Mengenal Delayed Gratification, Kebiasaan Menunda Kesenangan

- Menunda pengeluaran uang untuk menghindari keputusan impulsif
- Memilih menyimpan atau menginvestasikan uang daripada langsung dipakai
- Memilih pulang lebih awal meski masih bisa bertahan untuk mencegah kelelahan dan penyesalan di kemudian hari
Delayed gratification ialah kebiasaan menunda kesenangan bukan karena merasa tidak mampu, melainkan karena menyadari bahwa kesenangan tersebut berpotensi menimbulkan kerepotan di kemudian hari. Banyak orang melakukannya tanpa sadar, bukan demi mencapai target hidup tertentu, melainkan agar urusan di masa depan tidak menjadi lebih rumit dari yang seharusnya.
Delayed gratification berperan bukan sebagai bentuk penolakan terhadap kesenangan, melainkan sebagai cara mengatur waktu agar kesenangan tidak berubah menjadi beban. Yuk simak apa saja contoh delayed gratification dalam kehidupan sehari-hari!
1. Tidak langsung menghabiskan uang yang ada di tangan

Uang baru masuk rekening, notifikasi muncul, dan rasanya langsung pengin dipakai. Buka aplikasi belanja, lihat tiket acara, atau sekadar mikir makan enak malam ini. Semua terasa masuk akal karena uangnya ada dan belum dipakai ke mana-mana. Di kepala, pengeluaran itu terasa biasa dan aman untuk kamu gunakan.
Namun, ada orang yang memilih menutup aplikasi dan menunggu. Bukan karena uangnya kurang, tapi karena sudah pernah berada di fase impulsif setelah uang habis. Dengan tidak langsung membelanjakan uang, masalah yang biasanya muncul seminggu kemudian ikut tertunda. Uang tetap utuh dan hidup tidak perlu dikejar-kejar akibat keputusan impulsif.
2. Memilih menyimpan atau menginvestasikan uang daripada langsung dipakai

Punya uang Rp25 juta berarti banyak hal bisa langsung dilakukan. Tiket konser bisa dibeli sekarang, hotel bisa dipesan malam itu juga, dan barang mahal terasa tidak terlalu berat untuk dibayar. Dalam satu atau dua hari, uang itu bisa habis tanpa sisa. Kesenangannya nyata, langsung kamu rasakan tapi hanya ketika momen kamu berhasil mendapatkannya.
Sebagian orang memilih tidak melakukan apa-apa dengan uang tersebut. Uang disimpan atau dimasukkan ke investasi karena sudah tahu rasanya pulang ke rumah dengan saldo menipis. Dengan keputusan itu, urusan keuangan setelahnya tetap berjalan normal tanpa perlu menutup lubang di sana-sini.
3. Memilih pulang lebih awal meski masih bisa bertahan

Ada kondisi ketika seseorang sebenarnya masih bisa duduk lebih lama dan ikut sampai acara selesai. Acaranya belum bubar, orang-orang masih ngobrol, dan secara teknis tidak ada alasan mendesak untuk pulang. Namun, badan sudah mulai terasa berat dan besok masih ada urusan yang tidak bisa ditunda. Di titik ini, pilihan pulang lebih awal mulai terasa masuk akal.
Dengan pulang lebih cepat, kesenangan malam itu memang tidak kamu nikmati sepenuhnya. Namun, tubuh mendapat waktu istirahat dan esok hari tidak diawali dengan rasa capek atau penyesalan. Aktivitas tetap berjalan normal tanpa harus membayar kesenangan semalam dengan kondisi yang berantakan. Keputusan ini sederhana, tetapi langsung terasa manfaatnya keesokan hari.
4. Tidak langsung membalas pesan saat pikiran sedang panas

Ada pesan yang dibaca sekali saja sudah cukup untuk mengubah suasana hati. Nada tulisan bisa terasa menyebalkan, meski maksud aslinya belum tentu seperti itu. Dalam kondisi emosi naik, keinginan untuk langsung membalas biasanya muncul tanpa banyak pertimbangan. Kalimat yang diketik cepat sering lebih mengikuti perasaan daripada situasi sebenarnya.
Dengan memilih tidak langsung merespons, seseorang memberi waktu bagi dirinya sendiri untuk tenang. Setelah emosi mereda, isi pesan sering kali tidak terasa seburuk kesan awal. Balasan yang akhirnya dikirim pun menjadi lebih singkat dan tidak berlebihan. Cara ini membuat percakapan berhenti di situ, tanpa berkembang menjadi masalah yang lebih panjang.
5. Menahan diri dari pengeluaran kecil yang sebenarnya bisa dilewati

Pengeluaran kecil sering lewat begitu saja karena tidak terasa mengganggu. Membeli minuman di jalan, camilan sore, atau barang murah biasanya dianggap tidak akan berpengaruh apa pun. Karena nominalnya ringan, keputusan itu diambil cepat tanpa dipikir panjang. Baru terasa belakangan, ketika jumlahnya terkumpul tanpa pernah benar-benar disadari.
Delayed gratification muncul saat seseorang memilih untuk tidak mengambil pengeluaran kecil tersebut. Bukan karena sedang berhemat, tetapi karena tahu kebiasaan seperti ini susah untuk berhenti. Dengan melewatinya, uang tidak bocor sedikit demi sedikit tanpa tujuan yang gak jelas. Pilihan sederhana ini sering membuat pengeluaran terasa lebih masuk akal dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Delayed gratification terlihat dari keputusan untuk tidak langsung bertindak meskipun kesempatannya ada. Penundaan ini dilakukan karena ada pertimbangan tentang akibat setelahnya. Kesenangan tetap bisa diambil, hanya waktunya yang diatur. Dengan cara ini, banyak masalah tidak perlu muncul karena keputusan gegabah yang kamu ambil.



















