Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gagal di Usia 20-an? Justru Ini Waktu Terbaik untuk Bereksperimen
Ilustrasi merenung (pexels.com/Alexey Demidov)

Banyak orang menganggap usia 20-an sebagai masa ketika hidup seharusnya mulai mapan. Lulus kuliah, mendapat pekerjaan tetap, memiliki penghasilan yang stabil, hingga menemukan arah hidup sering kali dianggap sebagai pencapaian yang wajib diraih sebelum memasuki usia 30 tahun. Akibatnya, kegagalan di usia ini sering dipandang sebagai tanda bahwa seseorang telah tertinggal dari teman-teman sebayanya.

Kegagalan, perubahan arah karier, hingga mencoba berbagai pengalaman baru merupakan bagian alami dari proses membangun identitas. Alih-alih menjadi akhir dari perjalanan, kegagalan di usia muda justru dapat menjadi bekal penting untuk menemukan tujuan hidup yang lebih sesuai.

1. Usia 20-an memang didesain untuk mencari jati diri

Ilustrasi merenung (pexels.com/Chris F)

Banyak orang merasa bingung ketika lulus kuliah atau baru memasuki dunia kerja. Mereka mulai mempertanyakan pilihan karier, hubungan, bahkan tujuan hidup. Perasaan tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang aneh, melainkan bagian dari fase perkembangan yang dikenal sebagai emerging adulthood.

Rentang usia sekitar 18 hingga 20-an tahun merupakan masa eksplorasi identitas. Pada periode ini seseorang cenderung mencoba berbagai kemungkinan dalam pekerjaan, pendidikan, hubungan, maupun gaya hidup sebelum membuat komitmen jangka panjang.

"Masa dewasa awal hanya ada dalam budaya yang memungkinkan kaum muda untuk melakukan eksplorasi peran independen dalam jangka waktu yang lama selama akhir masa remaja dan usia dua puluhan," dikutip dalam jurnal "Emerging adulthood. A theory of development from the late teens through the twenties" dilansir dari National Library of Medicine.

2. Kegagalan memberikan pelajaran yang tidak bisa didapat dari keberhasilan

Ilustrasi lelah bekerja (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Saat mengalami kegagalan, banyak orang hanya melihat hasil akhirnya tanpa menyadari proses belajar yang sedang berlangsung. Padahal, setiap kesalahan membantu seseorang memahami kemampuan, kelemahan, dan strategi yang lebih efektif untuk langkah berikutnya.

Penelitian tentang perkembangan karier menunjukkan bahwa kegagalan di awal perjalanan tidak selalu menjadi penghalang kesuksesan. Dalam beberapa kondisi, individu yang mampu bangkit setelah mengalami kegagalan justru menunjukkan performa yang lebih baik dalam jangka panjang dibanding mereka yang sejak awal selalu berhasil.

"Orang belajar lebih sedikit dari kegagalan daripada dari kesuksesan," kata Ayelet Fishbach, doktor filsafat, profesor ilmu perilaku dan pemasaran dikutip dari studinya "Learning from Failure Is Like Learning from Unsolicited Advice" dalam ResearchGate.

3. Jangan takut berpindah jalur jika menemukan peluang lebih tepat

Ilustrasi bekerja (pexels.com/MART PRODUCTION)

Banyak orang merasa harus bertahan pada satu pilihan karier karena takut dianggap tidak konsisten. Padahal, berpindah jalur di usia 20-an bukan berarti gagal. Justru, pengalaman mencoba berbagai bidang dapat membantu kamu mengenali minat, kemampuan, dan lingkungan kerja yang paling sesuai dengan kepribadianmu.

Perubahan arah karier kini semakin umum terjadi. Dunia kerja berkembang sangat cepat sehingga banyak profesi baru yang bahkan belum ada beberapa tahun lalu. Karena itu, memiliki keberanian untuk belajar keterampilan baru dan mencoba peluang berbeda dapat menjadi investasi jangka panjang.

4. Bangun growth mindset agar tidak takut mencoba lagi

Ilustrasi merasa positif (pexels.com/Photo by Drago Rapovac)

Salah satu penyebab seseorang enggan bereksperimen adalah rasa takut gagal. Ketika sebuah rencana tidak berjalan sesuai harapan, sebagian orang langsung menyimpulkan bahwa dirinya memang tidak berbakat. Padahal, kemampuan seseorang dapat berkembang melalui latihan, pengalaman, dan kemauan untuk terus belajar.

Konsep ini dikenal sebagai growth mindset. Orang dengan pola pikir berkembang melihat kegagalan sebagai umpan balik, bukan sebagai penentu nilai diri. Mereka lebih berani mengambil tantangan baru karena percaya bahwa keterampilan dapat diasah seiring waktu. Sebaliknya, mereka yang memiliki fixed mindset cenderung menghindari tantangan karena takut terlihat tidak mampu.

"Growth mindset sebagai kemampuan untuk mengubah persepsi kegagalan menjadi peluang untuk belajar dan berkembang. Membangun growth mindset dan sikap tangguh adalah cara yang baik untuk mengatasi penundaan, perasaan sindrom impostor, dan emosi negatif lainnya yang dapat memengaruhi kesehatan mental kita di lingkungan akademik," jelas Prof. Carol S. Dweck, profesor psikologi dikutip dari laman Stanford University.

5. Kesuksesan bukan ditentukan seberapa cepat kamu sampai, tetapi seberapa banyak kamu bertumbuh

Ilustrasi merenung (pexels.com/ArtHouse Studio)

Media sosial sering kali membuat orang merasa tertinggal karena melihat teman sebaya sudah memiliki pekerjaan impian, usaha yang berkembang, atau kehidupan yang tampak sempurna. Padahal, setiap orang memiliki titik awal, kesempatan, dan tantangan yang berbeda.

Membandingkan perjalanan hidup hanya akan membuat kegagalan terasa lebih menyakitkan daripada yang sebenarnya. Daripada terus terpaku pada pencapaian orang lain, lebih baik gunakan usia 20-an sebagai masa untuk memperkaya pengalaman.

Mengikuti pelatihan, mencoba proyek sampingan, membangun bisnis kecil, menjadi relawan, atau bahkan gagal dalam beberapa percobaan bisa menjadi bekal berharga yang membentuk karakter dan kemampuan menghadapi tantangan di masa depan. Pengalaman tersebut sering kali menghasilkan keterampilan yang tidak diperoleh hanya dari bangku kuliah atau pekerjaan pertama.

Gagal di usia 20-an bukanlah tanda bahwa masa depanmu telah berakhir. Justru pada fase inilah kamu memiliki ruang paling luas untuk bereksperimen, mencoba berbagai peluang, berpindah arah, dan belajar dari setiap kesalahan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article