Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cara Menjaga Pertemanan meski Berbeda Sikap Soal Demo

Cara Menjaga Pertemanan meski Berbeda Sikap Soal Demo
ilustrasi demo (unsplash.com/Prabarisma Dewantara)
  • Perbedaan sikap soal demo tidak harus mengakhiri pertemanan; pahami alasan teman, termasuk kekhawatiran terhadap macet, gangguan aktivitas, atau potensi kerusuhan.
  • Pisahkan hak berdemonstrasi dari tindakan anarkis sebagian pihak. Akui aksi dapat mengganggu masyarakat, sambil membahas cara penyampaian aspirasi yang meminimalkan kerugian.
  • Jangan mengukur kepedulian dari pilihan ikut demo. Hentikan debat saat tidak produktif dan pertahankan rasa hormat meski pandangan politik tetap berbeda.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Perbedaan sikap soal demo bisa muncul bahkan di antara teman dekat. Kamu mungkin melihat demonstrasi sebagai salah satu cara masyarakat menyampaikan aspirasi kepada pemerintah, sementara temanmu justru menganggapnya identik dengan kericuhan, jalanan macet, atau aktivitas yang mengganggu orang lain.

Perbedaan pandangan seperti ini sebenarnya tidak harus membuat pertemanan ikut berakhir, selama keduanya masih bisa membedakan antara tidak sepakat dengan suatu cara dan tidak menghargai orang yang memilih cara tersebut. Lantas, bagaimana cara menjaga pertemanan meski berbeda sikap soal demo?

  1. 1. Pahami alasan di balik sikap temanmu sebelum membantahnya

    ilustrasi adu argumen
    ilustrasi adu argumen (pexels.com/Timur Weber)

    Teman yang apatis terhadap demo belum tentu tidak peduli terhadap persoalan yang sedang diperjuangkan. Bisa jadi, ia memang lebih memperhatikan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari, seperti jalan yang macet, kendaraan yang sulit lewat, aktivitas kerja yang terganggu, atau kekhawatiran melihat kerumunan dalam jumlah besar. Ada pula orang yang sejak awal menganggap demonstrasi sebagai sesuatu yang rawan berujung kerusuhan karena informasi yang mereka lihat selama ini lebih banyak menampilkan bentrokan daripada jalannya aksi secara keseluruhan.

    Kekhawatiran tersebut tetap bisa dibicarakan tanpa membuat kamu harus ikut menyetujuinya. Kamu dapat memahami alasan temanmu merasa terganggu, sambil menjelaskan bahwa menurutmu demonstrasi tidak otomatis berarti kerusuhan. Dalam negara demokrasi, menyampaikan pendapat di muka umum merupakan bagian dari kehidupan politik masyarakat, selama dilakukan dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. Jadi, persoalannya tidak harus dibuat sesederhana “pro demo” melawan “anti demo”, karena seseorang bisa mendukung hak menyampaikan aspirasi sekaligus tidak membenarkan tindakan kekerasan.

  2. 2. Bedakan demonstrasi dengan tindakan anarkis yang terjadi di dalamnya

    ilustrasi demonstrasi
    ilustrasi demonstrasi (unsplash.com/Rafli Firmansyah)

    Salah satu sumber pertengkaran biasanya muncul ketika seluruh peserta demonstrasi dianggap bertanggung jawab atas kerusuhan yang terjadi. Padahal, sebuah aksi dapat diikuti oleh banyak orang dengan tujuan dan perilaku yang berbeda. Ada peserta yang datang untuk menyampaikan tuntutan, ada yang berorasi, ada yang membawa poster, sementara kerusuhan bisa terjadi karena tindakan sebagian orang atau situasi tertentu yang berkembang di lapangan.

    Kamu juga tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa setiap kerusuhan pasti dilakukan oleh pihak tertentu yang sengaja menyusup hanya karena ada dugaan seperti itu. Informasi semacam ini perlu dilihat berdasarkan bukti, bukan digunakan sebagai jawaban otomatis setiap kali aksi berakhir ricuh. Yang lebih penting, temanmu juga tidak seharusnya langsung memakai satu kejadian anarkis untuk menilai seluruh peserta demonstrasi sebagai kelompok yang suka membuat kerusuhan. Memisahkan hak untuk menyampaikan aspirasi, pelaksanaan aksi, dan tindakan melanggar hukum membuat pembicaraan jauh lebih masuk akal.

  3. 3. Akui kalau demonstrasi memang bisa mengganggu orang lain

    ilustrasi demonstrasi
    ilustrasi demonstrasi (unsplash.com/Angiola Harry)

    Kalau temanmu mengatakan demo bikin macet, kamu tidak perlu buru-buru menyangkalnya. Demonstrasi yang berlangsung di jalan memang dapat memengaruhi lalu lintas, membuat perjalanan lebih lama, atau menyebabkan sebagian aktivitas masyarakat terganggu. Orang yang sedang bekerja, mengantar keluarga, mengejar penerbangan, atau memiliki urusan mendesak tentu bisa merasa kesal ketika jalur yang biasa mereka gunakan ditutup atau dialihkan.

    Mengakui dampak tersebut bukan berarti kamu harus menganggap demonstrasi sebagai sesuatu yang salah. Justru, kamu bisa menjelaskan bahwa dua hal dapat benar pada waktu yang sama karena masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi mereka sebagai warga negara, tetapi masyarakat lain juga bisa terkena dampak dari aksi tersebut. Pembicaraan kemudian tidak berhenti pada “demo itu bagus” atau “demo itu bikin susah”, melainkan bisa berlanjut pada pertanyaan yang lebih penting tentang bagaimana aksi menyampaikan tuntutan tetap dapat dilakukan tanpa menimbulkan kerugian yang tidak perlu bagi orang lain.

  4. 4. Jangan menjadikan perbedaan sikap sebagai ukuran kepedulian

    ilustrasi perbedaan sikap
    ilustrasi perbedaan sikap (pexels.com/Budgeron Bach)

    Teman yang tidak ikut demo bukan berarti otomatis tidak peduli dengan kondisi negara. Ia mungkin memilih menyampaikan pendapat melalui tulisan, diskusi, organisasi, pemilu, petisi, pekerjaan, atau bahkan hanya mengikuti perkembangan isu sebelum menentukan sikap. Begitu pula sebaliknya, orang yang memilih turun ke jalan tidak otomatis mencari keributan atau ingin mengganggu pengguna jalan.

    Kamu tidak perlu mengatakan temanmu apatis hanya karena ia tidak melihat demonstrasi sebagai pilihan yang penting. Sebaliknya, temanmu juga seharusnya tidak menganggap kamu sedang mencari masalah hanya karena memilih untuk hadir dalam aksi. Pertemanan akan lebih mudah dipertahankan ketika kalian berhenti menghubungkan pilihan politik seseorang dengan penilaian terhadap seluruh kepribadiannya. Beda cara menyampaikan kepedulian tidak selalu berarti beda kepedulian.

  5. 5. Tahu kapan harus berhenti berdebat

    ilustrasi dua orang sedang berdebat
    ilustrasi dua orang sedang berdebat (pexels.com/Kindel Media)

    Ada titik ketika diskusi sudah tidak lagi menghasilkan pemahaman baru. Kalau setiap percakapan tentang demo selalu berakhir dengan saling mengejek, menganggap pihak lain bodoh, atau memaksakan kesimpulan sendiri, tidak ada gunanya terus mencari siapa yang paling benar. Kamu bisa tetap memegang pandangan bahwa menyampaikan aspirasi merupakan bagian penting dalam kehidupan demokratis tanpa harus membuat setiap teman menerima pandangan yang sama.

    Kalimat sederhana seperti, “Gue paham kenapa lo terganggu sama dampaknya, tapi gue juga punya alasan kenapa gue melihat aksi sebagai cara menyampaikan aspirasi” kadang jauh lebih berguna daripada perdebatan panjang. Kalian tidak harus mencapai kesepakatan politik untuk tetap bisa makan bersama, bercanda, membahas pekerjaan, atau saling membantu ketika salah satu sedang membutuhkan teman. Pertemanan tidak selalu membutuhkan pandangan yang sama; yang lebih penting adalah masih ada rasa hormat ketika pandangan kalian memang berbeda.

    Kalau kamu tetap ingin mencoba cara menjaga pertemanan meski berbeda sikap soal demo, tidak perlu memaksakan agar obrolan politik selalu berakhir dengan titik temu. Ada kalanya kamu cukup tahu bahwa temanmu punya alasan tersendiri untuk tidak turun ke jalan, sementara kamu punya alasan sendiri untuk menganggap menyampaikan aspirasi secara langsung tetap penting, terutama di negara demokrasi. Perbedaan itu boleh tetap ada, selama tidak membuat kalian kehilangan rasa hormat satu sama lain ketika membicarakannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More