Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Gen Z dan Gen Alpha Lebih Melek Emosi? Cek Faktanya di Sini!
ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/kindelmedia)
  • Gen Z dan Gen Alpha tumbuh dengan pola asuh yang lebih peka terhadap emosi, di mana orangtua membantu anak mengenali perasaan sambil tetap memberi batasan yang konsisten.
  • Keterbukaan terhadap terapi dan kesehatan mental membuat generasi muda lebih berani mencari bantuan profesional, karena layanan konseling kini dianggap bagian dari perawatan diri.
  • Sekolah turut menanamkan kecerdasan emosional melalui program pembelajaran sosial-emosional, membantu anak memahami perasaan, berempati, serta mengelola hubungan dengan sehat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Gen Z dan gen Alpha dikenal lebih terbuka dalam membicarakan perasaan dan kesehatan mental dibanding generasi sebelumnya. Mereka juga lebih mudah mengenali emosi yang dirasakan dan tidak ragu mencari bantuan ketika membutuhkannya. Hal ini tentu bukan sekadar tren, melainkan hasil dari berbagai perubahan pola pengasuhan dan lingkungan tempat mereka tumbuh.

Kesadaran emosional yang dimiliki kedua generasi ini dibentuk oleh banyak faktor, mulai dari pola asuh orangtua hingga pendidikan di sekolah. Mereka tumbuh di era ketika emosi dianggap penting untuk dipahami, bukan sesuatu yang harus ditekan. Lalu, apa yang membuat gen Z dan gen Alpha lebih melek emosi? Yuk, cari tahu lewat artikel berikut!

1. Dibesarkan dengan pola asuh yang lebih peka terhadap emosi

ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/augustderichelieu)

Banyak orangtua masa kini mulai menerapkan pola asuh yang lebih responsif terhadap kebutuhan emosional anak. Mereka tidak hanya mengajarkan mana yang benar dan salah, tetapi juga membantu anak mengenali serta mengelola emosinya. Anak pun terbiasa merasa didengar dan dipahami sejak kecil.

Meski begitu, pola asuh ini bukan berarti selalu menuruti keinginan anak. Orangtua tetap menetapkan batasan yang jelas sambil memvalidasi perasaan yang dirasakan anak. Kombinasi empati dan aturan yang konsisten inilah yang membantu anak memiliki kemampuan regulasi emosi yang lebih baik.

"Ketika diterapkan dengan tepat, gentle parenting atau pola asuh yang berfokus pada emosi sebenarnya merupakan bentuk modern dari pola asuh otoritatif. Pola asuh ini hangat, responsif, peka terhadap emosi anak, tetapi tetap memiliki batasan yang jelas dan konsisten," ujar Dr. Zishan Khan, psikiater anak, remaja, dan dewasa di Mindpath Health, dikutip dari Parents.

2. Terapi dan kesehatan mental semakin dinormalisasi

ilustrasi konsultasi dengan psikolog (pexels.com/alex-green)

Gen Z dan gen Alpha tumbuh di lingkungan yang lebih terbuka dalam membicarakan kesehatan mental. Terapi psikologis tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang memalukan atau hanya dilakukan saat seseorang mengalami masalah besar. Sebaliknya, terapi mulai dianggap sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh.

Kemudahan akses layanan konseling, termasuk terapi online, serta keterbukaan figur publik dalam membagikan pengalaman mereka membuat generasi muda lebih familier dengan bantuan profesional. Alhasil, mereka cenderung lebih berani mencari pertolongan ketika membutuhkannya.

"Saat ini, terapi tidak lagi dipandang sebagai pilihan terakhir, melainkan sebagai bagian dari dukungan tumbuh kembang seseorang. Dibandingkan Gen X, generasi muda tumbuh dengan melihat kesehatan mental sebagai bagian dari kesehatan secara keseluruhan," ujar Dr. William Cheung Tsang, neuropsikolog di Hackensack University Medical Center, dikutip dari Parents.

3. Sekolah ikut mengajarkan kecerdasan emosional

ilustrasi proses belajar mengajar antara siswa dan guru (pexels.com/andy-barbour)

Kesadaran emosional juga mulai diajarkan secara lebih terstruktur di lingkungan sekolah. Berbagai program pembelajaran sosial dan emosional membantu anak memahami perasaannya sekaligus belajar berempati kepada orang lain. Anak pun memiliki ruang yang aman untuk mengenali dan mengungkapkan emosinya.

Program ini mengajarkan keterampilan penting seperti komunikasi yang sehat, pengelolaan konflik, dan kerja sama dengan orang lain. Dengan begitu, kecerdasan emosional dipandang sama pentingnya dengan kemampuan akademik. Tidak heran, jika gen Z dan gen Alpha lebih terbiasa membicarakan apa yang mereka rasakan.

"Program pembelajaran sosial dan emosional di sekolah dirancang untuk membantu anak memahami perasaannya serta dampaknya terhadap diri sendiri dan orang lain sesuai dengan tahap perkembangannya," ujar Alexandra Cromer, LPC atau konselor profesional di Thriveworks, dikutip dari Parents.

4. Tumbuh di era yang lebih terbuka membahas emosi

ilustrasi seorang ayah sedang menasehati anak-anaknya (pexels.com/timamiroshnichenko)

Internet dan media sosial membuat informasi tentang kesehatan mental semakin mudah diakses oleh generasi muda. Mereka pun lebih akrab dengan berbagai pembahasan seputar emosi, hubungan interpersonal, dan pentingnya menjaga kesehatan mental.

Di sisi lain, pembahasan mengenai emosi kini semakin terbuka di ruang publik. Kampanye kesehatan mental dan pengalaman yang dibagikan banyak orang membuat gen Z dan gen Alpha tumbuh dengan pemahaman bahwa membicarakan perasaan adalah hal yang wajar, bukan sesuatu yang tabu.

5. Mereka diajarkan untuk memahami, bukan dikendalikan oleh emosi

ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/kindelmedia)

Melek emosi bukan berarti membiarkan perasaan menentukan seluruh keputusan dalam hidup. Generasi muda justru perlu belajar bahwa emosi adalah informasi yang membantu mereka memahami kondisi diri sendiri. Dengan begitu, mereka dapat merespons perasaan yang muncul secara lebih sehat.

Anak juga perlu memahami bahwa emosi dan kondisi mental bukanlah identitas yang akan melekat selamanya. Perasaan dapat berubah dan berkembang seiring waktu, begitu pula dengan cara seseorang memandang dirinya sendiri. Kesadaran inilah yang penting untuk dimiliki agar kemampuan memahami emosi tidak berubah menjadi pelabelan diri.

"Kita perlu mengajarkan anak bahwa perasaan adalah informasi, bukan instruksi. Diagnosis kesehatan mental merupakan alat untuk membantu proses penanganan, bukan label yang membatasi siapa diri mereka di masa depan,” ujar Dr. Zishan Khan.

Kesadaran emosional menjadi bekal penting bagi gen Z dan gen Alpha untuk memahami diri sendiri dan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. Selama diimbangi dengan kemampuan mengelola emosi, keterampilan ini dapat membantu mereka menghadapi berbagai tantangan hidup dengan lebih baik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article