Kenapa Kita Lebih Sering Mengingat Hal Memalukan daripada Hal Bahagia?

- Otak lebih peka terhadap ancaman, seperti rasa malu yang dianggap sebagai ancaman terhadap penerimaan sosial.
- Emosi negatif lebih kuat mengikat ingatan, membuat momen memalukan lebih mudah diingat daripada momen bahagia.
- Kita terlalu keras pada diri sendiri, membuat kenangan memalukan tertanam kuat dalam ingatan.
Pernah tiba-tiba teringat momen memalukan bertahun-tahun lalu, padahal saat itu sedang santai atau mau tidur? Anehnya, momen bahagia yang jauh lebih banyak justru jarang muncul sejelas itu di ingatan. Padahal, secara logika, pengalaman menyenangkan seharusnya lebih layak diingat.
Fenomena ini ternyata sangat manusiawi. Otak kita memang bekerja dengan cara yang cenderung "tidak adil" terhadap kenangan. Ada beberapa alasan psikologis kenapa momen memalukan terasa lebih lengket di ingatan dibandingkan hal-hal bahagia. Apa saja? Berikut penjelasannya!
1. Otak lebih peka terhadap ancaman

Secara evolusioner, otak manusia memang diprogram untuk lebih waspada terhadap ancaman dibandingkan kenyamanan. Dalam konteks sosial, rasa malu sering dipersepsikan sebagai ancaman terhadap penerimaan dan posisi kita di lingkungan. Ditolak, ditertawakan, atau dipandang negatif bisa berdampak pada relasi dan rasa aman, sehingga otak memperlakukannya layaknya bahaya yang perlu diwaspadai.
Karena dianggap berisiko, pengalaman memalukan disimpan lebih kuat dalam memori. Otak berusaha mengingatkan kita agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Itulah sebabnya kenangan memalukan bisa muncul tiba-tiba, meskipun situasi saat ini sebenarnya aman dan tidak mengancam sama sekali.
2. Emosi negatif lebih kuat mengikat ingatan

Peristiwa yang disertai emosi negatif seperti malu, takut, atau cemas memicu respons stres dalam tubuh. Saat itu terjadi, otak berada dalam kondisi siaga tinggi dan memproses informasi dengan intens. Kondisi ini membuat detail kejadian lebih mudah tersimpan dalam memori jangka panjang.
Sebaliknya, momen bahagia sering tidak memicu reaksi biologis yang sekuat itu. Karena terasa aman dan menyenangkan, otak tidak menganggapnya sebagai situasi darurat yang perlu diingat detailnya. Akibatnya, kenangan bahagia sering terasa cepat berlalu, sementara pengalaman memalukan justru membekas sangat jelas.
3. Kita terlalu keras pada diri sendiri

Banyak orang tanpa sadar memiliki standar yang sangat tinggi terhadap diri sendiri. Ketika mengalami momen memalukan, pikiran langsung mengulang kejadian tersebut sambil mengkritik setiap kesalahan kecil. Pola pikir ini membuat rasa malu semakin besar dan sulit dilepaskan.
Semakin sering diri sendiri disalahkan, semakin kuat pula kenangan tersebut tertanam. Kita cenderung menganggap momen memalukan sebagai bukti kegagalan pribadi, padahal orang lain sering kali tidak terlalu memperhatikannya. Ironisnya, tekanan terbesar justru datang dari pikiran kita sendiri, bukan dari penilaian orang lain.
4. Overthinking membuat ingatan terus diputar ulang

Otak bekerja berdasarkan pengulangan. Semakin sering sebuah kejadian dipikirkan, semakin kuat pula jalur memorinya terbentuk. Overthinking membuat momen memalukan terus diputar ulang, dianalisis, dan dihubungkan dengan berbagai kemungkinan negatif.
Tanpa disadari, proses ini seperti latihan yang menguatkan ingatan tersebut. Sementara itu, momen bahagia jarang dipikirkan sedalam itu. Karena tidak dianalisis atau diulang, kenangan positif tidak mendapat penguatan yang sama, sehingga terasa lebih cepat memudar dibandingkan pengalaman memalukan.
5. Momen bahagia jarang diberi ruang untuk dikenang

Saat mengalami kebahagiaan, banyak orang langsung melanjutkan hidup tanpa jeda. Tidak ada waktu untuk berhenti, menyadari perasaan, atau merefleksikan momen tersebut. Akibatnya, kebahagiaan hanya lewat sebagai pengalaman singkat tanpa sempat tertanam dalam memori.
Berbeda dengan momen memalukan yang sering dipikirkan berulang-ulang, momen bahagia jarang diberi ruang untuk menetap. Tanpa refleksi atau pengulangan, otak tidak menyimpannya secara mendalam. Inilah alasan mengapa kenangan bahagia terasa samar, sementara momen memalukan terasa sangat hidup.
6. Rasa malu berkaitan erat dengan identitas diri

Rasa malu tidak hanya tentang kejadian, tetapi juga tentang siapa diri kita di mata orang lain. Rasa malu menyentuh identitas, harga diri, dan kebutuhan untuk diterima secara sosial. Karena menyangkut citra diri, otak menganggap pengalaman memalukan sebagai informasi penting yang perlu disimpan.
Sebaliknya, kebahagiaan jarang mengancam identitas. Kebahagiaan itu menyenangkan, tetapi tidak selalu memengaruhi bagaimana kita dinilai atau diterima. Karena tidak dianggap krusial bagi kelangsungan sosial, otak tidak memprioritaskan kebahagiaan dalam penyimpanan memori, sehingga terasa lebih mudah terlupakan.
Itulah beberapa alasan kenapa kita lebih sering mengingat hal-hal memalukan daripada hal-hal yang membuat bahagia. Meski begitu, itu hanyalah cara otak bekerja untuk melindungi diri, meski sering kali berlebihan. Mulai sekarang, cobalah memberi ruang lebih besar pada momen bahagia—disadari, dirayakan, dan dikenang dengan sengaja. Karena kebahagiaan pun layak tinggal lebih lama di ingatan, bukan hanya rasa malu.



















