Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

⁠Kenapa Kita Lebih Berani Bertanya lewat Chat daripada Langsung?

3 min read
⁠Kenapa Kita Lebih Berani Bertanya lewat Chat daripada Langsung?
ilustrasi mengirim pesan teks (pexels.com/Andrea Piacquadio)
  • Chat memberi waktu untuk menyusun, menghapus, dan memeriksa ulang pertanyaan, sehingga komunikasi terasa lebih terkendali dibanding berbicara spontan.
  • Lewat pesan, seseorang tidak perlu langsung menghadapi ekspresi, nada suara, atau respons lawan bicara yang berpotensi menambah tekanan.
  • Jarak dari layar memudahkan pertanyaan yang dianggap memalukan diungkapkan, meski percakapan langsung tetap berguna untuk penjelasan panjang atau mengurangi kesalahpahaman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kamu sedang mengikuti kelas ketika dosen menjelaskan materi yang sebenarnya belum kamu pahami. Ada satu pertanyaan yang terus mengganjal, tetapi saat ingin mengangkat tangan, kamu justru mengurungkan niat. Kamu takut pertanyaanmu terdengar terlalu sederhana atau teman-teman akan menganggapmu kurang memperhatikan. Kelas berakhir tanpa kamu mendapatkan jawaban yang dibutuhkan.

Beberapa menit kemudian, kamu mulai mengetik pesan kepada teman yang duduk di sebelahmu tadi. Pertanyaan yang sulit diucapkan langsung itu akhirnya kamu sampaikan melalui sebuah chat. Kamu bahkan sempat menghapus dan menyusun ulang kalimat sebelum menekan tombol kirim. Namun, kamu merasa bertanya melalui chat terkadang terasa lebih mudah daripada berbicara langsung.

  1. 1. Kamu punya waktu untuk menyusun kata-kata

    ilustrasi mengirim pesan singkat
    ilustrasi mengirim pesan singkat. (pexels.com/SHVETS production)

    Kamu mengetik pesan panjang, menghapusnya, lalu menulis ulang sampai merasa kalimatnya terdengar cukup sopan untuk dikirim. Berbeda ketika berbicara langsung, proses semacam ini belum tentu bisa dilakukan. Pertanyaan harus disampaikan saat itu juga, sementara kamu masih berkutat mencari kata-kata yang tepat.

    Kamu memilih bertanya melalui chat. Kamu punya waktu untuk berhenti sejenak, memikirkan cara bagaimana menyampaikan maksud, hingga memeriksa ulang pesan sebelum mengirimkannya. Waktu tambahan ini membuat kamu merasa komunikasi menjadi lebih terkendali.

    Dalam laman Psychology Today, dijelaskan bahwa komunikasi daring memberi waktu untuk menemukan kata-kata yang tepat, sesuatu yang mungkin sulit dilakukan ketika harus menyusun pikiran dengan tenang dan memilih kata-kata secara langsung.

  2. 2. Kamu tidak harus menghadapi reaksi lawan bicara saat itu juga

    Ilustrasi mengirim pesan ke mantan pasangan
    Ilustrasi mengirim pesan ke atasan (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Bayangkan kamu ingin bertanya kepada atasan tentang kesalahan pekerjaan. Kamu sudah memikirkan pertanyaannya, tetapi begitu berhadapan dengannya, perhatianmu justru tertuju pada ekspresi wajah, nada suara, dan kemungkinan akan reaksi atasanmu. Kamu khawatir pertanyaan itu membuatmu terlihat tidak kompeten. Akhirnya, kamu memilih diam.

    Menurut Dr. Holly Schiff, PsyD, psikolog klinis berlisensi, “Berkirim pesan membawa banyak ketidakpastian. Secara khusus, kita tidak bisa memprediksi bagaimana seseorang akan merespons pesan kita, apakah mereka akan membalas sama sekali, atau seberapa cepat mereka akan merespons,” dikutip dari Psych Central.

    Kamu memilih melanjutkan pertanyaan yang terjeda itu melalui chat, di mana kamu tidak perlu menghadapi semua tekanan interaksi tatap muka secara bersamaan. Kamu bisa menyampaikan pertanyaan tanpa harus langsung melihat ekspresi penerimanya.

  3. 3. Pertanyaan yang terasa memalukan jadi lebih mudah diungkapkan

    ilustrasi mengirim pesan
    ilustrasi mengirim pesan (pexels.com/andrea piacquadio)

    Ada kalanya kamu mengurungkan kembali niatmu untuk bertanya bukan karena tidak tahu bagaimana caranya bertanya, melainkan kamu sudah memikirkan bagaimana orang lain akan menilaimu. Kamu sebenarnya ingin meminta penjelasan kepada dosen, namun muncul kekhawatiran bahwa pertanyaanmu akan dianggap aneh atau menunjukkan kelemahan.

    Dalam situasi ini, layar ponsel menjadi sebuah jarak kecil yang membuatmu lebih nyaman untuk menanyakan sesuatu. Kamu bisa melakukan beberapa kali revisi sebelum mengirimkannya. Kekhawatiranmu akan pertanyaan yang terdengar aneh mungkin akan sedikit berkurang. 

    Dalam laman Psychology Today, Elizabeth Dorrance Hall, Ph.D., Asisten profesor komunikasi di Michigan State University menjelaskan bahwa sikap terhadap komunikasi daring turut berkaitan dengan kebiasaan seseorang menggunakan pesan teks. Orang yang merasa lebih mudah membuka diri melalui chat cenderung lebih mengandalkan cara komunikasi tersebut.

    Meski begitu, kamu mungkin berhasil mengirimkan pertanyaan, tetapi kamu tetap perlu memastikan lawan bicara memahami maksudmu. Jika pertanyaanmu membutuhkan penjelasan panjang atau menyangkut perasaan seseorang, percakapan secara langsung bisa membantu mengurangi kesalahpahaman.

    Layar ponselmu menyala, sebuah balasan akhirnya muncul. Ternyata pertanyaan yang sempat membuatmu ragu dijawab dengan santai, jauh dari respons buruk yang sudah kamu bayangkan. Kamu mulai berpikir, mungkin selama ini bukan pertanyaannya yang sulit untuk disampaikan, melainkan ketakutanmu terhadap bagaimana respons orang lain. Tapi setidaknya, kali ini kamu berhasil menanyakannya, alih-alih hanya membiarkannya terus berputar di kepala.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More