ilustrasi mengirim pesan (pexels.com/andrea piacquadio)
Ada kalanya kamu mengurungkan kembali niatmu untuk bertanya bukan karena tidak tahu bagaimana caranya bertanya, melainkan kamu sudah memikirkan bagaimana orang lain akan menilaimu. Kamu sebenarnya ingin meminta penjelasan kepada dosen, namun muncul kekhawatiran bahwa pertanyaanmu akan dianggap aneh atau menunjukkan kelemahan.
Dalam situasi ini, layar ponsel menjadi sebuah jarak kecil yang membuatmu lebih nyaman untuk menanyakan sesuatu. Kamu bisa melakukan beberapa kali revisi sebelum mengirimkannya. Kekhawatiranmu akan pertanyaan yang terdengar aneh mungkin akan sedikit berkurang.
Dalam laman Psychology Today, Elizabeth Dorrance Hall, Ph.D., Asisten profesor komunikasi di Michigan State University menjelaskan bahwa sikap terhadap komunikasi daring turut berkaitan dengan kebiasaan seseorang menggunakan pesan teks. Orang yang merasa lebih mudah membuka diri melalui chat cenderung lebih mengandalkan cara komunikasi tersebut.
Meski begitu, kamu mungkin berhasil mengirimkan pertanyaan, tetapi kamu tetap perlu memastikan lawan bicara memahami maksudmu. Jika pertanyaanmu membutuhkan penjelasan panjang atau menyangkut perasaan seseorang, percakapan secara langsung bisa membantu mengurangi kesalahpahaman.
Layar ponselmu menyala, sebuah balasan akhirnya muncul. Ternyata pertanyaan yang sempat membuatmu ragu dijawab dengan santai, jauh dari respons buruk yang sudah kamu bayangkan. Kamu mulai berpikir, mungkin selama ini bukan pertanyaannya yang sulit untuk disampaikan, melainkan ketakutanmu terhadap bagaimana respons orang lain. Tapi setidaknya, kali ini kamu berhasil menanyakannya, alih-alih hanya membiarkannya terus berputar di kepala.