"Tentu saja, bertanggung jawab atas diri sendiri selalu menjadi prioritas utama," jelas Jeffrey Jensen Arnett, PhD, psikolog perkembangan dan profesor psikologi dikutip dari Mary Christie Institute.
5 Hal yang Kelihatannya Sepele, tapi Sebenarnya Tanda Kamu Mulai Dewasa

Dewasa ternyata tidak selalu ditandai dengan punya pekerjaan tetap, tinggal sendiri, menikah, atau mampu membayar semua kebutuhan tanpa bantuan orang lain. Ada perubahan yang jauh lebih sederhana dan sering tidak disadari. Hal-hal kecil mungkin terlihat biasa saja, tetapi bisa menunjukkan bahwa cara kamu memandang diri sendiri dan kehidupan mulai berubah.
Proses menjadi dewasa juga tidak terjadi dalam satu malam. Berikut ini beberapa hal sepele yang sebenarnya menjadi tanda bahwa kamu mulai dewasa.
1. Kamu mulai berani mengakui kesalahan tanpa sibuk mencari alasan

Ilustrasi merenung (pexels.com/Alexey Demidov) Dulu, mengakui kesalahan mungkin terasa seperti kalah. Ketika melakukan sesuatu yang tidak tepat, ada dorongan untuk menjelaskan panjang lebar mengapa kamu melakukan hal tersebut atau mencari siapa yang sebenarnya harus disalahkan.
Namun, semakin dewasa, kamu mulai memahami bahwa mengakui kesalahan tidak otomatis membuat harga dirimu turun. Kemampuan menerima tanggung jawab atas diri sendiri memang menjadi salah satu penanda penting dalam penelitian mengenai transisi menuju kedewasaan.
Artinya, kamu mungkin mulai dewasa ketika responsmu terhadap kesalahan berubah dari “Tapi dia juga salah!” menjadi “Oke, bagian yang menjadi tanggung jawabku adalah ini.” Bukan berarti kamu harus selalu menyalahkan diri sendiri. Justru, kedewasaan terlihat ketika kamu mampu membedakan antara bertanggung jawab atas kesalahan sendiri dan mengambil tanggung jawab atas sesuatu yang sebenarnya bukan kesalahanmu.
2. Kamu mulai tidak merasa harus menyenangkan semua orang

Ilustrasi merenung (pexels.com/Mohit Sharma) Ada fase ketika kamu mungkin merasa harus selalu tersedia untuk teman, menerima semua ajakan, membantu semua orang, atau mengatakan “iya” agar tidak dianggap egois. Lama-kelamaan, kamu mulai menyadari bahwa waktu, tenaga, dan perhatianmu juga memiliki batas.
Menolak sesuatu yang memang tidak sanggup kamu lakukan bukan berarti kamu menjadi orang jahat. Sunita Sah, PhD, seorang profesor bidang organizational behavior dan ahli mengenai kepatuhan serta pengambilan keputusan, menjelaskan bahwa menetapkan batas membutuhkan kesadaran diri dan latihan.
"Di bawah tekanan, kita sering kali menurut karena itulah kecenderungan alami kita; kita perlu mengubah pola pikir dan melatih diri untuk mengatakan ‘tidak’," jelasnya dalam American Psychological Association (APA).
3. Kamu tidak lagi merasa harus membalas semua hal saat sedang emosi

Ilustrasi merenung (pexels.com/Chris F) Pernahkah kamu melihat pesan yang membuat kesal, tetapi sekarang memilih tidak langsung membalasnya? Atau ketika seseorang mengatakan sesuatu yang menyakitkan, kamu memilih menenangkan diri terlebih dahulu sebelum menentukan respons? Jika iya, mungkin ada perubahan penting dalam cara kamu mengelola emosi.
Penelitian mengenai perkembangan regulasi emosi menunjukkan bahwa kemampuan tersebut terus berkembang dari masa remaja akhir menuju dewasa muda. Mengutip studi dalam PubMed Central (PMC), menemukan bahwa strategi regulasi emosi adaptif seperti positive reappraisal dan mencari dukungan sosial dapat mengalami perubahan selama dua tahun pertama masa kuliah.
"Masa dewasa awal (emerging adulthood) merupakan periode krusial untuk mengembangkan keterampilan regulasi emosi, karena individu menghadapi peran dan tanggung jawab baru sembari sering kali menerapkan strategi regulasi yang maladaptif," dikutip dari studi EmoWELL: effectiveness of a serious game for emotion regulation in emerging adulthood dalam PubMed Central (PMC),
Jadi, dewasa bukan berarti kamu tidak pernah marah, kecewa, iri, atau sakit hati. Kamu tetap bisa merasakan semuanya, tetapi mulai belajar bahwa emosi tidak harus selalu langsung diterjemahkan menjadi tindakan.
4. Kamu mulai memikirkan konsekuensi sebelum mengambil keputusan

Ilustrasi merenung (pexels.com/Aytac Talıblı) Ketika masih lebih muda, sesuatu yang menyenangkan sekarang mungkin terasa jauh lebih penting daripada dampaknya nanti. Misalnya, menghabiskan uang untuk sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan, menerima pekerjaan tanpa mempertimbangkan kapasitas, atau mengambil keputusan karena takut ketinggalan dari teman.
Seiring waktu, kamu mulai bertanya, “Kalau aku melakukan ini, akibatnya apa?” Jeffrey Jensen Arnett, PhD, menjelaskan bahwa dua kriteria yang secara konsisten dianggap penting dalam transisi menuju kedewasaan adalah menerima tanggung jawab atas diri sendiri dan membuat keputusan secara mandiri.
"Mengambil keputusan secara mandiri menjadi salah satu kriteria utama. Aspek pengambilan keputusan secara mandiri ini sangatlah penting. Hal ini berarti bahwa meskipun kaum dewasa muda menghargai penilaian orangtua mereka dan bahkan menyadari bahwa mereka mungkin saja mengambil keputusan yang keliru, mereka tetap lebih memilih untuk membuat sebagian besar keputusan sendiri," jelasnya dalam Mary Christie Institute.
5. Kamu mulai paham bahwa tidak semua hal harus dijelaskan kepada semua orang

Ilustrasi merenung (pexels.com/Polina Romanenko) Semakin dewasa, kamu mungkin semakin selektif dalam bercerita. Bukan karena ingin menjadi tertutup, tetapi karena mulai memahami bahwa tidak semua orang perlu mengetahui semua hal tentang kehidupanmu. Masalah pekerjaan tidak harus selalu diumbar di media sosial, persoalan hubungan tidak selalu membutuhkan penonton, dan keputusan pribadi tidak harus mendapatkan persetujuan semua orang.
Penelitian tentang emerging adulthood menunjukkan bahwa proses menjadi dewasa berkaitan dengan perkembangan identitas, kemandirian, pengambilan keputusan, dan kemampuan bertanggung jawab atas diri sendiri. Sebuah kajian mengenai konsep kedewasaan bahkan menemukan bahwa orang dewasa muda semakin mengembangkan kemampuan untuk menjadi bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan mengambil keputusan secara otonom.
"Emerging adulthood (masa transisi menuju dewasa), sebuah periode perkembangan yang khas antara usia 18 hingga 29 tahun, mencakup lima karakteristik: eksplorasi identitas, eksperimentasi/kemungkinan, negativitas/ketidakstabilan pandangan hidup, fokus pada diri sendiri, serta perasaan berada di antara masa remaja dan dewasa," dikutip dari studi A Systematized review of experiences of individuals in Arnett’s emerging adulthood stage who live with or are at-risk for genetic conditions dalam Wiley Online Library.
Ini juga berkaitan dengan kemampuan menetapkan batas dalam hubungan. Sunita Sah, PhD, menjelaskan bahwa salah satu cara melatih batas adalah berhenti sejenak sebelum langsung menyetujui sesuatu dan bertanya kepada diri sendiri apakah keputusan tersebut benar-benar sesuai dengan nilai yang kamu pegang.
"Salah satu strategi untuk menghindari 'jebakan kepatuhan' ini adalah dengan berhenti sejenak sebelum menyetujui suatu permintaan dan merespons dengan kalimat, 'Saya akan kabari kamu lagi mengenai hal itu.' Taktik lainnya adalah berbicara kepada diri sendiri menggunakan sudut pandang orang ketiga, karena cara ini memberikan ruang bagi nilai-nilai pribadi untuk kembali masuk ke dalam proses pengambilan keputusan. 'Saya mungkin berkata, 'Sunita, apakah ini benar-benar hal yang ingin kamu lakukan? Apakah ini bertentangan dengan nilai-nilaimu?'" ujar Sunita Sah menambahkan dalam American Psychological Association.
Mulai dewasa tidak selalu terasa seperti sebuah pencapaian besar yang bisa dirayakan dengan foto atau unggahan media sosial. Kadang, kedewasaan justru muncul dalam momen-momen kecil: berani mengakui kesalahan, mampu berkata tidak, menunda respons ketika sedang emosi, memikirkan konsekuensi, dan memahami bahwa tidak semua hal perlu diketahui orang lain.











![[QUIZ] Kamu Lagi Burnout, Bosan, atau Memang Sudah Saatnya Resign?](https://image.idntimes.com/post/20250731/pexels-mart-production-7605197_dc361a96-710c-45c2-8241-59436766b720.jpg)






![[QUIZ] Kalau Join Grup WA Warga Kampung Durian Runtuh, Apa Peranmu di Sana?](https://image.idntimes.com/post/20251020/1000006280_661bb9aa-56cc-4d02-87ee-557f9d80773d.jpg)




