Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Hindari 6 Cara Atasi Stres yang Merugikan Ini, Justru Bikin Makin Berat

Hindari 6 Cara Atasi Stres yang Merugikan Ini, Justru Bikin Makin Berat
ilustrasi perempuan bermain handphone sebelum tidur (pexels.com/ronlach)
Share Article

Stres adalah bagian dari kehidupan yang sulit dihindari. Tekanan pekerjaan, masalah keluarga, hingga tuntutan sehari-hari bisa membuat siapa saja ingin segera mencari cara agar merasa lebih tenang. Namun, tidak semua cara mengatasi stres benar-benar membantu. Ada kebiasaan yang memang terasa melegakan sesaat, tetapi justru memperburuk kondisi jika dilakukan terus-menerus.

Dikutip dari Verywell Mind, menurut psikolog klinis Elizabeth Scott, PhD, cara kita merespons stres sama pentingnya dengan sumber stres itu sendiri. Alih-alih mengurangi tekanan, beberapa kebiasaan justru membuat emosi negatif bertahan lebih lama dan mempersulit kita menemukan solusi. Karena itu, berikut cara mengatasi stres yang sebaiknya kamu hindari.

1. Menghindari masalah

ilustrasi perempuan memijat kepala (pexels.com/mikaelblomkvist)
ilustrasi perempuan memijat kepala (pexels.com/mikaelblomkvist)

Saat menghadapi situasi yang membuat tertekan, menghindari masalah sering kali terasa sebagai pilihan paling mudah. Misalnya, menunda membalas pesan penting, mengabaikan tagihan, atau berpura-pura semuanya baik-baik saja. Padahal, masalah yang dihindari tidak akan hilang begitu saja.

"Ketika berbicara tentang stres, banyak hal yang kita lakukan agar merasa lebih baik justru membuat tubuh tetap terjebak dalam siklus stres," kata Liz Ross, PhD, psikolog klinis sekaligus pendiri Coping Resource Center, dikutip dari Real Simple. "Memaksa diri berkata, 'Tenanglah,' sering kali justru meningkatkan ketegangan. Ketenangan akhirnya berubah menjadi target yang harus dicapai, dan hal itu malah mengaktifkan respons stres yang lebih besar," tambahnya.

Semakin lama dibiarkan, semakin besar pula tekanan yang akan kamu rasakan. Daripada terus menghindar, cobalah memecah masalah menjadi langkah-langkah kecil yang lebih mudah diselesaikan. Sedikit demi sedikit, tindakan nyata akan jauh lebih membantu daripada sekadar berharap masalah selesai dengan sendirinya.

2. Melampiaskan stres dengan makan berlebihan

ilustrasi junk food (freepik.com/doucefleur)
ilustrasi junk food (freepik.com/doucefleur)

Banyak orang tanpa sadar memilih makanan manis, camilan, atau makanan cepat saji untuk meredakan stres. Kebiasaan ini memang dapat memberikan rasa nyaman sesaat, tetapi tidak benar-benar menyelesaikan sumber tekanan yang sedang dihadapi.

Jika dilakukan terus-menerus, emotional eating dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan, pola makan yang tidak sehat, hingga berbagai masalah kesehatan. Saat dorongan makan muncul karena emosi, cobalah mengalihkannya dengan aktivitas lain, seperti berjalan kaki, mendengarkan musik, atau mengobrol dengan orang terdekat agar stres dapat dikelola dengan cara yang lebih sehat.

"Sering kali ketika merasa stres, kita langsung mencari comfort food sebagai cara untuk mengatasinya," ujar Madhuri Jha, MPH, LCSW, psikoterapis sekaligus penasihat klinis di Psych Hub, dikutip dari Real Simple. "Sayangnya, makanan-makanan tersebut biasanya mengandung gula, lemak, atau kafein dalam jumlah tinggi. Jika dikonsumsi berlebihan, kandungan tersebut justru dapat memberikan efek yang berlawanan dengan tujuan mengurangi stres karena memengaruhi kadar kortisol dalam tubuh,” tambahnya.

3. Terlalu lama menghabiskan waktu di depan layar

ilustrasi perempuan bermain handphone sebelum tidur
ilustrasi perempuan bermain handphone sebelum tidur (pexels.com/ronlach)

Menggulir media sosial tanpa henti atau maraton menonton serial sering menjadi pelarian ketika stres melanda. Meski bisa mengalihkan pikiran untuk sementara, kebiasaan ini tidak benar-benar menyelesaikan sumber masalah yang sedang dihadapi. Sebaliknya, pekerjaan atau tanggung jawab justru bisa semakin menumpuk.

"Paparan cahaya biru, arus informasi yang terus berganti, serta berbagai konten emosional di ponsel membuat sistem saraf tetap berada dalam kondisi siaga, bahkan ketika kamu sedang berusaha rileks," kata Liz Ross. "Alih-alih membantu tubuh bersantai, kebiasaan ini justru kembali mengaktifkan jalur respons stress," tambahnya.

Penggunaan layar yang berlebihan juga dapat mengganggu kualitas tidur, menurunkan produktivitas, dan meningkatkan rasa cemas. Tidak ada salahnya menikmati hiburan digital, tetapi tetap batasi waktunya agar kamu masih memiliki ruang untuk beristirahat dan menyelesaikan masalah secara bertahap.

4. Memendam semua perasaan sendiri

ilustrasi wanita mengekspresikan kecemasan (pexels.com/alexgreen)
ilustrasi wanita mengekspresikan kecemasan (pexels.com/alexgreen)

Tidak sedikit orang memilih menyembunyikan emosi karena takut dianggap lemah atau tidak ingin merepotkan orang lain. Padahal, memendam rasa sedih, marah, atau kecewa bukan berarti emosi tersebut benar-benar hilang. Perasaan itu justru bisa terus menumpuk dan memengaruhi kesehatan mental.

Jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat meningkatkan ketegangan, memicu konflik dalam hubungan, hingga membuat stres semakin sulit dikendalikan. Mencurahkan isi hati kepada orang yang dipercaya atau menuliskan perasaan dalam jurnal bisa menjadi cara yang lebih sehat untuk memproses emosi.

5. Menunda pekerjaan karena merasa kewalahan

ilustrasi wanita berbaring (pexels.com/cottonbro)
ilustrasi wanita berbaring (pexels.com/cottonbro)

Saat stres, memulai pekerjaan sering kali terasa jauh lebih berat dari biasanya. Akibatnya, banyak orang memilih menunda tugas dengan harapan tekanan akan berkurang. Sayangnya, keputusan tersebut justru membuat beban semakin besar ketika tenggat waktu semakin dekat.

Semakin banyak pekerjaan yang tertunda, semakin tinggi pula rasa cemas yang muncul. Agar lebih mudah memulai, cobalah membagi tugas menjadi bagian-bagian kecil yang lebih realistis. Cara sederhana ini dapat membantu mengurangi rasa kewalahan sekaligus membuatmu lebih termotivasi untuk menyelesaikannya.

6. Terjebak dalam pikiran negatif secara berulang

ilustrasi wanita terbaring (unsplash.com/yrss)
ilustrasi wanita terbaring (unsplash.com/yrss)

Memikirkan masalah memang bisa membantu menemukan jalan keluar. Namun, jika kamu terus mengulang kejadian yang sama tanpa berusaha mencari solusi, kamu bisa terjebak dalam rumination, yaitu pola pikir yang terus berfokus pada hal-hal negatif. Akibatnya, stres justru terasa semakin berat.

"Berusaha mengatasi stres hanya dengan terus berpikir dan mencari-cari kesalahan justru biasanya akan memperbesar stres itu sendiri," kata Chloë Bean, LMFT, terapis trauma somatik yang berbasis di Los Angeles, dikutip dari Real Simple.

Daripada terus menyalahkan diri sendiri atau membayangkan kemungkinan terburuk, arahkan perhatian pada hal-hal yang masih bisa kamu kendalikan. Dengan membiasakan diri berpikir lebih realistis dan berorientasi pada solusi, kamu akan lebih mudah mengelola stres sekaligus menghadapi tantangan dengan lebih tenang.

Stres memang tidak selalu bisa dihindari, tetapi cara kita meresponsnya bisa menentukan apakah keadaan akan membaik atau justru semakin berat. Daripada mencari pelarian yang hanya memberikan rasa lega sesaat, pilihlah kebiasaan yang lebih sehat agar kesehatan fisik dan mental tetap terjaga dalam jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You

Decluttering Rumah: Cara Sederhana Mengurangi Stres dan Pengeluaran

01 Jul 2026, 09:00 WIBLife
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima

Related Articles

See More