Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Bisa Terjebak Hubungan Parasosial? Ini 5 Penyebabnya

4 min read
Kenapa Bisa Terjebak Hubungan Parasosial? Ini 5 Penyebabnya
ilustrasi cowok memegang ponsel (unsplash.com/nasiklababan)
  • Hubungan parasosial muncul ketika kedekatan dengan figur publik terasa personal, meski interaksinya sebenarnya tidak berlangsung secara langsung atau setara.
  • Kesepian, kebutuhan untuk merasa dimengerti, serta paparan konten berulang dapat membuat figur publik terasa seperti teman dekat dalam rutinitas sehari-hari.
  • Keterikatan dapat menguat saat konten dijadikan pelarian dari masalah dan interaksi digital kecil menciptakan kesan adanya ikatan pribadi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah merasa sangat dekat dengan seorang artis, content creator, idol, atau tokoh publik yang sebenarnya belum pernah ketemu secara langsung? Kamu hafal kebiasaannya, tahu makanan favoritnya, mengikuti hampir semua aktivitasnya, bahkan merasa ikut sedih ketika dia sedang mengalami masalah. Dalam psikologi, kedekatan semacam ini dikenal sebagai hubungan parasosial.

Hubungan parasosial sebenarnya gak selalu buruk. Mengagumi seseorang, menikmati kontennya, atau merasa terhibur karena kehadiran seorang figur publik merupakan hal yang wajar. Namun, akan jadi masalah jika keterikatan tersebut mulai banyak mengganggu kehidupan sehari-hari. Lantas, kenapa seseorang bisa sampai terjebak dalam hubungan parasosial?

  1. 1. Merasa kesepian dan membutuhkan teman

    Kesepian
    ilustrasi kesepian (pexels.com/Keenan Constance)

    Salah satu alasan kamu bisa semakin terikat dengan figur publik adalah kebutuhan akan koneksi sosial. Ketika kamu sedang merasa kesepian, konten dari seseorang yang rutin muncul di layar bisa memberikan sensasi seperti memiliki teman yang selalu hadir. Misalnya, seorang content creator sering mengunggah vlog sehari-hari, bercerita tentang masalah pribadi, atau berbicara langsung di depan kamera.

    Walaupun komunikasi tersebut sebenarnya ditujukan kepada banyak penonton sekaligus, format seperti ini terasa personal. Kamu bisa mulai terbiasa mendengar suara dan cerita orang tersebut setiap hari. Saat sedang makan, perjalanan ke kampus, sebelum tidur, atau ketika sedang merasa tidak punya teman untuk diajak bicara, kontennya menjadi teman virtual yang menemani dan membuat nyaman.

  2. 2. Merasa dimengerti oleh figur yang diikuti

    Menggunakan ponsel
    ilustrasi memegang ponsel (pexels.com/olly)

    Konten yang dibuat figur publik sering membahas pengalaman yang sangat relatable. Mulai dari putus cinta, kegagalan, masalah keluarga, pekerjaan, insecure, sampai perjuangan mencapai sesuatu. Ketika kamu mendengar seseorang membicarakan pengalaman yang ternyata mirip dengan kehidupanmu, muncul perasaan dimengerti.

    Perasaan tersebut bisa menjadi sangat kuat karena kamu menemukan pengalaman yang selama ini sulit dijelaskan kepada orang lain. Misalnya, seorang penyanyi menulis lagu tentang kehilangan seseorang. Kamu sedang mengalami hal serupa sehingga lagu tersebut terasa seperti mewakili perasaanmu. Lama-kelamaan, bukan hanya lagunya yang kamu sukai, tapi juga sosok di balik lagu tersebut.

  3. 3. Otak jadi terbiasa dengan kehadiran yang berulang

    Menggunakan ponsel
    ilustrasi menggunakan ponsel (pexels.com/ Anna Tarazevich)

    Semakin sering kamu melihat seseorang, semakin familiar sosok tersebut terasa. Figur publik yang muncul setiap hari di media sosial bisa menjadi bagian dari rutinitas. Awalnya kamu hanya melihat satu video karena penasaran. Besoknya muncul video lain. Kemudian kamu mengikuti akunnya, menonton livestream, mendengarkan podcast, sampai akhirnya algoritma semakin sering menampilkan kontennya.

    Tanpa terasa, sosok tersebut menjadi familiar. Rasa familiar ini dapat membuat seseorang terasa lebih dekat daripada orang asing yang jarang ditemui. Ditambah lagi, banyak platform digital menggunakan sistem rekomendasi dan terus menyajikan konten berdasarkan apa yang sering kamu tonton atau sukai. Akibatnya, kamu bisa semakin sering terpapar sosok yang sama.

  4. 4. Figur publik menjadi pelarian dari masalah di dunia nyata

    Menggunakan ponsel
    ilustrasi melihat ponsel (unsplash.com/eddybllrd)

    Hubungan parasosial juga bisa terasa semakin kuat ketika seseorang menggunakannya sebagai tempat melarikan diri dari tekanan kehidupan sehari-hari. Ketika tugas kuliah menumpuk, pekerjaan bikin stres, hubungan sedang bermasalah, atau kehidupan terasa monoton, menonton konten dari figur favorit bisa jadi cara untuk mendapatkan hiburan.

    Gak ada yang salah dengan mencari hiburan. Masalahnya kalau aktivitas tersebut menjadi satu-satunya cara untuk menghindari masalah. Misal, setiap merasa kesepian, kamu langsung membuka media sosial dan mencari konten idolamu. Saat sedang kecewa, kamu menghabiskan waktu berjam-jam mengikuti kehidupan figur publik. Perlahan, dunia virtual terasa jauh lebih nyaman dibandingkan menghadapi kehidupan nyata.

  5. 5. Merasa memiliki ikatan pribadi karena interaksi digital

    Menggunakan ponsel
    ilustrasi menggunakan ponsel (pexels.com/cottonbro)

    Media sosial membuat hubungan antara figur publik dan penggemar terasa jauh lebih dekat. Sekarang, seorang content creator bisa membalas komentar, menyukai unggahan penggemar, melakukan livestream, atau menjawab pertanyaan melalui fitur tanya jawab. Bagi penggemar, interaksi kecil seperti komentar yang dibalas bisa terasa sangat berarti.

    Kamu mungkin merasa, "Dia melihat komentarku," atau "Dia tahu aku ada." Sensasi tersebut dapat memperkuat perasaan memiliki hubungan personal, meskipun interaksi tersebut hanya terjadi sesekali dan terbatas. Hal serupa juga bisa terjadi ketika figur publik menggunakan bahasa yang terasa akrab. Hal ini yang membuat jarak antara figur publik dan penggemarnya terasa semakin tipis.

    Hubungan parasosial bisa terbentuk karena berbagai alasan psikologis dan sosial. Kedekatan tersebut tidak otomatis berarti buruk. Yang penting adalah tetap memiliki batas antara dunia penggemar dan kehidupan pribadi, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More