Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Fenomena Kehilangan Spark Di Usia 30an, Nyata atau Ilusi?

3 min read
Fenomena Kehilangan Spark Di Usia 30an, Nyata atau Ilusi?
Ilustrasi bekerja (magnific.com/BalashMirzabey)
  • Memasuki usia 30-an dapat memicu evaluasi nilai dan prioritas akibat tuntutan karier, finansial, hubungan, serta peran keluarga yang bertambah.
  • Rasa kehilangan semangat bisa muncul saat seseorang terlalu lama hidup dalam rutinitas dan tekanan, hingga mengalami kelelahan emosional serta membutuhkan jeda.
  • Perubahan minat, pekerjaan impian, atau lingkungan dapat menandakan perkembangan identitas; seseorang mungkin sedang mencari kebahagiaan yang lebih sesuai dengan dirinya kini.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Masuk usia 30-an, hidup mungkin terlihat baik-baik saja dari luar. Karier berjalan, rutinitas sudah terbentuk, tetapi diam-diam muncul pertanyaan, “Kenapa aku gak sesemangat dulu?”

Dulu ada banyak hal yang bikin excited, mulai dari pekerjaan, bertemu teman, sampai sekadar punya rencana untuk akhir pekan. Sekarang semuanya tetap dilakukan, tetapi rasanya gak lagi memberikan percikan yang sama. Apakah ini tanda kehilangan arah atau sebenarnya bagian dari perubahan diri?

  1. 1. Bukan selalu kehilangan arah, bisa jadi sedang berubah

    Ilustrasi bekerja
    Ilustrasi bekerja (magnific.com/magnific)

    Usia 30-an sering menjadi fase ketika seseorang mulai melihat hidup dengan cara yang berbeda. Kalau usia 20-an lebih banyak diisi dengan mencoba berbagai hal, memasuki usia berikutnya justru membuat seseorang berhadapan dengan pilihan yang sudah dibuat, termasuk karier, hubungan, gaya hidup, dan tujuan hidup.

    Tanggung jawab juga biasanya ikut bertambah. Pekerjaan bisa semakin menuntut, kondisi finansial perlu lebih dipikirkan, sementara sebagian orang mulai menjalani peran sebagai pasangan, orangtua, atau pengasuh keluarga. Di tengah semua itu, wajar jika muncul keinginan untuk berhenti sejenak dan bertanya, “Sebenarnya aku masih mau hidup seperti ini gak?”

    Dr. John Duffy, psikolog klinis dan penulis, menjelaskan,"Memasuki awal 30-an dapat menjadi periode transisi selama dua hingga tiga tahun. Kejenuhan karier, kebosanan terhadap rutinitas, dan tekanan emosional dapat mencapai titik tertentu sehingga seseorang mulai mengevaluasi kembali nilai serta prioritas hidupnya." Demikian dikutip dari Psychology Today.

  2. 2. Spark bisa hilang karena terlalu lama hidup dalam mode bertahan

    Ilustrasi bekerja
    Ilustrasi bekerja (magnific.com/jcomp)

    Ada kalanya masalahnya bukan karena hidup benar-benar membosankan, tetapi karena kita terlalu lama menjalani semuanya secara otomatis. Bangun, bekerja, menyelesaikan tanggung jawab, pulang, lalu mengulang rutinitas yang sama tanpa benar-benar punya ruang untuk bertanya apa yang membuat kita bahagia.

    Kondisi ini bisa terasa seperti kehilangan motivasi atau emotional exhaustion. Ketika tekanan berlangsung terus-menerus, hal-hal yang dulu menyenangkan pun bisa terasa biasa saja. Bukan berarti kamu malas atau gak bersyukur, tetapi mungkin tubuh dan pikiran sedang membutuhkan jeda serta perubahan.

    Karena itu, kehilangan spark gak selalu berarti ada sesuatu yang rusak dalam diri. Bisa saja kamu sudah terlalu lama memaksakan diri mengikuti ritme hidup yang sebenarnya sudah gak lagi cocok dengan kebutuhanmu sekarang.

  3. 3. Mungkin kamu sudah gak cocok dengan versi lama dirimu

    Ilustrasi bekerja
    Ilustrasi bekerja (magnific.com/BalashMirzabey)

    Hal yang menarik dari fase ini adalah terkadang kita sebenarnya bukan kehilangan diri sendiri, melainkan sudah berubah. Hobi yang dulu terasa seru mungkin gak lagi menarik, pekerjaan yang dulu menjadi impian mulai terasa hambar, atau lingkungan yang dulu membuat nyaman kini justru terasa melelahkan.

    Dr. Ilene S. Cohen, psikolog klinis dan pakar trauma mengatakan bahwa, "Kehilangan spark dapat terjadi ketika seseorang merasa terjebak dalam versi lama dirinya. Menurutnya, keinginan untuk berubah gak selalu perlu dianggap sebagai sesuatu yang harus ditakuti atau disalahkan karena identitas seseorang memang dapat berkembang seiring waktu." Demikian diucapkannya di Psychology Today.

    Jadi, mungkin kamu gak sedang kehilangan spark. Bisa jadi kamu sedang mencari bentuk kebahagiaan yang baru dan lebih sesuai dengan siapa dirimu sekarang. Gak semua hal yang dulu membuatmu bahagia, harus terus dipertahankan hanya karena pernah menjadi bagian penting dalam hidupmu.

    Usia 30-an bukan deadline untuk sudah punya semua jawaban. Kadang, kehilangan rasa excited justru menjadi tanda bahwa sudah waktunya berhenti sebentar, melihat kembali hidupmu, lalu memilih apa yang benar-benar masih ingin kamu bawa ke fase berikutnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More