarang Disadari](https://image.idntimes.com/post/20261005/12_5718b20d-3754-4882-a427-f7defe01563b.jpg)

