Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Kepergian Mbah Leginah Bikin Banyak Orang Ikut Berduka?

4 min read
Kenapa Kepergian Mbah Leginah Bikin Banyak Orang Ikut Berduka?
Refido dan Mbah Leginah (instagram.com/refidoo)
  • Kepergian Mbah Leginah memicu kesedihan warganet karena hubungan parasosial membuat figur publik terasa dekat dan bermakna.

  • Konten bersama Refido membangun ikatan emosional, terutama bagi warganet yang jauh dari atau sudah kehilangan figur nenek.

  • Kehadiran Mbah Leginah juga menghadirkan nostalgia, sehingga kehilangan tersebut terasa seperti ruang kosong bagi sebagian warganet.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Awalnya, Mbah Leginah mungkin hanyalah sosok nenek yang muncul sesekali di layar ponsel. Candaan-candaannya bersama Refido, tingkah polosnya, dan interaksi mereka yang terasa begitu natural perlahan membuat sosok Mbah Leginah terasa akrab bagi banyak orang. Sampai akhirnya, pada Sabtu (3/10/2026), kabar kepergiannya datang dan membuat banyak warganet ikut terdiam.

Refido mengumumkan kabar duka tersebut melalui media sosial, dan kolom komentar pun dipenuhi ucapan belasungkawa. Ada yang mengaku sedih, ada yang merasa seperti kehilangan nenek sendiri, bahkan tak sedikit yang menyebut dirinya sebagai “cucu online” Mbah Leginah. Padahal, mereka belum pernah bertemu, apalagi berbincang langsung dengannya. Lantas, mengapa kepergian seseorang yang hanya kita kenal lewat layar bisa terasa begitu personal?

  1. 1. Hubungan parasosial memicu duka seperti kehilangan seseorang yang sangat dekat dan dikenal

    Refido berpose bersama Mbah Leginah dalam potret yang diunggah melalui akun Instagram @refidoo.
    Refido dan Mbah Leginah (instagram.com/refidoo)

    "Kita sedang mengalami sesuatu yang disebut dukacita parasosial. Fenomena ini sebenarnya merupakan respons neurobiologis yang sangat manusiawi terhadap hilangnya jangkar bersama dari identitas budaya kita," kata Suzanne Degges-White, PhD, seorang profesor dari Nothern Illinois University dalam Psychology Today.

    Hubungan parasosial didefinisikan sebagai hubungan satu arah antar seseorang dengan figur publik atau karakter fisik yang tidak mengenal mereka. Hubungan ini memicu tumbuhnya emosi yang mendalam karena merasa ada keterikatan secara personal dengan figur tersebut.

    Suzanne Degges-White menyebut fenomena ini sebagai The Dolly Parton Effect. Dolly Parton merupakan seorang penyanyi legendaris yang meninggal di usia 80 tahun. Berita kepergiannya ini membawa suasana yang berbeda di mana banyak orang ikut merasa kehilangan.

    Hal yang sama juga terjadi ketika Mbah Leginah dikabarkan meninggal. Kabar duka ini terasa amat menyedihkan karena warganet merasa selama ini sudah mengikuti kehidupan Mbah Leginah lewat konten-kontennya.

    "Itu karena kita telah kehilangan seseorang yang kehadirannya dalam hidup kita memiliki arti dan makna, meskipun kita mungkin tidak menyadarinya secara sadar pada saat itu," kata Suzanne Degges-White dalam laman yang sama.

  2. 2. Ada "bonding" yang tercipta karena Mbah Leginah mewakili figur "nenek"

    Potret Mbah Leginah dalam unggahan yang dibagikan melalui akun Instagram @refidoo sebagai dokumentasi pribadi.
    Mbah Leginah (instagram.com/refidoo)

    Konten-konten Mbah Leginah dengan Refido sebenarnya tergolong konten sederhana. Terkadang polos, terkadang dipenuhi gelak tawa karena perkataan Mbah Leginah terhadap setiap tingkah lalu cucunya itu.

    Sedangkan, banyak warganet yang jauh dari kampung atau memang sudah tidak memiliki nenek. Itulah yang membuat konten-konten Mbah Leginah terasa semakin dekat sehingga ada bonding yang secara tak sadar tercipta dalam hubungan parasosial ini.

    Ketika musik, karakter fiksi, atau peran selebriti menemani kita melewati berbagai fase kehidupan, kepergian mereka rasanya semakin personal. Mengapa demikian? Suzanne Degges-White menjelaskan bahwa perasaan ini sangat mungkin terjadi karena kita tidak berduka karena kehilangan sosoknya tapi juga kehilangan kenyamanan yang selama ini kita dapatkan.

  3. 3. Kehadiran Mbah Leginah seperti nostalgia

    Refido dan Mbah Leginah berpose bersama di luar ruangan, mengenakan pakaian kasual sambil tersenyum ke kamera.
    Refido dan Mbah Leginah (instagram.com/refidoo)

    Kehadiran Mbah Leginah seperti angin segar untuk siapa pun yang tidak memiliki figur nenek. Mbah Leginah merupakan sosok yang sangat mewakili figur tersebut. Tanpa sadar, setiap kontennya mungkin akan membuat kita bernostalgia dengan momen-momen bersama nenek yang sudah tiada atau nenek yang jauh dari kita.

    Setiap orang yang menonton jadi punya andil dalam kehidupan Mbah Leginah. Oleh karena itu, kehilangannya menyisakan ruang kosong bagi sebagian besar warganet.

    Dr. Constantine Sedikides dari Universitas Southampton dalam Society for Personality and Social Psychology (SPSP) menjelaskan bahwa hubungan parasosial ini memungkinkan seseorang merasa nostalgia. Mereka merasa terhibur dan teringat dengan kenangan-kenangan masa lalu. Kehadiran Mbah Leginah seperti "penyembuh" bagi orang-orang yang merindukan sosok nenek dalam hidup mereka.

    "Melalui refleksi nostalgia, orang-orang ini menjadi bagian dari diri kita. Jadi, ketika mereka meninggal, kita bisa merasa seperti kehilangan sebagian dari diri kita sendiri," katanya dalam laman SPSP tersebut.

    Lantas, mengapa orang berduka atas meninggalnya selebritas? Ternyata, ada banyak alasannya yang didasari atas hubungan parasosial. Menangis karena kehilangan selebriti, publik figur, atau karakter fiksi yang dicintai adalah hal yang sepenuhnya wajar, lho. Justru, itu menunjukkan bagaimana kamu bisa berempati terhadap hidup orang lain.

Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More