Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Fashion Sering Dipakai untuk Menyuarakan Sikap?
ilustrasi orang-orang yang sedang berunjuk rasa lewat fashion (pexels.com/followingnyc)

Fashion memang identik dengan pakaian, tren, dan penampilan, tetapi fungsinya tidak berhenti pada persoalan estetika. Sejak lama, pakaian digunakan untuk menunjukkan pandangan terhadap isu sosial, politik, budaya, hingga lingkungan. Karena dikenakan langsung di tubuh, sebuah busana bahkan bisa berubah menjadi simbol yang menyampaikan sikap tanpa harus banyak bicara.

Hubungan antara fashion dan politik pun bukan sesuatu yang baru terjadi sekarang. Sejarah mencatat penggunaan pakaian sebagai simbol kebanggaan kelas pekerja, perlawanan, feminisme, identitas, hingga gerakan sosial. Lantas, kenapa fashion begitu sering digunakan untuk menyuarakan sikap?

1. Pakaian bisa menjadi simbol yang mudah dikenali

ilustrasi orang-orang yang sedang berunjuk rasa lewat fashion (pexels.com/cottonbro)

Menyampaikan pesan secara visual, baik melalui slogan, warna, model, maupun aksesori yang berkaitan dengan kondisi sosial dan politik pada suatu masa bisa melalui pakaian. Dalam sejarah, kelompok sans-culottes pada Revolusi Prancis menggunakan celana panjang sebagai simbol kebanggaan kelas pekerja, sementara Black Panthers memakai jaket kulit dan baret sebagai bagian dari identitas sekaligus simbol perlawanan mereka.

Hal ini sejalan dengan pandangan Andrew Bolton, Wendy Yu Curator in Charge di The Costume Institute, Metropolitan Museum of Art, yang menyebut fashion sebagai cerminan zamannya. Artinya, pakaian gak cuma berfungsi sebagai pelengkap penampilan, tetapi juga bisa menunjukkan sikap dan posisi seseorang atau kelompok dalam masyarakat.

“Fashion berfungsi sebagai cermin zaman kita, sehingga pada dasarnya bersifat politis,” ujar Andrew Bolton, Wendy Yu Curator in Charge of The Costume Institute di Metropolitan Museum of Art, dikutip dari Vogue.

2. Fashion bisa digunakan untuk menantang norma

ilustrasi wanita dan tumpukan pakaian (pexels.com/ronlach)

Fashion juga sering digunakan untuk menentang aturan tentang bagaimana seseorang seharusnya berpakaian, salah satunya lewat bentuk, potongan, atau slogan yang tidak biasa. Rei Kawakubo, desainer Jepang dan pendiri Comme des Garçons, misalnya, memperkenalkan konsep anti-fashion melalui pakaian hitam, tidak berbentuk, dan tampak usang sebagai respons terhadap glamor fashion Barat.

Sementara itu, Maria Grazia Chiuri, desainer yang memimpin rumah mode Dior sejak 2016, membawa gagasan feminisme ke dalam koleksinya dengan menampilkan tulisan “We Should All Be Feminists” pada kaus di peragaan pertamanya untuk Dior. Kedua contoh ini memperlihatkan bagaimana desainer menggunakan fashion untuk menyampaikan gagasan yang berhubungan dengan norma, gender, dan cara masyarakat memandang pakaian.

3. Pakaian bisa menjadi bentuk protes

ilustrasi orang-orang yang sedang berunjuk rasa lewat fashion (pexels.com/followingnyc)

Fashion dapat menjadi media untuk menunjukkan penolakan atau dukungan terhadap suatu isu. Katharine Hamnett, desainer Inggris yang dikenal lewat kaus berslogan, pernah mengenakan kaus bertuliskan “58% DON'T WANT PERSHING” saat bertemu Margaret Thatcher sebagai bentuk protes terhadap rudal nuklir.

Protes melalui pakaian juga terlihat dalam berbagai gerakan masyarakat. Mothers of Plaza de Mayo di Argentina mengenakan kerudung putih sebagai simbol perjuangan mencari anggota keluarga yang diculik dan dihilangkan oleh rezim, sementara rompi kuning menjadi simbol demonstrasi di Prancis pada 2018. Contoh ini menunjukkan bagaimana benda yang dikenakan sehari-hari dapat memperoleh makna baru ketika digunakan secara kolektif dalam sebuah gerakan.

4. Pilihan fashion dapat berkaitan dengan isu lingkungan dan pekerja

ilustrasi demonstrasi (pexels.com/tony-zohari)

Sikap melalui fashion tidak selalu ditunjukkan lewat slogan atau bentuk pakaian yang mencolok. Pilihan untuk menggunakan pakaian upcycled, membeli pakaian bekas, atau mengurangi konsumsi juga berkaitan dengan persoalan lingkungan yang dibahas dalam industri fashion. Marine Serre, desainer yang disebut sebagai salah satu tokoh dalam gelombang baru fashion, misalnya, mendedikasikan setidaknya 50 persen koleksi runway-nya untuk pakaian upcycled.

Di sisi lain, persoalan pekerja dalam rantai pasok fashion juga menjadi bagian dari pembicaraan politik. Livia Firth, cofounder dan creative director konsultan keberlanjutan Eco-Age, dikutip dari Vogue, menekankan pentingnya mengetahui siapa yang membuat pakaian dan bagaimana pakaian tersebut diproduksi. Dengan begitu, sikap terhadap fashion tidak hanya terlihat dari apa yang dipakai, tetapi juga dari perhatian terhadap proses di balik pakaian tersebut.

“Apa pun pakaian yang kamu kenakan, seseorang telah membuatnya. Apakah kamu tahu siapa yang membuatnya? Dan bagaimana prosesnya? Bentuk terbaru dari fashion politik adalah mampu menceritakan kisah tersebut,” ujar Livia Firth.

5. Fashion membuat pesan sikap masuk ke ruang publik

ilustrasi perempuan melakukan demonstrasi (pexels.com/karola-g)

Ketika sebuah isu ditampilkan lewat pakaian, pesannya bisa lebih mudah terlihat dalam kehidupan sehari-hari, baik di jalanan, acara publik, maupun media sosial. Namun, mengenakan busana dengan pesan tertentu gak selalu berarti seseorang benar-benar terlibat dalam isu tersebut.

Dikutip dari Vogue, Apryl Williams, assistant professor of communication and media di University of Michigan sekaligus fellow di Berkman Klein Center for Internet & Society, Harvard University, mengatakan bahwa unggahan foto dengan simbol tertentu dapat membantu menormalisasi konsep yang sebelumnya dianggap radikal. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa jika seseorang gak benar-benar terlibat dengan isu tersebut, tindakan itu hanya menjadi bentuk pertunjukan.

Pada akhirnya, fashion bukan cuma soal tampil keren, tetapi juga bisa menjadi cara untuk menunjukkan sikap terhadap berbagai isu. Meski begitu, pesan yang dipakai akan lebih berarti kalau gak berhenti sebagai simbol, tetapi juga dibarengi pemahaman dan aksi nyata.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article