7 Kalimat yang Gak Bakal Diucapkan Teman Baik, Menyakitkan!

- Garis bawahi kata terpaksa. Siapa atau apa yang memaksanya? Bukankah kamu sama sekali tidak pernah mengemis agar dia mau berteman denganmu?
- Dalam hal apa pun ia merasa lebih unggul darimu, sungguh aneh seorang kawan sampai mengucapkannya.
- Jangan terintimidasi oleh ucapannya. Kamu mesti segera melawan usahanya menunjukkan superioritasnya dengan bertanya balik.
Seperti apa kriteria teman baik menurutmu? Sudahkah kamu memilikinya? Hati-hati, terkadang predikat teman baik keliru disematkan pada seseorang. Bukan karena dia benar-benar sosok yang baik padamu atau kasih pengaruh positif.
Dirimu cuma terlalu menoleransi setiap sikapnya yang sebetulnya sudah tergolong jahat padamu. Kamu harus mulai membuka mata. Jangan membiarkan dirimu menjadi bulan-bulanan sikap buruk siapa pun.
Termasuk orang yang selama ini disebut olehmu sebagai kawan baik. Kalimat yang gak bakal diucapkan teman baik berikut ini seharusnya tidak diutarakan sahabat sejati. Sampai kapan kamu akan diam saja dan bertahan bersamanya? Mulailah menjauh.
1. Aku berteman denganmu karena terpaksa

Garis bawahi kata terpaksa. Siapa atau apa yang memaksanya? Bukankah kamu sama sekali tidak pernah mengemis agar dia mau berteman denganmu? Jika pun paksaan itu karena kondisi lain seperti dia dijauhi teman-teman, artinya justru kamu yang sangat baik hati.
Dirimu mau berkawan dengannya. Tidak sepantasnya ia membalas sikapmu yang friendly dengan kalimat seperti di atas. Lagi pula, dia sudah besar untuk bisa memilih berkawan dengan orang lain atau sekalian sama sekali tak punya teman.
2. Aku lebih baik daripada kamu

Dalam hal apa pun ia merasa lebih unggul darimu, sungguh aneh seorang kawan sampai mengucapkannya. Itu tanda kesombongannya luar biasa. Di matanya, dirimu selalu tak lebih dari nomor dua.
Ia yang berada di posisi pertama. Bahkan boleh jadi peringkatmu jauh di bawahnya, mungkin 10 atau 100. Kamu tidak serendah itu. Membiarkannya bersikap congkak atas dirimu sama dengan kamu sedang merendahkan diri.
Memang kamu tak perlu ikutan menyombongkan diri. Akan tetapi, mengurangi kedekatan kalian lebih baik. Hubungan pertemanan yang tidak menjunjung prinsip kesetaraan pantas ditinggalkan.
3. Kalau bukan aku, memangnya ada yang mau temenan sama kamu?

Jawabannya tentu saja banyak. Dia hanya merasa menjadi dewa penolong bagimu. Mungkin karena kamu introver sehingga lingkar pertemananmu kecil. Namun, itu sama sekali tak berarti tidak ada orang lain yang mau berkawan denganmu.
Jawab pertanyaannya yang menantang bukan hanya dengan kata-kata. Begitu kamu mendengarnya, mulai hari itu juga dirimu mesti menunjukkan betapa seisi dunia ini menerimamu. Dirimu tidak butuh dikasihani oleh kawan palsu sepertinya.
4. Kamu yang paling diuntungkan dari pertemanan kita, aku biasa aja

Apakah kalian terlibat dalam hubungan bisnis dan keuntungan terbesar masuk ke rekeningmu? Jika tidak, ucapannya tak masuk akal. Ia cuma hendak membuatmu merasa gak enak padanya.
Seolah-olah kamu sudah mencuranginya. Juga seakan-akan dia menjadi korban belaka dalam hubungan pertemanan kalian. Barangkali ia merasa lebih hebat daripada dirimu. Kamu di matanya cuma sedang pansos dengan mendekatinya.
Kalau begitu menjauhlah. Buktikan bahwa dirimu tidak berkawan dekat dengannya juga tak merugikanmu sedikit pun. Justru kamu lebih tenang sebab tidak diposisikan seolah-olah dirimu berutang budi padanya.
5. Jangan macam-macam, aku tahu semua rahasiamu

Ini tipe teman yang licik. Dalam banyak waktu ia telah seolah-olah tulus dalam mendengarkan curahan hatimu. Kamu juga berpikir semua pengetahuannya tentangmu wajar karena hubungan kalian yang dekat.
Namun, mengapa sekarang semua itu dijadikannya senjata buat merampas kemerdekaanmu? Ia tengah menekanmu habis-habisan dengan kartu as yang dipegangnya tentang hidupmu. Ada risiko kartu as itu dibukanya bila dirimu menjauh darinya.
Akan tetapi, membiarkan kamu tersandera olehnya juga tak menjamin keamananmu. Orang yang merasa memegang senjata dapat kapan saja menggunakannya. Bahkan meski dirimu tidak melakukan apa-apa. Sama-sama berisiko, kamu tetap lebih bermartabat menjadi pribadi yang bebas intervensi.
6. Aku menyesal punya teman sepertimu

Kalimat ini masih dapat ditoleransi seandainya kamu baru saja berbuat sangat jahat padanya. Dia marah, kecewa, dan sedih sekali. Lumrah kalau ia tidak hanya menyesali pertemanan kalian. Bahkan pertemuan kalian pun seandainya bisa mending tak pernah terjadi.
Akan tetapi, kalimat di atas amat berlebihan jika kamu tidak melakukan perbuatan apa pun yang berakibat buruk padanya. Atau, persoalannya terlalu sepele bila dibandingkan dengan kalimat penyesalannya. Misal, dirimu cuma menolak ajakan pergi bersamanya karena kadung ada janji dengan orang lain.
7. Kamu tanpa aku bisa apa?

Jangan terintimidasi oleh ucapannya. Kamu mesti segera melawan usahanya menunjukkan superioritasnya dengan bertanya balik. "Memangnya kamu siapa?"
Jangan takut mengatakannya karena ada begitu banyak hal yang bisa dilakukan olehmu sendiri atau bersama orang lain. Ia tidak punya peran sebesar bayangannya dalam kehidupanmu. Dia juga bukan temanmu sejak masa kecil.
Jauh sebelum kalian berkawan dan hingga saat ini, banyak sekali hal hebat yang dicapai olehmu. Tidak perlu kontribusi apa pun darinya. Dia seharusnya tak berupaya menjadi pahlawan kesiangan dalam hidupmu.
Tujuh kalimat yang gak bakal diucapkan teman baik memang seharusnya tak diutarakan secara enteng oleh mereka. Jika memang kamu mendengarnya, jangan ragu mencabut predikat teman baik pada seseorang kalau ucapannya sekejam di atas. Kamu lahir ke dunia tidak untuk disakiti serta direndahkan oleh orang lain. Malah seharusnya seseorang berucap lebih sopan sebagai bentuk syukur atas pertemanan kalian yang pasti saling memberi manfaat.



















