Ipin, Mail dan Dzul duduk berdampingan (dok. Les' Copaque Production/Upin & Ipin)
Kalau keempat karakter tersebut berada dalam satu kantor, pembagian perannya sebenarnya cukup menarik. Mail bisa mengurus penjualan dan mencari peluang bisnis, Fizi menangani media sosial dan hubungan pelanggan, Ehsan menjadi koordinator proyek, sedangkan Jarjit mengurus ide kreatif dan konten.
Secara sederhana, masing-masing punya 'wilayah' yang berbeda tetapi saling terhubung. Masalahnya, karakter yang berbeda juga bisa menghasilkan konflik. Mail mungkin terlalu fokus pada target, Fizi terlalu banyak berkomentar, Ehsan terlalu suka mengatur, sedangkan Jarjit malah sibuk membuat pantun ketika deadline semakin dekat.
Namun, konflik semacam ini tidak otomatis membuat tim gagal. Penelitian tentang keberagaman tim menunjukkan bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan sekaligus sumber konflik, dan psychological safety berperan dalam mendukung kerja tim yang efektif.
"Baik psychological safety maupun kejelasan norma tim dapat memprediksi kinerja dan kepuasan kerja anggota tim," demikian laporan studi Psychological Safety and Norm Clarity in Software Engineering Teams dalam arXiv.
Jadi, kalau harus menentukan siapa yang menjadi bos, jawabannya mungkin justru Ehsan. Tetapi dengan syarat ia belajar mendengarkan. Mail menjadi mesin bisnis, Fizi menjadi radar sosial, Jarjit menjadi otak kreatif, dan Ehsan menjadi pengarah tim. Kalau menurutmu bagaimana?
Jika kita membayangkan Mail, Fizi, Ehsan, dan Jarjit menjadi teman sekantor, mungkin memang tidak ada yang harus memiliki karakter sempurna untuk menjadi anggota tim yang baik. Pelajarannya juga berlaku di dunia kerja nyata, tim yang kuat bukan selalu berisi orang yang sama-sama hebat dalam segala hal, tetapi orang dengan kekuatan berbeda yang tahu cara bekerja bersama.