- Jangan tergesa membuat kesimpulan dan cobalah berpikir kritis. Citra positif yang telah terbentuk selama bertahun-tahun memang sulit untuk dihilangkan dalam sekejap. Kamu mungkin syok dan gak percaya mendapati kabar idolamu melakukan tindak kejahatan, meski begitu cobalah untuk lebih kritis. Cari informasi lebih dan kumpulkan data agar penilaian kamu terhadapnya lebih objektif. Validasi informasi ini juga membuat kamu gak mudah termakan oleh manipulasi citra publik.
- Jangan samakan etika sosial dengan integritas moral. Bersikap ramah, santun, sopan, dan bertutur kata lembut merupakan etika sosial dasar. Maka, orang yang ramah dan bersikap sopan gak otomatis terbebas dari potensi melakukan kejahatan. Kamu harus bisa juga melihat seseorang berdasarkan konsistensi tindakan nyata serta tanggung jawab moralnya.
- Tanamkan sikap empati dalam diri. Saat kasus kejahatan terungkap, jangan terjebak pada pembelaan pelaku hanya karena ia publik figur yang dikenal baik. Tanamkan sikap empati dalam dirimu pada korban. Jika kasus kejahatan itu terkonfirmasi benar berdasarkan bukti empiris dan proses penyelidikan oleh pihak berwenang, sudah sepatutnya kamu memberikan dukungan moral yang layak pada korban dan hindari menoleransi pelaku tindakan kriminal.
Halo Effect: Mengapa Persona Sopan Bisa Menutupi Kejahatan?

- Halo effect adalah bias kognitif ketika kesan positif, seperti penampilan menarik atau keramahan, membuat seseorang dinilai baik dan kompeten secara keseluruhan.
- Persona sopan dapat dipakai sebagai strategi membangun citra publik; pelaku kejahatan bisa memanfaatkan branding positif agar publik sulit percaya pada tuduhan terhadapnya.
- Bias ini berisiko memicu victim blaming dan menghambat korban melapor; penilaian perlu didasarkan pada informasi, bukti, tindakan konsisten, serta empati terhadap korban.
Apa reaksimu saat mendengar kabar bahwa idolamu melakukan tindak kekerasan serius? Atau, saat kamu mendapati berita bahwa gurumu melakukan pelecehan? Gak sedikit dari kita yang meresponsnya dengan ketidakpercayaan dan penyangkalan. Sebab, kita meyakini bahwa orang yang kita kenal merupakan sosok yang baik, santun, dan alim. Reaksi spontan penyangkalan ini merupakan bentuk nyata dari cara kerja otak manusia yang dikelabui oleh bias kognitif. Kondisi ini membuat kita berasumsi bahwa orang yang dinilai punya sifat positif akan terbebas dari niat jahat maupun citra buruk.
Fenomena inilah yang disebut sebagai halo effect. Ada sisi gelap halo effect yang perlu kita pahami dan sadari. Sebab, di sinilah biasanya pelaku kejahatan kerap menemukan tempat aman untuk bersembunyi. Berikut penjelasan detail terkait halo effect dan kenapa persona sopan santun sering digunakan untuk melindungi pelaku kejahatan.
1. Memahami definisi halo effect

ilustrasi orang melakukan panggilan video (pexels.com/Vitaly Gariev) Halo effect berkaitan erat dengan kesan pertama. Secara umum, halo effect merupakan jenis bias kognitif saat kesan kita tentang seseorang dalam satu aspek memengaruhi penilaian kita terhadap keseluruhan karakter mereka. Dalam konteks ini, penampilan fisik kerap dijadikan tolok ukur utama dalam menilai karakter suatu individu. Individu yang berpenampilan menarik cenderung diasosiasikan secara keliru dengan berbagai sifat positif yang melekat padanya.
Lantas, mengapa disebut sebagai halo effect? Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh psikolog Thorndike pada tahun 1920. Dilansir laman Good Doctor, mulanya istilah halo digunakan dalam konsep religius dengan gambaran lingkaran bercahaya yang tampak mengambang di atas kepala orang suci. Lingkaran itu sering kali merepresentasikan karakter orang yang baik dan tanpa cela. Maka, muncullah istilah halo effect.
Artikel penelitian berjudul “Isu-Isu Kritis: Permasalahan, Penyebab, Dan Solusi Terkait Bias Kognitif Dalam Pengambilan Keputusan Manajerial” (2025) karya Syaharudin, dkk. yang diterbitkan dalam Jurnal Basataka menjelaskan bahwa contoh fenomena ini seperti seorang guru yang sangat baik dalam presentasi dan berpenampilan menarik dinilai kompeten di semua aspek pengajaran. Padahal, nyatanya ia mungkin punya kelemahan dalam perencanaan pembelajaran atau evaluasi. Dampaknya, bias ini bisa menyebabkan penilaian yang tidak akurat mengenai kompetensi seseorang.
2. Persona kesopanan dapat menjadi alat manipulasi publik

ilustrasi orang tersenyum (pexels.com/Andrea Piacquadio) Dalam banyak kasus, persona sopan dan santun bukan cuma menjadi sifat alami manusia, melainkan strategi manipulatif yang digunakan individu secara sengaja untuk bisa mengelabui persepsi publik. Konsep ini juga berkaitan erat dengan teori mengenai presentasi diri milik Sosiolog Erving Goffman.
Artikel penelitian berjudul "Presentasi diri dalam Kehidupan Sehari-hari: Studi Pustaka dalam Perspektif Erving Goffman" (2018) karya Michael Jibrael Rorong, menjelaskan bahwa menurut Goffman, keberadaan manusia dalam masyarakat itu menyerupai teater yang punya panggung dan penonton. Di atas panggung sosial, individu tampil di hadapan penonton. Setiap penampilan individu dinilai, dan penampilan itu membentuk self-image sekaligus social-image. Oleh karena itu, ada dorongan naluri manusia untuk memanipulasi mata penonton agar mendapatkan penilaian yang baik.
Lebih lanjut, Goffman menjabarkan bahwa secara sadar manusia menggunakan panggung depan (front stage) berupa keramahan, kesopanan, dan senyuman untuk dikonsumsi publik. Adapun di panggung belakang (back stage), manusia dapat berperilaku lebih bebas tanpa tuntutan karakter dari lingkungan sosialnya.
Pelaku kejahatan sering menggunakan strategi ini untuk membangun branding yang bagus di tengah masyarakat. Misalnya, seorang influencer selalu tampil ramah di depan layar kaca, ia juga memperlihatkan kedermawanannya dengan berdonasi kepada orang yang membutuhkan. Bertahun-tahun ia membangun citra positif seperti itu di depan publik. Maka, saat ia berulah menjadi pelaku kejahatan, publik pun terkejut, bingung, dan seolah menolak kenyataan itu, bahkan beberapa langsung pasang badan untuk membelanya tanpa ragu. Di sinilah halo effect bekerja dan pelaku kejahatan yang menggunakan halo effect tahu betul cara memanfaatkan bias kognitif ini.
3. Dampak buruk halo effect bagi korban pelaku kejahatan dan keadilan sosial

ilustrasi perempuan dan laki-laki tersenyum (pexels.com/Ketut Subiyanto) Parahnya, bias kognitif ini juga dapat memutarbalikkan fakta mengenai siapa yang salah. Masyarakat yang terjebak dalam halo effect memiliki kemungkinan besar untuk melakukan victim blamming, menyalahkan korban dan menganggap laporan kejahatan yang dibuat korban hanyalah fitnah semata atau korban melakukannya agar ia bisa meraih popularitas dengan meredupkan karier pelaku.
Bayangkan, betapa besarnya perjuangan yang harus dilakukan oleh korban untuk melawan seseorang yang dikenal publik sebagai orang yang ramah dan sopan. Ketidakpercayaan, tuduhan, serta stigmatisasi terhadap korban bisa memunculkan efek jera sehingga ia enggan untuk melapor dan memilih diam dalam penderitaan. Dampak lebih luasnya, fenomena ini merusak tatanan keadilan sosial di samping menurunkan tingkat kepercayaan antarindividu.
4. Cara untuk melawan bahaya halo effect

ilustrasi chat, ponsel, hp, tersenyum bahagia (magnific.com/benzoix) Fenomena halo effect mampu menimbulkan bahaya yang serius, baik bagi individu maupun kelompok sosial. Maka, kita perlu membebaskan diri dari jebakan fenomena ini agar dapat menilai seseorang secara objektif dan gak serta merta menoleransi pelaku kejahatan ataupun menormalisasikan kejahatannya. Berikut cara yang bisa kamu lakukan.
Jangan mudah terkecoh oleh apa yang terlihat, ya. Fenomena halo effect menunjukkan bahwa kesopanan bukanlah tolok ukur mutlak atas kebaikan hati seseorang. Mulailah mengedepankan objektivitas dan teruslah menegakkan kebenaran serta keadilan.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)























