Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Kebiasaan Konsumsi Konten yang Tanpa Sadar Mempengaruhi Mindset

ilustrasi aktif media sosial
ilustrasi aktif media sosial (pexels.com/MART PRODUCTION)
Intinya sih...
  • Scroll tanpa tujuan di social media dapat membentuk mindset pasif dan perbandingan hidup yang berlebihan.
  • Menonton konten negatif atau clickbait bisa menimbulkan ketakutan atau kecemasan, memilih kualitas konten membantu membentuk mindset yang lebih seimbang.
  • Mengikuti influencer atau figur publik secara intens dapat memicu perbandingan sosial, mengikuti influencer edukatif atau motivasional bisa jadi alternatif yang lebih sehat.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di era digital, konsumsi konten sudah jadi bagian rutin dari hidup sehari-hari. Mulai dari social media, podcast, YouTube, hingga artikel berita, semuanya membentuk cara pandang dan pola pikir secara halus. Tanpa disadari, konten yang dikonsumsi bisa membentuk mindset positif maupun negatif tergantung intensitas dan jenisnya.

Kebiasaan memilih konten sering dilakukan tanpa pertimbangan panjang, padahal efeknya cukup besar. Konten yang terlalu sensational, negatif, atau membandingkan kehidupan orang lain bisa menimbulkan stres atau kecemasan. Memahami kebiasaan konsumsi konten bisa membantu mengarahkan pikiran ke pola yang lebih sehat dan produktif. Yuk, kenali beberapa kebiasaan yang sering memengaruhi mindset supaya konsumsi konten terasa lebih bijak dan bermakna!

1. Scroll tanpa tujuan di social media

ilustrasi pria menggunakan HP
ilustrasi pria menggunakan HP (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Scroll di social media tanpa arah sering terasa menyenangkan, tapi ternyata bisa memengaruhi cara berpikir. Algoritma menampilkan konten berdasarkan kebiasaan lama, sehingga otak cenderung menerima pola pikir yang repetitif. Lama-lama, kebiasaan ini bisa membentuk mindset pasif atau perbandingan hidup yang berlebihan.

Efek ini terjadi karena setiap feed menampilkan kehidupan orang lain yang dikurasi secara selektif. Akibatnya, persepsi tentang realita bisa bergeser dan memicu ekspektasi yang gak realistis. Membatasi waktu scroll dan memilih konten yang bermanfaat bisa membantu menjaga keseimbangan perspektif.

2. Menonton content negatif atau clickbait

ilustrasi pria menggunakan HP
ilustrasi pria menggunakan HP (pexels.com/Olha Ruskykh)

Konten negatif dan clickbait punya daya tarik tinggi karena sifatnya emotional hook. Mata dan pikiran cenderung tertarik, tapi efek jangka panjangnya bisa menimbulkan ketakutan atau kecemasan. Seringkali, pesan yang disampaikan lebih sensasional daripada informatif, sehingga memengaruhi cara pandang terhadap realita.

Membatasi konsumsi jenis ini bukan berarti menghindari informasi, tapi lebih pada memilih kualitas konten. Pilihan konten yang lebih netral atau edukatif membantu membentuk mindset yang lebih seimbang. Dengan strategi sederhana ini, pikiran tetap fokus pada hal-hal yang relevan dan positif.

3. Mengikuti influencer atau figur publik secara intens

ilustrasi media sosial TikTok
ilustrasi media sosial TikTok (unsplash.com/Swello)

Mengikuti influencer atau figur publik bisa memberi inspirasi, tapi intensitas yang tinggi juga punya dampak. Konten yang konsisten menampilkan kesuksesan atau lifestyle mewah bisa memicu perbandingan sosial. Secara gak langsung, hal ini memengaruhi persepsi tentang pencapaian diri sendiri.

Penting untuk tetap menyaring konten dan mengambil yang relevan dengan tujuan pribadi. Mengikuti influencer edukatif atau motivasional bisa jadi alternatif yang lebih sehat. Dengan cara ini, konsumsi konten tetap memberi energi positif tanpa menimbulkan tekanan psikologis yang gak perlu.

4. Konsumsi berita 24 jam nonstop

ilustrasi pria menggunakan HP
ilustrasi pria menggunakan HP (pexels.com/MART PRODUCTION)

Berita nonstop dari berbagai platform sering membuat pikiran terasa terbebani. Informasi negatif atau sensational news bisa memicu stres dan rasa cemas yang berkepanjangan. Mindset pun bisa terdorong ke arah pesimisme tanpa disadari.

Untuk mengatasi hal ini, konsumsi berita sebaiknya dilakukan secara selektif dan terjadwal. Pilih sumber terpercaya dan fokus pada berita yang relevan, bukan sekadar klik atau trending topic. Pola ini membantu pikiran tetap fokus dan objektif, serta mencegah kelelahan mental akibat informasi berlebihan.

5. Konsumsi entertainment yang terlalu berlebihan

ilustrasi menonton video
ilustrasi menonton video (pexels.com/SHVETS production)

Menonton film, drama, atau video entertainment memang menyenangkan, tapi durasi berlebihan punya efek pada pola pikir. Terlalu banyak waktu yang dihabiskan di dunia virtual bisa membuat persepsi realita jadi kabur. Pikiran jadi cenderung mencari kepuasan instan, sehingga kesabaran dan fokus jangka panjang berkurang.

Strategi sederhana seperti menetapkan jadwal nonton atau memilih konten yang memberi inspirasi bisa menyeimbangkan konsumsi hiburan. Dengan memilih entertainment yang berkualitas, mindset tetap terjaga dan hiburan tetap produktif. Hal ini membantu menjaga energi mental agar tetap segar dan kreatif.

Kebiasaan konsumsi konten punya efek yang lebih dalam daripada sekadar hiburan sehari-hari. Pilihan yang tepat bisa membentuk mindset positif, sementara pola yang gak disadari bisa menimbulkan stres dan persepsi yang miring. Memahami kebiasaan ini membantu menavigasi dunia digital secara lebih sehat dan terarah. Dengan kontrol kecil atas konsumsi konten, pikiran bisa tetap fokus, kreatif, dan resilient menghadapi tantangan harian.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Agsa Tian
EditorAgsa Tian
Follow Us

Latest in Life

See More

Model Rambut yang Tren di Media Sosial Tahun 2026,Tertarik Coba?

09 Feb 2026, 20:03 WIBLife