Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa In This Economy Orang Marah saat Dimotivasi Kerja Lebih Keras?
ilustrasi bekerja (pexels.com/Quang Nguyen Vinh)

Perekonomian di tanah air sedang tidak baik-baik saja. Banyak orang merasa untuk sekadar makan dan menyekolahkan anak pun beratnya bukan main. Harga bahan bakar naik, bahan pangan makin mahal, sementara penghasilan cenderung tetap bahkan turun.

Situasi seperti ini harus direspons dengan sangat hati-hati oleh semua pihak. Bahkan ketika beberapa orang hanya bermaksud menyampaikan pesan yang baik, dampaknya bisa amat berbeda saat diterima oleh masyarakat yang sedang kesusahan. Motivasi untuk bekerja lebih keras supaya kaya atau makin sejahtera, misalnya.

Sebetulnya itu bukan nasihat yang buruk, tapi bila disampaikan di tengah kondisi masyarakat yang kurang pas dapat menimbulkan kemarahan. Masyarakat terutama mereka yang sedang mengalami downgrade dan harus berhemat sedemikian rupa akan tersinggung. Mari terus melatih empati dan memahami kondisi orang lain.

1. Mereka sudah bekerja keras sampai badan remuk dan kena mental

ilustrasi kerja sampai burnout (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

In this economy banyak orang melakoni lebih dari satu pekerjaan hanya untuk bisa hidup cukup layak. Ada orang yang sekalian berangkat dan pulang kantor jadi driver ojol. Setibanya di rumah, mereka cuma makan dan mandi sebentar lalu lanjut menjadi sopir ojek atau taksi online.

Ada pula orang yang di rumah lanjut menjalankan usaha kecil-kecilan. Artinya, waktu istirahat masyarakat sampai kurang cuma buat memastikan mereka masih dapat menyambung hidup dari hari gak hari. Mereka gak kenal piknik, self reward, healing, atau kesenangan berbiaya lainnya.

Mereka cuma tahu kerja, kerja, dan kerja. Hati terasa sakit kalau mereka sudah bekerja sekeras itu masih didorong untuk bekerja lebih keras lagi hanya karena belum kaya. Seandainya hukum siapa bekerja keras pasti kaya sepenuhnya berlaku dalam hidup, seharusnya mereka telah menjadi sultan.

2. Orang yang memotivasi dianggap punya banyak privilese

ilustrasi bekerja (pexels.com/HONG SON)

Punya privilese dibandingkan orang-orang di sekitar sama sekali tak salah. Itu anugerah dalam hidup yang wajib disyukuri dan dimanfaatkan sebaik mungkin. Namun, siapa pun yang memiliki keistimewaan-keistimewaan dalam hidupnya wajib selalu membuka mata dan telinga serta berpijak di bumi.

Orang lain tidak seberuntung dirinya. Mereka gak punya orangtua kaya raya. Mereka malah harus menopang kehidupan orangtua bahkan mungkin sampai kakek, nenek, dan sebagainya. Pendidikan mereka terbatas bukan karena tak ingin pintar.

Keluarganya tidak mampu membiayai kuliahnya sementara beasiswa gak bisa diperoleh dengan mudah. Ada opsi kuliah sambil bekerja, tetapi ini juga sangat berat bahkan hampir mustahil bagi generasi yang menjadi tulang punggung keluarga. Mereka tidak menolak dinasihati demi kebaikan. Akan tetapi, jurang yang sangat lebar di antara penasihat dengan orang yang dinasihati cuma memicu sakit hati alih-alih inspirasi.

3. Hidup susah bukan karena malas

ilustrasi bekerja (pexels.com/Darry Lin)

Tentu sifat malas akan membuat hidup susah. Baik itu malas belajar semasa bersekolah maupun malas bekerja. Namun, permasalahan ekonomi yang terjadi secara luas di masyarakat bukan sekadar karena kemalasan.

Ada persoalan yang lebih besar. Di antaranya berbagai kebijakan pemerintah yang tidak menguntungkan masyarakat. Atau, pemerintah hanya fokus pada 1-2 program dan mengabaikan aspek-aspek lain yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Setiap pihak yang bermaksud memberikan motivasi kudu terlebih dahulu memahami hal ini.

Semua orang bisa saja bekerja keras. Namun, mereka bekerja keras sampai jungkir balik pun tak menjamin kekayaan apabila ada sistem dan tata kelola di level negara yang salah. Bekerja keras baik, tapi bukan satu-satunya penentu orang bisa kaya.

4. Tidak berharap validasi, tapi minimal dimengerti

ilustrasi bekerja (pexels.com/Cọ Sơn Thanh Bình)

Masyarakat yang sedang berjuang hanya untuk hidup layak tanpa terbelit utang atau bisa tetap bayar cicilan gak butuh validasi dari siapa pun. Seluruh energi mereka sudah habis untuk bekerja keras serta berusaha mengelola pendapatan sedemikian rupa. Mereka gak butuh pujian.

Mereka tahu bahwa kerja keras itu juga buat diri dan keluarga sendiri. Akan tetapi, masyarakat tentu ingin dimengerti sepantasnya saja. Mereka berharap orang-orang yang tidak berada di situasi yang sama gak perlu menambahi beban pikiran.

Biarkan saja mereka bekerja dengan tenang sambil terus memikirkan apa lagi yang dapat dilakukan. Hindari pernyataan-pernyataan yang seakan-akan menyikut kehidupan orang lain. Bila pun sulit bagi beberapa orang memahami kerasnya perjuangan hidup masyarakat di masa sekarang, diam dan cukup menjadi penonton masih lebih baik.

5. Frustrasi menghadapi berbagai masalah di dalam negeri

ilustrasi kelelahan saat bekerja (pexels.com/RDNE Stock project)

Downgrade karena masalah ekonomi bukan satu-satunya persoalan serius di negeri ini. Masih banyak permasalahan lain yang di mata masyarakat penanganannya belum optimal. Misalnya, kebakaran hutan di mana-mana, aksi korupsi pejabat justru di tengah berbagai bencana, serta kelangkaan bahan bakar di beberapa daerah.

Banyak masyarakat Indonesia yang sebenarnya sudah berada di titik sangat lelah secara mental dengan rentetan kabar buruk di negerinya. Tutup media sosial dan berhenti mengikuti berita sama sekali bukan solusi. Ragam persoalannya terlalu nyata untuk dianggap gak ada.

Kepedulian mereka terhadap masalah-masalah di atas juga timbul karena kecintaan terhadap tanah air. Namun, efeknya masyarakat menjadi jauh lebih sensitif ketika terdapat pernyataan-pernyataan yang seakan-akan minim empati. Di saat lain, kalimat yang sama mungkin dapat diterima dengan baik. Akan tetapi, tidak untuk sekarang.

Tak sedikit orang yang bahkan sejak kecil cuma mengenal kerja keras dalam hidupnya. Mereka membantu orangtua mencari nafkah, menempuh perjalanan sangat jauh hanya untuk bersekolah, lalu bekerja makin keras saat dewasa dan punya banyak tanggung jawab.

Setiap orang memiliki ukuran kerja keras masing-masing. Namun, kehati-hatian dalam menyatakan apa pun apalagi di situasi ekonomi seperti sekarang wajib diperhatikan. Terutama bagi tokoh publik yang setiap pernyataannya pasti terdengar oleh masyarakat luas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article