Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Healing Sekarang Jadi Mahal, pdahal Semua Orang Lagi Butuh Waras

Healing Sekarang Jadi Mahal, pdahal Semua Orang Lagi Butuh Waras
Ilustrasi merenung (pexels.com/cottonbro studio)
Share Article

Beberapa tahun terakhir, istilah “healing” berubah menjadi bagian dari gaya hidup. Orang pergi ke pantai, staycation, nongkrong di cafe estetik, sampai solo trip demi mencari jeda dari tekanan hidup yang makin berat. Masalahnya di saat kebutuhan untuk menjaga kesehatan mental makin besar, biaya kebutuhan sehari-hari juga ikut naik.

Harga makanan naik, ongkos transportasi naik, tiket hiburan naik, sementara gaji terasa jalan di tempat. Di tengah tekanan ekonomi dan nilai rupiah yang terus bergejolak, banyak orang akhirnya mengalami tekanan dan kelelahan mental yang sulit dijelaskan. Bukan cuma capek kerja, tapi capek memikirkan hidup.

1. Ketika kesehatan mental tidak selaras dengan kondisi dompet

Ilustrasi keuangan menipis (pexels.com/www.kaboompics.com)
Ilustrasi keuangan menipis (pexels.com/www.kaboompics.com)

Organisasi World Health Organization menyebut kesehatan mental adalah kondisi yang membuat seseorang mampu menghadapi tekanan hidup, bekerja dengan baik, dan tetap berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Namun WHO juga menegaskan bahwa kemiskinan, ketimpangan, dan tekanan sosial bisa meningkatkan risiko gangguan mental.

"Meskipun sebagian besar orang tangguh, orang yang terpapar keadaan buruk-termasuk kemiskinan, kekerasan, disabilitas, dan ketidaksetaraan, berisiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan mental," tulis dalam laporannya.

Psikolog dan peneliti finansial kini melihat hubungan yang makin kuat antara stres ekonomi dan kondisi psikologis masyarakat. Dalam survei American Psychiatric Association, sekitar 59 persen orang dewasa merasa cemas terhadap kondisi finansial mereka. Kecemasan soal uang bahkan bisa berkembang menjadi depresi, anxiety, hingga perilaku impulsif.

"Meskipun temuan tersebut menunjukkan bahwa keuangan pribadi merupakan pemicu stres utama, terdapat ketidaksesuaian antara persepsi dan realitas: beberapa orang mungkin terlalu khawatir, sementara orang lain yang merasa aman secara finansial mungkin sebenarnya berisiko," tulis laporannya.

"Ada versi dismorfia uang, di mana tidak peduli berapa pun yang ada di rekening bank, kamu tetap tidak merasa aman,” tambah Megan McCoy, terapis keuangan bersertifikat (CFT) dan profesor madya perencanaan keuangan pribadi di Universitas Negeri Kansas dikutip dari The Wall Street Journal (WSJ).

Dalam laporan The Wall Street Journal, ketakutan terhadap inflasi menjadi kekhawatiran utama masyarakat. Kenaikan harga kebutuhan membuat banyak orang merasa hidup mereka makin sempit meski tetap bekerja keras. Situasi ini membuat banyak orang merasa harus terus mencari hiburan kecil untuk menjaga kewarasan, walaupun dompet sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.

2. Rupiah melemah, harga naik, pikiran ikut panik

Ilustrasi keuangan (unsplash.com/Photo by naufal jajuli)
Ilustrasi keuangan (unsplash.com/Photo by naufal jajuli)

Pelemahan rupiah bukan cuma angka di berita ekonomi. Dampaknya terasa langsung ke kehidupan sehari-hari. Ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, harga barang impor, bahan baku, hingga biaya produksi ikut meningkat. Pada akhirnya, harga kebutuhan masyarakat juga ikut terdorong naik.

“Sekitar 70-80 persen komponen industri manufaktur Indonesia masih bergantung pada impor. Ketika rupiah melemah, biaya produksi otomatis naik,” jelas ekonom Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty ketika ditemui oleh IDN Times.

Di media sosial dan forum internet, keresahan soal rupiah juga makin sering muncul. Banyak orang mulai khawatir terhadap masa depan finansial mereka. Diskusi tentang investasi, tabungan dolar, hingga rasa takut menghadapi kondisi ekonomi menjadi semakin umum. Walaupun tidak semua komentar bisa dijadikan data ilmiah, keresahan kolektif ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi memang ikut memengaruhi kondisi mental masyarakat.

 

3. Healing yang dulu sederhana, kini jadi kemewahan

Ilustrasi bersantai di hotel (pexels.com/Vlada Karpovich)
Ilustrasi bersantai di hotel (pexels.com/Vlada Karpovich)

Dulu healing bisa berarti pulang cepat, makan enak, atau ngobrol dengan teman dekat. Sekarang, media sosial membuat healing terlihat seperti sesuatu yang mahal. Harus traveling, nginap di hotel bagus, atau nongkrong di tempat estetik agar dianggap berhasil 'menyembuhkan diri'. Akibatnya, banyak orang justru merasa makin stres karena tidak mampu mengikuti standar tersebut.

WHO sebenarnya menegaskan bahwa banyak intervensi kesehatan mental bisa dilakukan dengan biaya yang relatif rendah. Namun akses layanan kesehatan mental di banyak negara masih sangat terbatas dan kurang terjangkau. Artinya, ketika tekanan mental meningkat, tidak semua orang punya akses untuk benar-benar mendapat bantuan profesional.

"Banyak kondisi kesehatan mental dapat diobati secara efektif dengan biaya yang relatif rendah, namun sistem kesehatan masih kekurangan sumber daya dan kesenjangan pengobatan sangat lebar di seluruh dunia," tulis laporannya.

Sebenarnya healing tidak selalu harus mahal. Aktivitas sederhana seperti tidur cukup, olahraga ringan, membatasi media sosial, atau punya support system yang sehat juga sangat berpengaruh terhadap kondisi psikologis seseorang.

4. Generasi sekarang tidak hanya lelah fisik, tapi juga mental

Ilustrasi merenung (pexels.com/cottonbro studio)
Ilustrasi merenung (pexels.com/cottonbro studio)

WHO mencatat bahwa gangguan mental kini menjadi salah satu penyebab terbesar hilangnya produktivitas dan kualitas hidup di dunia. Bahkan depresi dan kecemasan menyebabkan kerugian ekonomi global hingga US$1 triliun setiap tahun akibat turunnya produktivitas kerja.

Kondisi ini sangat terasa pada generasi muda dan pekerja urban. Banyak orang merasa harus terus bekerja lebih keras hanya untuk mempertahankan hidup yang 'normal'. Harga rumah terasa makin jauh, biaya hidup makin tinggi, sementara media sosial terus memamerkan standar hidup yang sulit dicapai. Tekanan seperti ini perlahan memicu burnout berkepanjangan.

WHO juga menyebut bahwa kesehatan mental dipengaruhi oleh faktor sosial dan ekonomi, termasuk kemiskinan dan ketidaksetaraan. Jadi, ketika masyarakat mengalami tekanan ekonomi terus-menerus, menjaga kesehatan mental bukan lagi sekadar urusan pribadi, tetapi juga berkaitan dengan kondisi ekonomi negara secara lebih luas.

5. Media sosial membuat orang merasa harus healing terus

Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Negar Nikkhah)
Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Negar Nikkhah)

Media sosial punya pengaruh besar terhadap cara orang melihat kesehatan mental dan gaya hidup saat ini. Konten tentang healing, self-care, dan “kabur sebentar dari realita” terus muncul setiap hari. Awalnya memang bisa memberi hiburan atau inspirasi, tetapi lama-lama juga menciptakan tekanan baru.

Banyak orang merasa hidup mereka kurang bahagia jika tidak bisa ikut traveling, nongkrong di cafe mahal, atau membeli pengalaman yang dianggap estetik di internet. Tapi kamu perlu tahu bahwa media sosial bisa membuat seseorang terus membandingkan hidupnya dengan orang lain hingga memicu kecemasan dan rasa tidak puas.

"Perbandingan adalah pencuri kebahagiaan. Kamu saat ini menjalani impian-sampai kamu melihat apa yang dilakukan orang lain dengan uang mereka. Perbandingan dapat mencuri kebahagiaanmu," jelas physician philosopher Jimmy Turner, MD dikutip dari The Physician Philosopher.

"Perbandingan berpotensi mempercepat jalan kamu menuju kelelahan. Ini adalah faktor lain yang dapat mencuri identitasmu, meningkatkan stres finansial, dan memperburuk situasimu," tambahnya.

Setelah melihat standar healing di media sosial, mereka justru stres lagi karena kondisi keuangan tidak mendukung. Pada akhirnya, media sosial bukan cuma menjadi tempat hiburan, tetapi juga ruang yang diam-diam memperbesar tekanan mental dan ekonomi secara bersamaan.

Kesehatan mental seharusnya tidak menjadi kemewahan. Saat tekanan ekonomi meningkat dan nilai rupiah terus bergejolak, kebutuhan untuk merasa aman, tenang, dan stabil secara emosional justru semakin penting. Karena di tengah hidup yang makin mahal, banyak orang sebenarnya tidak mencari kesenangan berlebihan, mereka cuma sedang berusaha tetap waras.

Share Article
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima

Related Articles

See More

Hair Supplement Gak Selalu Diminum, Tren Baru Perawatan Rambut!

25 Mei 2026, 20:50 WIBLife