Kenapa Kita Bisa Sedih Melihat Hewan Kurban Disembelih?

- Rasa sedih saat melihat hewan kurban disembelih muncul karena efek antropomorfisme, yaitu kecenderungan manusia menafsirkan perilaku hewan seolah memiliki emosi seperti manusia.
- Kerja mirror neurons di otak membuat seseorang ikut merasakan emosi atau kondisi yang dialami hewan, sehingga memunculkan empati dan rasa iba secara alami.
- Naluri melindungi makhluk lemah serta keterikatan alami manusia dengan alam melalui biophilia turut memicu perasaan haru dan keinginan untuk menjaga kehidupan.
Hari Raya Idul Adha jadi momen yang penting bagi umat Islam. Hari raya ini juga punya suasana yang menarik, di satu sisi ada rasa syukur dan kebersamaan yang menyelimuti, tapi di sisi lain, prosesi penyembelihan hewan kerap kali mengundang rasa iba dan haru tersendiri. Apakah kamu juga demikian? Bagi beberapa orang, menyaksikan hewan kurban yang akan disembelih dapat memicu rasa sedih dan iba yang mendalam. Secara ilmiah, respons ini wajar kok dan manusiawi, jadi kalau kamu juga bersikap demikian, gak perlu khawatir, ya. Berikut sisi psikologis mengapa kamu bisa merasa iba pada hewan kurban.
1. Adanya efek antropomorfisme

Alasan pertama adalah adanya efek antropomorfisme. Istilah antropomorfisme mengacu pada kebiasaan alami manusia yang kerap menyematkan karakteristik, emosi, maupun jalan pikiran manusia kepada makhluk lain, seperti halnya hewan. Mengutip laman Forest Digest, kecenderungan membayangkan perilaku hewan layaknya manusia sebenarnya merupakan cara agar manusia bisa lebih mudah memahami mereka.
Jadi, kalau kamu melihat hewan kurban meneteskan air mata atau bersuara lirih sebelum disembelih, otak kamu akan menerjemahkan hal itu sebagai ekspresi dari kesedihan atau ketakutannya. Sebagai catatan, otak manusia cenderung menafsirkan air mata sebagai tanda kesedihan. Proyeksi emosi inilah yang memicu rasa iba mendalam. Efek antropomorfisme wajar kok sebagai bagian dari empati kita kepada sesama makhluk hidup.
2. Adanya sistem kerja mirror neurons

Otak itu salah satu organ terpenting bagi manusia. Seluruh potensi yang dimiliki oleh manusia itu seluruhnya berpusat pada otak. Bahkan, dikatakan pula bahwa hati dan akal seseorang bisa bekerja saat otak berfungsi normal. Nah, di dalam neurosains ada bagian otak yang disebut mirror neurons.
Mirror neurons adalah sel-sel otak yang punya kemampuan unik untuk meniru dan memahami tindakan serta emosi makhluk hidup yang kita lihat. Dalam konteks ini, ketika kamu melihat hewan kurban mengalami kondisi emosi atau fisik tertentu, mirror neurons membuat kamu seolah-olah sedang mengalami kejadian serupa. Saraf ini diyakini bertanggung jawab atas kemampuan empati manusia.
3. Respons alami terhadap sesuatu hal yang lemah dan rentan

Manusia itu unik, lho. Salah satu keunikannya adalah punya insting bawah sadar untuk melindungi siapa pun yang dianggap lemah atau gak berdaya, termasuk hewan. Dalam psikologi, manusia memang punya naluri alami untuk merawat, menjaga, melindungi, serta menyayangi makhluk yang dianggap lemah atau rentan.
Kalau kita kaitkan dengan konteks kurban, hewan kurban itu berada dalam kondisi yang rentan. Mengapa dikatakan rentan? Sebab, mereka gak bisa kabur dan akan menghadapi proses penyembelihan. Menyaksikan ketidakberdayaan itu bisa memicu nurturing instinct dalam diri, lantas kamu seolah ingin sekali menolong dan membantunya.
4. Keterikatan pada alam

Pernah mendengar istilah biophilia? Dilansir laman Myndfulact, biophilia adalah kecenderungan manusia untuk berinteraksi dengan alam dan makhluk hidup lainnya. Biophilia menumbuhkan keterikatan manusia dengan alam dan keinginan untuk hidup selaras dengan alam. Penelitian yang dilakukan oleh Gregory Bratman, asisten profesor di Universitas Washington, menemukan bahwa keterhubungan dengan alam akan meningkatkan kebahagiaan, interaksi sosial yang sehat untuk memaknai tujuan hidup, serta meningkatkan kondisi kesehatan mental.
Nah, ketika naluri biophilia ini berbenturan dengan realitas kematian pada hewan kurban, kita akan mengalami pergolakan batin. Kita yang secara alami dirancang untuk mencintai dan menjaga kehidupan tiba-tiba harus menghadapi proses penyembelihan hewan kurban. Maka, timbullah rasa sedih dan iba itu.
Jadi, normal ya merasa sedih melihat hewan kurban akan disembelih. Itu bisa jadi tanda kamu punya empati dan kepedulian yang tinggi. Selamat Hari Raya Idul Adha!



















