"Orang yang lebih banyak bekerja menghabiskan lebih sedikit waktu untuk bersosialisasi. Terdapat korelasi negatif yang kuat antara jam kerja dan percakapan tatap muka. Hal ini terbukti konsisten dalam data American Time Use Survey selama 20 tahun serta dalam skala global. Orang yang banyak bekerja tidak meluangkan waktu untuk menjalin hubungan," jelasnya.
Kalau Sudah Dewasa, Kenapa Pertemanan dan Percintaan Semakin Sulit?

Waktu masih sekolah atau kuliah, mencari teman dan membangun hubungan romantis terasa relatif mudah. Kita bertemu orang yang sama hampir setiap hari, punya banyak kesempatan untuk ngobrol, nongkrong, mengerjakan sesuatu bersama, lalu hubungan berkembang dengan sendirinya. Setelah dewasa, situasinya berubah. Jadwal kerja semakin padat, tempat tinggal bisa berpindah, prioritas hidup berbeda, dan waktu luang tidak lagi sebanyak dulu.
Hal serupa juga terjadi dalam percintaan. Bertemu orang baru seperti membutuhkan usaha lebih besar, sementara mempertahankan hubungan juga membutuhkan energi emosional di tengah tuntutan pekerjaan, keluarga, keuangan, dan kehidupan pribadi.
1. Dulu kita punya banyak kesempatan untuk bertemu, sekarang tidak

Ilustrasi merenung (pexels.com/Photo by Alexey Demidov) Salah satu alasan pertemanan terasa lebih sulit setelah dewasa adalah hilangnya 'kedekatan otomatis'. Ketika sekolah atau kuliah, kamu bisa bertemu orang yang sama setiap hari tanpa harus membuat janji khusus. Dari duduk bersebelahan, makan bersama, mengerjakan tugas, sampai pulang bareng, interaksi kecil tersebut secara perlahan menciptakan kedekatan.
Begitu memasuki dunia kerja, kesempatan seperti itu berkurang. Jadi, masalahnya bukan selalu kamu kurang pandai mencari teman. Bisa saja kamu hanya tidak lagi memiliki lingkungan yang secara alami mempertemukanmu dengan orang yang sama secara rutin. Dalam wawancara dengan TouchBase, Jeffrey A. Hall, profesor communication studies di University of Kansas juga menjelaskan bahwa orang yang bekerja lebih banyak cenderung menghabiskan lebih sedikit waktu untuk bersosialisasi secara tatap muka.
2. Prioritas hidup mulai bercabang ke banyak hal

Ilustrasi merenung (pexels.com/Chris F) Ketika dewasa, hubungan bukan lagi satu-satunya hal yang perlu dipikirkan. Ada pekerjaan, target karier, pasangan, keluarga, kesehatan, keuangan, bahkan kebutuhan untuk memiliki waktu sendiri. Akibatnya, teman yang dulu selalu menjadi prioritas bisa secara tidak sengaja berada di urutan yang lebih belakang.
Dengan kata lain, semakin dewasa, hubungan sering kali kalah bukan karena kurang sayang, tetapi karena terlalu banyak hal yang harus dikerjakan. Kamu masih peduli pada teman, tetapi belum tentu punya waktu untuk membalas chat panjang. Kamu masih ingin bertemu pasangan, tetapi pekerjaan sedang menumpuk. Di fase ini, hubungan tidak lagi bisa hanya mengandalkan spontanitas seperti ketika masih sekolah.
3. Percintaan jadi lebih rumit karena kita makin tahu apa yang diinginkan

Ilustrasi merenung (pexels.com/cottonbro studio) Ketika masih muda, seseorang mungkin lebih mudah tertarik pada orang lain hanya karena merasa nyaman, sering bertemu, atau memiliki kesamaan hobi. Namun, semakin dewasa, standar dan pertimbangan dalam hubungan biasanya ikut berkembang.
Kita mulai memikirkan kecocokan nilai, komunikasi, tujuan hidup, kondisi finansial, kesiapan emosional, hingga bagaimana pasangan memperlakukan kita. Karena itu, saat dewasa menemukan pasangan bukan hanya persoalan “ada yang suka atau tidak”. Hubungan romantis juga perlu melewati proses evaluasi yang lebih panjang.
Bahkan penelitian Developmental changes in best friendship quality during emerging adulthood PubMed Central terhadap orang dewasa muda menunjukkan bahwa kualitas persahabatan dan kehidupan romantis dapat berubah sepanjang usia 19 hingga 30 tahun. Penelitian tersebut menemukan adanya perubahan pada keintiman dan kebersamaan dalam persahabatan selama masa transisi menuju dewasa (emerging adulthood), serta hubungan antara investasi dalam kehidupan romantis dan perubahan kualitas persahabatan.
Hal ini juga menjelaskan mengapa masuk ke hubungan romantis baru ketika dewasa bisa terasa melelahkan. Ada lebih banyak hal yang dipertaruhkan dan lebih banyak pengalaman masa lalu yang ikut membentuk cara kita memilih pasangan. Hubungan tidak lagi sekadar tentang “seru-seruan bareng”, tetapi juga tentang apakah dua orang bisa membangun kehidupan yang cukup kompatibel.
4. Kita tidak cuma kehilangan waktu, tetapi juga harus belajar memelihara hubungan

Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Redmind Studio) Saat masih sekolah, pertemanan bisa bertahan hanya karena sering bertemu. Setelah dewasa, hubungan membutuhkan tindakan yang lebih sadar. Mengirim pesan, mengajak bertemu, menelepon, mengingat ulang tahun, atau sekadar menanyakan kabar mungkin terlihat sederhana, tetapi hal-hal kecil tersebut menjaga hubungan tetap hidup.
Hal yang sama berlaku dalam percintaan. Hubungan yang sudah lama berjalan bukan berarti otomatis akan selalu dekat. Pasangan tetap membutuhkan perhatian, komunikasi, dan waktu bersama. Bedanya, ketika dewasa, energi untuk melakukan semua itu harus dibagi dengan berbagai tuntutan lain. Oleh karena itu, hubungan yang seimbang membutuhkan kemampuan untuk membuat ruang, bukan sekadar menunggu ada waktu kosong.
5. Sulit terhubung bukan berarti kamu ditakdirkan kesepian

Ilustrasi merasa takut dan cemas (pexels.com/Aliaksei Lepik) Ketika hubungan terasa semakin sulit, seseorang bisa mulai menyalahkan dirinya sendiri. “Kenapa aku susah punya teman?”, “Kenapa susah menemukan pasangan?”, atau “Kenapa semua orang seperti sudah punya kelompok masing-masing?”
Padahal, kesulitan membangun hubungan pada masa dewasa merupakan pengalaman yang cukup umum dan tidak otomatis menunjukkan ada sesuatu yang salah dengan dirimu. Psikolog dan peneliti hubungan sosial Julianne Holt-Lunstad, PhD, dari Brigham Young University, menjelaskan bahwa kesepian dan isolasi sosial sebenarnya bukan hal yang sama.
"Kamu bisa saja dikelilingi oleh orang lain, tidak terisolasi, namun tetap merasa sangat kesepian," jelas Julianne dalam wawancaramya bersama Levels.
Menurutnya, isolasi lebih berkaitan dengan sedikitnya hubungan atau kontak sosial. Sedangkan kesepian merupakan perasaan subjektif ketika tingkat hubungan yang kita miliki tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Jadi, memiliki banyak teman di media sosial belum tentu membuat seseorang merasa dekat dengan orang lain.
Sebaliknya, seseorang mungkin hanya memiliki beberapa teman dekat tetapi merasa sangat terhubung. Maka, ketika dewasa dan merasa hubungan semakin sulit, mungkin yang dibutuhkan bukan memperbanyak orang di sekitar kita, melainkan lebih sengaja merawat hubungan yang bermakna.
Menjadi dewasa memang membuat hubungan terasa lebih rumit karena waktu semakin terbatas, tanggung jawab semakin banyak, dan standar terhadap hubungan ikut berkembang. Namun, sulitnya membangun pertemanan atau percintaan bukan berarti kita tidak membutuhkan keduanya. Justru ketika hidup semakin sibuk, hubungan yang sehat bisa menjadi salah satu tempat untuk merasa dikenal, didukung, dan diterima.

![[QUIZ] Dari Shio, Kamu Hoki atau Sial Soal Percintaan Bulan September](https://image.idntimes.com/post/20241109/pexels-m1nhosuy-29239471-06da9cb21925c208b6c5f4982411b31d-e1431b4cd6c32c85e814f61c75beb2c9.jpg)



















