Kesalahan Kecil saat Imlek yang Sering Memicu Konflik Keluarga

- Konflik saat Imlek kerap bermula dari kesalahan kecil dalam etika berkumpul, yang dianggap tidak sopan atau menghargai tradisi.
- Perbedaan kebiasaan, selera, dan ekspektasi berkumpul mudah disalahartikan sebagai sikap tidak menghargai.
- Kesadaran dan komunikasi sejak awal dapat mencegah gesekan serta menjaga suasana Imlek tetap hangat.
Imlek sering dipahami sebagai momen berkumpul dan saling mendoakan hal baik. Namun, dalam praktiknya, perayaan ini kerap menyimpan gesekan kecil yang muncul tanpa disadari. Perbedaan kebiasaan, cara berkomunikasi, hingga ekspektasi antaranggota keluarga bisa membuat suasana yang seharusnya hangat justru terasa canggung.
Banyak konflik saat Imlek bukan lahir dari niat buruk, melainkan dari hal sepele yang dianggap remeh. Karena Imlek identik dengan tradisi dan simbol, kesalahan kecil sering dibaca sebagai sikap tidak menghargai. Berikut beberapa kesalahan kecil yang sering terjadi dan tanpa sadar memicu konflik keluarga saat Imlek.
1. Cara memberi angpau memicu salah paham keluarga

Memberi angpau sering dianggap sekadar formalitas. Padahal, bagi sebagian keluarga, cara memberi jauh lebih penting daripada nominalnya. Angpau yang diberikan sambil bercanda berlebihan atau tanpa sikap hormat bisa terasa tidak pantas bagi anggota keluarga yang lebih tua. Ada pula situasi ketika angpau diberikan terburu-buru tanpa kontak mata sehingga maknanya terasa hambar.
Masalah juga muncul saat orangtua membandingkan isi angpau antaranggota keluarga meski tidak diucapkan secara langsung. Hal kecil ini bisa memunculkan rasa tidak dihargai, terutama bagi mereka yang sedang mengalami kondisi finansial berbeda. Imlek berubah dari momen berbagi menjadi ajang diam-diam menilai satu sama lain.
2. Pertanyaan pribadi dilontarkan tanpa membaca situasi

Pertanyaan soal pekerjaan, pasangan, atau rencana hidup sering dianggap wajar saat Imlek karena keluarga jarang berkumpul. Namun, tidak semua orang berada pada fase hidup yang sama atau siap membicarakan hal tersebut. Pertanyaan yang diulang-ulang justru membuat suasana makan bersama menjadi tidak nyaman.
Bagi sebagian orang, pertanyaan ini terdengar seperti interogasi, bukan bentuk perhatian. Apalagi, kadang ini dibarengi perbandingan dengan sepupu atau saudara lain. Alih-alih mempererat, obrolan seperti ini malah menutup ruang komunikasi yang seharusnya santai.
3. Kebiasaan bermain ponsel dianggap tidak sopan

Menggunakan ponsel saat berkumpul sering dianggap hal biasa, terutama bagi generasi yang terbiasa multitasking. Namun, dalam suasana Imlek, kebiasaan ini bisa ditafsirkan sebagai sikap tidak menghargai kebersamaan. Orang yang sibuk dengan layar sering dinilai tidak hadir sepenuhnya.
Masalahnya bukan pada ponselnya, melainkan pada momen yang terlewat. Ketika anggota keluarga bercerita dan respons hanya berupa anggukan sambil menatap layar, rasa diabaikan muncul. Hal sederhana ini perlahan menciptakan jarak emosional tanpa perlu pertengkaran terbuka.
4. Perbedaan selera makanan menimbulkan komentar sensitif

Meja makan Imlek sering menjadi pusat interaksi keluarga sekaligus sumber gesekan keluarga. Komentar soal cara makan, porsi, atau pilihan makanan kerap terlontar tanpa niat buruk. Namun, bagi penerimanya, komentar tersebut bisa terasa menyudutkan.
Ada anggota keluarga yang sengaja menghindari makanan tertentu karena alasan pribadi, bukan karena tidak menghargai masakan. Ketika pilihan ini dipermasalahkan di depan umum, suasana makan menjadi tegang. Padahal, Imlek seharusnya memberi ruang nyaman bagi semua orang di meja yang sama.
5. Ekspektasi kumpul lama tidak disepakati sejak awal

Tidak semua orang memiliki energi atau waktu yang sama untuk berkumpul seharian. Ada yang datang dengan niat singgah sebentar, sementara keluarga berharap kehadiran penuh sampai malam. Ketidaksamaan ekspektasi ini sering berujung pada rasa kecewa.
Saat seseorang pamit lebih awal, keputusan tersebut kerap ditafsirkan sebagai kurang menghargai yang lain. Padahal, bisa jadi ada agenda selanjutnya atau kebutuhan pribadi yang harus dipenuhi. Tanpa komunikasi sejak awal, hal sepele ini mudah berubah menjadi sumber konflik.
Banyak konflik saat Imlek sebenarnya lahir dari kebiasaan kecil yang luput disadari, bukan dari niat untuk menyakiti. Memahami bahwa setiap anggota keluarga datang dengan latar dan kondisi berbeda bisa membantu menjaga suasana tetap hangat. Semoga Imlek 2026 kali ini penuh kebahagiaan tanpa perlu ada konflik keluarga, ya!



















