Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Tanda Kamu Lebih Suka Beli Buku daripada Membacanya

4 min read
5 Tanda Kamu Lebih Suka Beli Buku daripada Membacanya
ilustrasi membawa buku (pexels.com/Karola G)
  • Konsumerisme dalam hobi membaca terlihat ketika kepuasan membeli buku lebih besar daripada membacanya, sehingga banyak koleksi hanya menjadi pajangan.
  • FOMO tren media sosial, dorongan estetika, dan pencarian pengakuan sosial dapat membuat pembelian buku tidak lagi didasarkan pada minat terhadap isi.
  • Pengeluaran dapat dikendalikan dengan memilih buku yang benar-benar ingin dibaca, memanfaatkan perpustakaan atau tukar buku, serta menetapkan anggaran pembelian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Punya rak buku yang penuh sampai gak ada ruang kosong memang bisa memberikan kepuasan tersendiri. Apalagi kalau setiap buku memiliki sampul cantik, edisi khusus, atau menjadi incaran banyak orang. Rasanya menyenangkan ketika berhasil mendapatkan buku yang sudah lama masuk wishlist, dapat diskon di toko buku, atau membawa pulang beberapa judul sekaligus sehabis gajian.

Namun, pernahkah kamu menyadari bahwa buku-buku tersebut justru lebih sering berakhir sebagai pajangan daripada benar-benar dibaca? Fenomena ini bisa menjadi salah satu bentuk konsumerisme berkedok hobi membaca. Hobi yang awalnya bertujuan memperkaya pengetahuan justru perlahan berubah menjadi aktivitas konsumtif yang sulit dikendalikan. Kenali lima tandanya sebagai berikut!

  1. 1. Merasa puas setelah beli buku, tapi gak benar-benar dibaca

    Toko buku
    ilustrasi toko buku (pexels.com/ freestocks)

    Salah satu tanda konsumerisme adalah ketika kepuasan terbesar justru muncul saat berhasil membeli buku, bukan ketika menikmati isinya. Kamu merasa senang setelah mendapatkan novel terbaru dari penulis favorit, tapi antusiasme itu perlahan menghilang begitu buku kamu dapatkan. Buku tersebut kemudian bersanding di rak dengan belasan judul lain yang juga belum selesai dibaca.

    Ketika melihat rekomendasi buku baru, kamu kembali tertarik untuk membelinya dengan alasan ingin menambah koleksi atau takut kehabisan stok. Pola ini berkaitan dengan kepuasan sesaat yang muncul dari aktivitas berbelanja. Proses mencari, memilih, membayar, hingga membuka paket buku bisa memberikan sensasi menyenangkan. Pada akhirnya, kamu memiliki puluhan buku, tapi tak banyak yang benar-benar selesai dibaca.

  2. 2. FOMO buku yang sedang viral di media sosial

    Membaca buku
    ilustrasi membaca buku (pexels.com/cottonbro)

    Media sosial turut memengaruhi cara seseorang memilih dan membeli buku. Konten rekomendasi bacaan, ulasan singkat, video rak buku estetik, dapat membuat judul tertentu mendadak populer. Ketika sebuah buku ramai dibicarakan, kamu mungkin merasa perlu ikut membelinya agar tidak ketinggalan percakapan. Apalagi jika banyak kreator konten membagikan kutipan menarik atau menyebut buku tersebut sebagai bacaan wajib.

    Perasaan takut tertinggal tren ini dikenal sebagai fear of missing out atau FOMO. Tentu saja ini bisa membuatmu membeli buku bukan karena tertarik dengan isinya. Misalnya, kamu membeli novel yang sedang viral karena banyak yang membicarakannya. Namun, setelah membaca beberapa halaman, ternyata tema dan gaya penulisannya gak sesuai dengan seleramu. Buku tersebut akhirnya dibiarkan begitu saja karena kamu tak tertarik membacanya.

  3. 3. Mengoleksi buku demi estetika dan pengakuan sosial

    Rak buku
    ilustrasi rak buku (pexels.com/Tiana)

    Rak buku yang tertata rapi, sampul dengan warna senada, serta edisi khusus dengan desain menarik memang bisa membuat sudut ruangan terlihat lebih estetik. Gak sedikit pencinta buku yang juga menikmati kegiatan menata koleksi dan membagikannya melalui media sosial. Gak masalah, karena buku juga bisa memiliki nilai estetika sekaligus nilai intelektual.

    Namun, kebiasaan mengoleksi buku perlu dievaluasi ketika koleksi menjadi jauh lebih penting daripada pengalaman membaca. Contohnya, kamu tertarik membeli buku karena sampulnya cantik, ingin memiliki edisi yang sama dengan kreator favorit, atau merasa koleksi buku tertentu membuatmu terlihat lebih intelektual. Akibatnya, keputusan membeli lebih banyak dipengaruhi oleh citra yang ingin ditampilkan daripada minat terhadap isi buku.

  4. 4. Tumpukan TBR semakin tinggi, tapi buku baru terus berdatangan

    Kelelahan membaca
    ilustrasi kelelahan membaca (pexels.com/Rafael Alexandrino de Mattos)

    Dalam komunitas pembaca, istilah TBR atau to be read digunakan untuk menyebut daftar buku yang ingin dibaca. Memiliki daftar TBR merupakan hal yang wajar, terlebih jika kamu senang mengeksplorasi berbagai genre dan penulis. Namun, tumpukan TBR bisa menjadi masalah ketika jumlah buku yang dibeli jauh lebih banyak daripada kemampuanmu untuk membacanya.

    Kamu terus menambahkan judul baru, sementara buku-buku lama belum sempat disentuh. Di sisi lain, kebiasaan belanja impulsif, diskon besar, dan promosi buku baru terus mendorongmu untuk berbelanja. Akibatnya, membeli buku menjadi aktivitas yang terpisah dari kegiatan membaca itu sendiri. Kondisi ini juga bisa menimbulkan tekanan tersendiri. Alih-alih menikmati bacaan, kamu justru merasa bersalah setiap kali melihat tumpukan buku yang belum dibaca.

  5. 5. Cara menikmati hobi membaca tanpa terjebak konsumerisme

    Membaca buku
    ilustrasi membaca buku (pexels.com/George Milton)

    Menghindari konsumerisme bukan berarti kamu harus berhenti atau merasa bersalah setiap kali menambah koleksi. Pastikan bahwa kebiasaan tersebut tetap sesuai dengan tujuan dan kemampuanmu. Catat buku yang benar-benar ingin kamu baca, lalu bedakan dengan buku yang hanya menarik karena sedang viral atau mendapat banyak promosi. Kamu juga bisa memanfaatkan fasilitas perpustakaan offline maupun online.

    Jika masih ragu apakah suatu buku cocok dengan seleramu, kamu bisa meminjamnya daripada membeli. Kamu juga bisa bertukar buku dengan teman atau mencari buku bekas yang masih layak baca. Tetapkan juga anggaran khusus untuk membeli buku. Dengan begitu, kamu tetap bisa menikmati hobi tanpa mengorbankan kebutuhan lain. Jangan sampai keinginan melengkapi koleksi membuat pengeluaran bulanan menjadi berantakan.

    Konsumerisme berkedok hobi membaca dapat muncul ketika kesenangan membeli buku mengalahkan keinginan untuk menikmati isi dan gagasan di dalamnya. Meski begitu, punya banyak buku tak selalu berarti konsumtif. Hal terpenting adalah memahami alasan di balik setiap pembelian dan memastikan kebiasaan tersebut gak merugikan diri sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More