"Pada umumnya, pertanyaan wawancara seharusnya hanya berkaitan dengan persyaratan pekerjaan," ujar Rae Vann, pengacara bidang ketenagakerjaan dikutip dari Society for Human Resource Management (SHRM).
Cara Menolak Pertanyaan Interview yang Terlalu Pribadi dengan Sopan

Interview kerja memang menjadi momen ketika HRD ingin mengenal kandidat lebih jauh. Namun, tidak semua hal tentang kehidupan pribadi harus dibicarakan dalam proses rekrutmen. Pertanyaan mengenai status pernikahan, rencana punya anak, agama, kondisi kesehatan, usia, hingga kehidupan keluarga bisa terasa terlalu personal, terutama jika tidak memiliki hubungan yang jelas dengan pekerjaan yang dilamar.
Secara umum, pertanyaan interview idealnya berfokus pada kemampuan, pengalaman, pengetahuan, dan kualifikasi yang dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaan. Karena itu, kandidat perlu tahu cara menjaga batas privasi tanpa harus menjawab dengan nada defensif.
1. Jangan langsung menolak, arahkan kembali ke konteks pekerjaan

ilustrasi wawancara kerja (unsplash.com/Mina Rad) Ketika HRD mengajukan pertanyaan yang terasa terlalu pribadi, respons pertama tidak harus berupa penolakan keras. Kandidat bisa menggeser arah pembicaraan secara halus menuju kemampuan atau kesiapan yang berkaitan dengan pekerjaan. Cara ini membuat jawaban tetap profesional sekaligus menjaga informasi pribadi.
Misalnya, ketika ditanya, “Kamu sudah menikah?” kandidat dapat menjawab, “Saya lebih nyaman membahas hal yang berkaitan dengan pekerjaan, tetapi untuk posisi ini saya siap memenuhi jadwal dan tanggung jawab yang ditentukan.” Jawaban tersebut tidak perlu menjelaskan status pribadi, tetapi tetap memberikan informasi yang mungkin sebenarnya ingin diketahui HRD, yaitu kesiapan bekerja.
2. Gunakan kalimat “saya lebih nyaman...” agar terdengar tetap sopan

Ilustrasi wawancara kerja (freepik.com/yanalya) Ada kalanya kandidat memang ingin menyampaikan batas secara eksplisit. Salah satu cara yang relatif aman adalah menggunakan kalimat yang berpusat pada kenyamanan diri, bukan menuduh HRD telah melakukan kesalahan. Misalnya, “Saya lebih nyaman membahas pengalaman profesional saya” terdengar berbeda dengan “Pertanyaan itu tidak boleh ditanyakan.”
Pendekatan ini juga memberikan kesempatan kepada pewawancara untuk mengembalikan percakapan ke topik pekerjaan tanpa merasa sedang ditegur. Kandidat tidak harus memberikan alasan panjang mengenai mengapa informasi tersebut bersifat pribadi. Semakin panjang penjelasan, semakin besar kemungkinan pembicaraan justru kembali masuk ke wilayah personal.
"Sebaiknya kamu tetap berfokus pada pertanyaan seputar pekerjaan sebisa mungkin. Salah satu pertanyaan yang bisa berfungsi sebagai pembuka percakapan sekaligus pertanyaan terkait pekerjaan adalah, 'Ceritakan kepada saya mengenai minat karier Anda,'" kata Rae Vann.
3. Jika ditanya soal keluarga, jawab kebutuhan pekerjaan tanpa membuka kehidupan pribadi

ilustrasi wawancara kerja (pexels.com/Tima Miroshnichenko) Pertanyaan mengenai pasangan, anak, rencana menikah, atau rencana memiliki anak merupakan salah satu contoh pertanyaan yang dapat membuat kandidat serba salah. Kandidat mungkin khawatir bahwa menolak menjawab akan dianggap tidak kooperatif, sementara menjawab terlalu detail justru membuka informasi pribadi yang sebenarnya tidak diperlukan.
Salah satu strategi adalah mengidentifikasi informasi profesional yang mungkin berada di balik pertanyaan tersebut. Jika HRD sebenarnya ingin mengetahui apakah kandidat dapat bekerja penuh waktu misalnya, kandidat dapat langsung menjawab mengenai kesediaannya memenuhi jam kerja. Dengan begitu, kandidat menjawab kebutuhan pekerjaan tanpa harus membahas kehidupan keluarganya.
4. Untuk pertanyaan kesehatan, fokuskan jawaban pada kemampuan menjalankan tugas

ilustrasi wawancara kerja (pexels.com/Timur Weber) Pertanyaan mengenai kesehatan atau kondisi medis perlu ditangani lebih hati-hati. Kandidat tidak harus menceritakan diagnosis, riwayat pengobatan, atau detail kondisi medis jika informasi tersebut tidak diperlukan untuk menilai kemampuan menjalankan pekerjaan. Sebaliknya, pembicaraan dapat diarahkan kepada fungsi pekerjaan yang memang harus dilakukan.
Misalnya, apabila HRD bertanya, “Kamu punya penyakit tertentu?” kandidat bisa mengatakan, “Saya lebih nyaman menjaga informasi medis saya tetap pribadi. Namun, saya siap menjelaskan kemampuan saya dalam menjalankan tugas-tugas utama yang dibutuhkan posisi ini.” Cara tersebut membatasi informasi personal sekaligus menunjukkan sikap kooperatif.
5. Kalau pertanyaannya terus didesak, tetap tenang dan pasang batas dengan jelas

ilustrasi wawancara kerja (pexels.com/Resume Genius) Situasinya bisa menjadi lebih sulit ketika kandidat sudah mencoba mengalihkan pembicaraan, tetapi pewawancara tetap meminta jawaban. Dalam kondisi seperti ini, kandidat dapat meningkatkan ketegasan secara bertahap tanpa mengubahnya menjadi konflik. Nada suara yang tenang dan bahasa profesional tetap penting.
Kandidat dapat mengatakan, “Saya memahami pertanyaannya, tetapi saya memilih untuk tidak membahas informasi pribadi tersebut. Saya dengan senang hati menjelaskan pengalaman atau kemampuan saya yang berhubungan dengan posisi ini.” Jika pertanyaan masih berlanjut, kandidat juga dapat meminta klarifikasi mengenai kaitannya dengan pekerjaan.
Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip International Labour Organization (ILO) bahwa pertanyaan interview sebaiknya mengidentifikasi keterampilan, pengalaman, dan kompetensi yang berhubungan dengan deskripsi pekerjaan. ILO juga menyarankan agar pewawancara dilatih menggunakan metode seleksi yang nondiskriminatif.
"Pewawancara hanya boleh mengajukan pertanyaan yang relevan untuk menilai kesesuaian pelamar dengan pekerjaan yang dimaksud. Pewawancara harus menyadari adanya bias pribadi dan tidak melakukan stereotip terhadap kandidat dengan membuat asumsi mengenai kemampuan mereka," demikian laporan panduan International Labour Organization (ILO).
"Pastikan pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat mengidentifikasi keterampilan, pengalaman, dan kompetensi pelamar yang relevan dengan deskripsi pekerjaan dan spesifikasi kandidat. Pertanyaan wawancara hanya boleh berkaitan dengan persyaratan pekerjaan. Fokuslah pada kemampuan, pengetahuan, pengalaman, dan kualifikasi pribadi yang dibutuhkan untuk pekerjaan tersebut," tambahnya.
Pada akhirnya, menolak pertanyaan interview yang terlalu pribadi tidak harus dilakukan dengan nada keras atau konfrontatif. Gunakan kalimat yang sopan, batasi informasi yang ingin dibagikan, lalu arahkan percakapan kembali kepada kemampuan dan persyaratan pekerjaan.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















