Menurut Joshua Becker, penulis dan pendiri Becoming Minimalist, "minimalisme bukan sekadar soal memiliki lebih sedikit barang, tetapi tentang memberi ruang bagi hal-hal yang benar-benar berarti dalam hidup," dikutip dari Becoming Minimalist.
Gaya Hidup Minimalis, Pilihan Baru Pasca Bencana!

- Memilih barang berdasarkan fungsi, bukan jumlah
- Gaya hidup minimalis pasca bencana mendorong orang untuk memilih barang yang benar-benar dibutuhkan dan bersifat multifungsi.
- Minimalisme memberi ruang bagi hal-hal yang benar-benar berarti dalam hidup.
- Menata ruang hidup secara sederhana dan efisien
- Tujuannya agar ruang mudah dirawat, nyaman digunakan, dan mendukung aktivitas sehari-hari tanpa beban berlebih.
- Ruang yang lapang membuat sirkulasi udara lebih baik, lebih mudah dibersihkan, dan terasa lebih menenangkan.
Bencana adalah hal yang tidak bisa dihindari. Sepanjang 2025, Indonesia mengalami banyak peristiwa alam, termasuk banjir yang berdampak luas. Kondisi ini membuat banyak orang harus memulai kembali hidupnya dari nol.
Salah satu cara untuk bangkit adalah dengan menerapkan gaya hidup minimalis pasca bencana. Hidup lebih sederhana membantu pemulihan dan penataan ulang prioritas. Yuk, simak seperti apa gaya hidup minimalis setelah bencana!
1. Memilih barang berdasarkan fungsi, bukan jumlah

Bencana sering membuat seseorang kehilangan banyak barang dalam waktu singkat. Dari pengalaman itu, muncul kesadaran bahwa tidak semua yang dimiliki sebelumnya benar-benar penting. Gaya hidup minimalis pasca bencana mendorong orang untuk memilih barang yang benar-benar dibutuhkan, bersifat multifungsi, dan menunjang kehidupan sehari-hari. Nilai sebuah barang tidak lagi dilihat dari jumlahnya, melainkan dari manfaat nyata yang diberikannya.
2. Menata ruang hidup secara sederhana dan efisien

Setelah bencana, banyak tempat tinggal ditata dengan cara yang lebih sederhana dan fungsional. Tujuannya agar ruang mudah dirawat, nyaman digunakan, dan mendukung aktivitas sehari-hari tanpa beban berlebih. Penataan yang efisien, seperti mengurangi furnitur berlebihan dan memberi ruang gerak yang cukup, dapat membuat hunian terasa lebih lapang dan tenang.
Penataan ruang yang sederhana membantu aktivitas menjadi lebih lancar. Ruang yang lapang membuat sirkulasi udara lebih baik, lebih mudah dibersihkan, dan terasa lebih menenangkan, terutama bagi mereka yang sedang dalam proses pemulihan emosional.
"Lingkungan yang sederhana membantu meningkatkan fokus, ketenangan, dan kejelasan dalam menjalani hidup," tutur Courtney Carver, penulis dan pendiri Be More With Less.
3. Mengubah pola konsumsi dan prioritas hidup

Pengalaman kehilangan akibat bencana sering menjadi titik balik dalam cara seseorang memandang konsumsi. Banyak orang menjadi lebih berhati-hati sebelum membeli sesuatu dan mulai membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Pengeluaran pun lebih difokuskan pada hal-hal mendasar seperti kesehatan, tempat tinggal yang aman, dan kebutuhan keluarga. Belanja impulsif berkurang karena stabilitas hidup dan rasa aman menjadi prioritas utama.
Gaya hidup minimalis setelah bencana bukan sekadar tren, melainkan cara untuk menata ulang hidup dengan lebih sadar. Dari kehilangan, muncul pelajaran tentang cukup, fokus, dan makna. Dengan hidup lebih sederhana, proses pemulihan menjadi lebih ringan dan arah hidup terasa lebih jelas.



















