Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Hukum Munggahan dalam Islam. Tradisi Menyambut Bulan Ramadan

ilustrasi Munggahan dalam Islam
ilustrasi Munggahan dalam Islam (unsplash.com/Curated Lifestyle)
Intinya sih...
  • Islam menganjurkan umatnya untuk bergembira menyambut bulan suci. Hukum Munggahan pada dasarnya adalah mubah (boleh) jika niatnya adalah untuk mensyukuri datangnya Ramadan.
  • Munggahan berasal dari kata munggah atau unggah yang berarti naik, baik secara spiritual maupun moral. Tradisi ini berkembang kuat di Jawa Barat dan menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Muslim.
  • Kegiatan Munggahan bisa dilakukan beberapa hari menjelang bulan Ramadan, seperti mengadakan makan bersama, membersihkan masjid, berziarah ke makam
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Menjelang bulan suci Ramadan, sebagian besar masyarakat Islam di Indonesia memiliki tradisi khas untuk menyambutnya. Salah satu tradisi yang paling melekat di masyarakat adalah Munggahan.

Namun, gak sedikit yang bertanya-tanya tentang hukum Munggahan dalam Islam. Oleh sebab itu, IDN Times akan mengulas tuntas mengenai makna hingga hukum Munggahan dalam Islam agar ibadahmu semakin bermakna!

Table of Content

1. Hukum Munggahan dalam Islam

1. Hukum Munggahan dalam Islam

momen Munggahan dalam Islam
momen Munggahan dalam Islam (pexels.com/ds rexy)

Apakah merayakan kedatangan Ramadan dengan tradisi tertentu diperbolehkan? Islam sendiri sangat menganjurkan umatnya untuk bergembira menyambut bulan suci Ramadan.

Hukum Munggahan dalam Islam pada dasarnya adalah mubah (boleh). Bahkan, tradisi seperti Munggahan bisa bernilai ibadah jika niatnya adalah untuk mensyukuri datangnya Ramadan.

Hal ini sejalan dengan kebiasaan Rasulullah saw yang selalu memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya ketika Ramadan tiba. Sebagaimana riwayat Imam Ahmad dan An-Nasa’i dari Abu Hurairah ra:

وَقَدْ كَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ بِقُدُوْمِ رَمَضَانَ كَمَا أَخْرَجَهُ الإِمَامُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِيُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَلَفْظُهُ لَهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ بِقُدُوْمِ رَمَضَانَ بِقَوْلِ قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ كُتِبَ عَلَيْكُمْ صِيَامُهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حَرُمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حَرُمَ الخَيْرَ الكَثِيْرَ

Artinya:
“Bulan Ramadan telah mendatangi kalian, sebuah bulan penuh berkah di mana kalian diwajibkan berpuasa di dalamnya, sebuah bulan di mana pintu langit dibuka, pintu neraka jahim ditutup, setan-setan diikat, dan sebuah bulan di mana di dalamnya terdapat malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang luput dari kebaikannya, maka ia telah luput dari kebaikan yang banyak.”

2. Asal-usul Munggahan dalam Islam

Ilustrasi Munggahan dalam Islam
Ilustrasi Munggahan dalam Islam (Unsplash.com/ Md Shahin)

Munggahan sendiri berasal dari dari kata munggah atau unggah yang berarti naik. Maknanya bukan sekadar naik secara fisik, tetapi naik, baik secara spiritual maupun moral.

Dilansir NU Online, tradisi ini berkembang kuat di Jawa Barat dan menjadi bagian dari kearifan lokal umat muslim. Menariknya, tradisi serupa juga berkembang di berbagai daerah lain dengan nama berbeda.

Di masyarakat Melayu, tradisi ini dikenal dengan nama meugang atau megengan. Sedangkan di Jawa disebut tradisi ruwahan. Meskipun namanya berbeda, namun inti acaranya tetap menyambut Ramadan dengan kegembiraan.

3. Apa saja kegiatan saat Munggahan?

Tradisi Munggahan sebelum Ramadhan
ilustrasi Munggahan (unsplash.com/nci)

Lalu, apa saja kegiatan yang dilakukan saat Munggahan? Rupanya, setiap daerah punya cara unik menyambut Ramadan. Misalnya masyarakat di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau yang mengisinya dengan perlombaan rakyat.

Di Kudus sendiri, perayaan ini diisi dengan Kirab Dandangan. Sementara jika kamu melihat komunitas Arab di sepanjang Sungai Musi, Palembang, mereka menggelar Tradisi Ziarah Kubro.

Umumnya, kegiatan Munggahan bisa dilakukan beberapa hari menjelang bulan Ramadan, tepatnya pada bulan Sya’ban, yaitu:

  • Mengadakan makan bersama keluarga, kerabat, atau tetangga sebagai bentuk kebersamaan.
  • Membersihkan masjid atau tempat ibadah sebagai persiapan menyambut Ramadan.
  • Berziarah ke makam orang tua dan keluarga untuk mendoakan mereka.
  • Menggelar doa bersama, zikir, dan tahlil.
  • Saling bermaaf-maafan untuk membersihkan hati sebelum memasuki bulan suci.

Demikian hukum Munggahan dalam Islam yang selama ini sering dipertanyakan. Ternyata, di balik kumpul keluarga dan makan bersama jelang Ramadan, ada esensi ibadah yang mendalam. Selamat menyambut bulan Ramadan!

FAQ seputar munggahan

Apakah Munggahan wajib dilakukan?

Tidak, Munggahan adalah tradisi budaya, bukan kewajiban agama (syariat). Namun, nilai-nilai di dalamnya seperti silaturahmi dan sedekah sangat dianjurkan dalam Islam.

Kapan waktu yang tepat untuk Munggahan?

Biasanya dilakukan 1 hingga 3 hari menjelang tanggal 1 Ramadan.

Bolehkah Munggahan hanya dengan makan-makan saja?

Boleh saja sebagai bentuk kegembiraan, namun akan lebih sempurna jika dibarengi dengan saling memaafkan dan meningkatkan ibadah lainnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nafi Khoiriyah
EditorNafi Khoiriyah
Follow Us

Latest in Life

See More

4 Tips Merayakan Valentine bagi Pasangan Book Lovers

13 Feb 2026, 18:18 WIBLife