Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Harga Properti Mahal, Gen Z dan Milenial Tak Mampu Beli Rumah

Harga Properti Mahal, Gen Z dan Milenial Tak Mampu Beli Rumah
ilustrasi seseorang memegang model rumah sambil menghitung investasi properti (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)
Intinya Sih
  • Harga properti yang tinggi dan pendapatan rendah membuat Gen Z serta Milenial kesulitan membeli rumah, meski pertumbuhan harga residensial nasional melambat sejak 2024 hingga 2025.
  • Keterbatasan finansial mendorong generasi muda mengubah orientasi terhadap kepemilikan rumah dengan memaksimalkan ruang pribadi seperti kamar tidur agar lebih fungsional dan nyaman.
  • Alih-alih mengejar kepemilikan rumah, Gen Z dan Milenial kini fokus membentuk ruang tinggal estetik sesuai gaya hidup, menciptakan peluang baru bagi industri furnitur dan desain interior.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kepemilikan properti masih menjadi persoalan yang dihadapi oleh generasi Milenial dan Gen Z di Indonesia. Harga properti yang melambung tinggi dinilai melampaui kemampuan pendapatan rata-rata pekerja dari generasi muda. Tak hanya menyoal kemampuan daya beli, kepemilikan properti juga memiliki tantangan terhadap akses bagi sebagian Generasi Z dan Milenial

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, Gen Z memperoleh rata-rata upah sebesar Rp1,68 juta hingga Rp2,28 juta per bulan dengan kisaran per tahun Rp20,1 juta. Sementara, Milenial memperoleh rata-rata pendapatan yang lebih tinggi Rp3 juta hingga Rp3,7 juta per bulan dengan kisaran per tahun Rp44,4 juta.

Di sisi lain, pertumbuhan harga properti residensial di Indonesia justru menunjukkan perlambatan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia yang dihimpun oleh Global Property Guide (Februari 2026), indeks harga properti residensial di Indonesia mencatat pertumbuhan tahunan yang terus melemah sepanjang 2024 hingga 2025, bahkan mencapai level terendah sejak 2003. Secara spesifik, pertumbuhan tersebut turun dari 1,46 persen pada kuartal III 2024 menjadi 1,39 persen pada kuartal IV 2024, kemudian 1,07 persen pada kuartal I 2025, 0,90 persen pada kuartal II 2025, 0,84 persen pada kuartal III 2025, dan 0,83 persen pada kuartal IV 2025.

Akan tetapi, persentase tersebut justru memperlihatkan bahwa harga properti nasional justru mengalami penurunan riil rata-rata sebesar 1,57 persen per tahun pada kuartal III 2025. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan keterjangkauan hunian bagi generasi muda tidak hanya dipengaruhi oleh harga properti, tetapi juga oleh pertumbuhan pendapatan yang belum mampu mengimbangi kebutuhan kepemilikan rumah.

Situasi ini memperlihatkan adanya gap yang cukup besar antara kemampuan finansial generasi muda dan harga properti yang tersedia di pasaran. Di tengah kebutuhan hidup yang terus bertambah, menabung untuk membeli rumah menjadi tantangan yang tidak sederhana. Hal ini menjadi salah satu temuan menarik dalam survei Indonesia Millenial and Gen Z Report 2027 oleh IDN Research Institute yang akan mengkuat fenomena di atas.

1. Tantangan harga properti bagi generasi muda

Grafik Pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk rumah tapak
Grafik Pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk rumah tapak. (dok.IDN Research Institute)

Tantangan kepemilikan rumah bagi generasi muda tidak hanya tercermin dari tingginya harga properti, namun juga akses pembiayaan. Data yang disebutkan dalam survei IMGR mencatat, bahwa kelompok masyarakat yang membeli rumah dengan ukuran layak huni justru menghadapi tekanan pembayaran yang lebih besar. Hal ini terlihat dari tingkat kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) terus mengalami peningkatan dari 2,51 persen pada 2024 menjadi 3 persen pada 2025 dan 3,14 persen pada Februari 2026.

Di tengah keterbatasan tersebut, muncul pola adaptasi baru yang semakin terlihat di kalangan generasi muda. Alih-alih menunggu mampu membeli rumah, banyak Milenial dan Gen Z mulai memaksimalkan ruang yang mereka miliki, baik kamar tidur maupun hunian sewa, menjadi tempat yang lebih personal, nyaman, dan fungsional. Tren ini terlihat dari meningkatnya minat terhadap konten dekorasi kamar, penataan ruang kerja di rumah, hingga renovasi hunian sewa yang banyak dibagikan di media sosial.

2. Perubahan orientasi generasi muda terhadap nilai properti, pilih maksimalkan kamar tidur

ilustrasi pemandangan dari sudut rendah sebuah rumah kayu modern
ilustrasi pemandangan dari sudut rendah sebuah rumah kayu modern (pexels.com/Ivan S)

Tantangan terkait kepemilikan rumah, baik secara finansial maupun keterbatasan akses mendorong Gen Z dan Milenial untuk dapat mengambil keputusan aktif serta kreatif dalam berbagai kondisi. Bagi generasi yang belum memiliki hunian pribadi, ruang yang diupayakan agar dapat berfungsi secara maksimal. Seperti halnya kamar tidur yang dapat digunakan untuk bekerja, belajar, hingga beraktivitas. Perubahan ini mencerminkan respons rasional terhadap tantangan yang dihadapi generasi Z dan milenial terkait kepemilikan rumah yang kian sulit dijangkau.

Perubahan pandangan generasi muda terhadap kepemilikan rumah juga tercermin dalam dinamika pasar. Menurut Mordor Intelligence (2026), penjualan properti secara online menjadi segmen dengan pertumbuhan tercepat. Fenomena ini berkaitan erat dengan berkembangnya konten digital, kreator serta model afiliasi yang mendorong konsumsi berbasis inspirasi.

Realitas tersebut mendorong pesatnya penjualan furnitur, terutama kamar tidur yang tidak hanya diproyeksikan berfungsi sebagai tempat istirahat, namun juga ruang yang mampu mengakomodasi berbagai aktivitas sekaligus. Laporan yang sama menunjukkan, bahwa segmen furnitur kamar tidur diproyeksikan tumbuh dengan CAGR sebesar 4,95 persen hingga 2031. Temuan ini menegaskan bahwa gaya hidup generasi muda memengaruhi cara mereka memanfaatkan properti yang dimiliki.

3. Gen Z dan Milenial lebih pilih membentuk ruang tinggal daripada memaksa beli rumah

ilustrasi tumpukan koin di depan rumah porselen
ilustrasi tumpukan koin di depan rumah porselen (pexels.com/Rumah-rumah yang Artistik)

Generasi muda bukannya menyerah terhadap kondisi yang dihadapi, melainkan melihat peluang dari pergeseran prioritas mereka saat ini. Alih-alih mengejar aset besar yang semakin sulit dijangkau, mereka mulai mengalihkan pengeluaran untuk meningkatkan kualitas ruang yang sudah mereka tempati. Persepsi ini mendorong orientasi, bahwa ruang tinggal menjadi sesuatu yang dapat dibentuk, diatur, dan disesuaikan dengan kebutuhan serta gaya hidup mereka.

Perubahan ini turut melahirkan fenomena rumah estetik yang menjadi bentuk adaptasi dari berbagai keterbatasan sekaligus mencerminkan pandangan, bahwa kenyamanan dan kebahagiaan tidak selalu bergantung pada kepemilikan rumah. Pergeseran ini tentu membuka peluang bagi berbagai sektor industri, meskipun potensinya belum sepenuhnya disadari atau direspons secara strategis oleh para pelaku pasar.

IDN menggelar Indonesia Summit 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age". Indonesia Summit 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.

Indonesia Summit 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.

Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jakarta Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Muhammad Tarmizi Murdianto
EditorMuhammad Tarmizi Murdianto

Related Articles

See More