Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Kita Terlalu Takut Menghasilkan Tulisan yang Jelek?
ilustrasi membuat tulisan (unsplash.com/Kenny Eliason)
  • Tulisan yang dianggap biasa saja belum tentu jelek karena selera pembaca berbeda.

  • Kemampuan menulis setiap orang berbeda sehingga tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain.

  • Tulisan yang bagus lahir dari proses menulis, membaca ulang, memperbaiki, dan terus mencoba.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lucu juga kalau dipikir-pikir, tulisan belum ada, tetapi kita sudah sibuk takut hasilnya jelek. Baru punya satu ide, kepala langsung penuh dengan urusan judul, pembuka, pilihan kata, sampai membandingkan tulisan sendiri dengan tulisan orang lain yang sudah jauh lebih rapi. Belum satu paragraf pun selesai, tetapi rasa tidak percaya diri sudah lebih dulu datang dan membuat kita keburu berpikir kalau tulisan yang belum dibuat itu pasti tidak akan cukup bagus.

Padahal, mungkin kita cuma perlu duduk dan menulis apa yang ada di kepala tanpa sibuk memikirkan tulisan itu nanti akan dinilai seperti apa. Tulisan yang belum jadi tidak perlu dipaksa terlihat bagus sejak awal karena masih ada kesempatan untuk dibaca ulang, diganti, atau bahkan ditulis lagi dari awal. Kalau selama ini rasa takut menghasilkan tulisan jelek sering bikin kamu urung menulis, coba lihat kenapa perasaan itu bisa muncul dan apa yang sebenarnya bisa dilakukan.

1. Tulisan yang biasa saja belum tentu jelek

ilustrasi tulisan (pexels.com/William Fortunato)

Coba ambil tulisan yang menurutmu jelek, lalu berikan tulisan tersebut ke orang lain. Belum tentu dia akan melihatnya dengan cara yang sama. Tulisan yang menurutmu terlalu sederhana, bahkan biasa, bisa saja terasa enak bagi orang lain karena bahasanya tidak ribet dan gampang dipahami. Sementara, tulisan yang menurutmu bagus belum tentu cocok dengan selera semua orang.

Ukuran bagus atau jelek memang tidak sesederhana melihat tulisan, lalu memberinya nilai. Ada orang yang suka tulisan pendek dan langsung. Ada yang lebih senang membaca kalimat panjang. Ada yang mencari informasi. Ada juga yang cuma ingin menemukan tulisan yang terasa dekat dengan pengalaman mereka. Tulisan yang tidak terasa istimewa bagimu bisa saja justru punya sesuatu yang disukai pembaca lain. Ketika buru-buru menyebut tulisan sendiri jelek, ukuran yang dipakai sering kali cuma standar yang kamu buat sendiri.

2. Kemampuan orang memang tidak sama

ilustrasi menulis (pexels.com/Berna)

Ada orang yang baru belajar menulis, tetapi hasil tulisannya sudah enak dibaca. Kalimatnya tidak terasa dipaksakan. Pilihan katanya juga pas. Karena itu, kamu yang membacanya kadang sampai bertanya-tanya, kok dia bisa langsung menulis seperti itu? Padahal, belum tentu semuanya benar-benar baru dimulai saat kamu melihatnya belajar menulis.

Memang ada orang yang punya bakat lebih besar dalam hal tertentu. Ada yang dari kecil jago menggambar. Ada yang cepat menangkap nada. Ada juga yang sejak pertama menulis sudah punya kemampuan yang bagus. Kemampuan orang memang tidak dimulai dari tempat yang sama sehingga membandingkan tulisan pertamamu dengan tulisan orang yang sudah bertahun-tahun menulis jelas tidak akan terasa adil. Kagum pada kemampuan orang lain boleh saja, tetapi jangan sampai kekaguman itu membuatmu merasa tidak punya kesempatan untuk menjadi lebih baik.

3. Tulisan bagus datang dari banyak percobaan

ilustrasi membuat tulisan (pexels.com/Ron Lach)

Kemampuan menulis juga bisa berubah seiring kamu semakin sering menulis. Tulisan yang sekarang masih terasa kaku, beberapa waktu lagi mungkin sudah terasa lebih enak setelah kamu menemukan cara sendiri dalam menyusun kalimat dan menyampaikan sesuatu. Kadang, kamu baru sadar ada yang perlu diperbaiki setelah tulisan itu selesai dan dibaca lagi, bukan ketika masih sibuk memikirkan kalimat pertama.

Saat membaca tulisan lama, kamu mungkin malah heran sendiri melihat caramu memilih kata kala itu. Kata yang dulu terasa keren ternyata sekarang kelihatan berlebihan. Sementara, bagian yang dulu dianggap biasa saja justru masih enak dibaca. Dari situ, kamu mulai tahu mana yang cocok dan mana yang sebaiknya tidak dipakai lagi. Ini bukan karena pernah membaca teori menulis sebanyak-banyaknya, melainkan karena sudah mengalami sendiri saat membuat tulisan. Jam terbang memang datang dari tulisan yang benar-benar dibuat, dibaca lagi, diperbaiki, lalu dicoba lagi dengan cara yang berbeda.

4. Tulisan yang gagal tetap ada gunanya

ilustrasi membuat tulisan (pexels.com/Vlada Karpovich)

Ada tulisan yang selesai dibuat, lalu tidak pernah dipublikasikan. Ada tulisan yang beberapa bulan kemudian dibaca lagi dan rasanya ingin buru-buru dihapus. Ada juga tulisan yang ketika dibuat terasa biasa saja. Namun, setelah beberapa kali mencoba, kamu baru sadar kalau tulisan itu ternyata membantumu menemukan cara yang lebih enak untuk menyampaikan sesuatu. Tidak semuanya memang harus menjadi karya yang ingin kamu tunjukkan kepada orang lain.

Beberapa tulisan memang cukup selesai saja. Dari tulisan yang kurang bagus pun, kamu bisa tahu banyak hal, misalnya kalimat seperti apa yang ternyata tidak cocok dengan caramu menulis atau bagian mana yang sering kamu buat terlalu panjang. Bisa juga kamu baru sadar kalau selama ini terlalu sering memakai kata tertentu, menjelaskan sesuatu yang sebenarnya sudah jelas, atau membuat pembuka terlalu panjang sebelum masuk ke inti. Hal-hal semacam itu mungkin tidak terasa penting ketika tulisan tersebut dibuat, tetapi bisa berguna ketika kamu duduk lagi di depan halaman kosong dan sudah tahu kesalahan mana yang tidak ingin diulang.

5. Jangan menunggu sampai merasa jago

ilustrasi menulis (pexels.com/Ron Lach)

Mungkin bagian yang paling susah memang bukan mencari ide atau memilih kata, melainkan berani melihat tulisan sendiri apa adanya. Kamu ingin hasilnya bagus, terlihat pintar, orang lain suka, atau bahkan kadang sudah membayangkan komentar orang sebelum tulisanmu selesai. Padahal, selama semua kemungkinan itu terus dipikirkan, satu paragraf bisa jadi tak kunjung selesai.

Tulis saja dulu, lalu baca lagi setelah selesai. Kalau ada bagian yang terasa aneh, nanti bisa diperbaiki. Kalau setelah selesai ternyata hasilnya memang jelek, tidak masalah juga. Setidaknya, tulisan itu sudah ada di depan mata sehingga kamu bisa menunjuk bagian yang tidak disukai. Sementara, tulisan yang cuma disimpan di kepala tidak memberimu apa-apa untuk diperbaiki. Beberapa waktu lagi, tulisan yang sekarang terasa memalukan mungkin justru akan membuatmu tertawa sendiri, “Dulu kenapa aku nulis begini, ya?”

Jadi, kalau sedang punya ide, tetapi takut hasilnya jelek, tulis saja dulu tanpa menunggu merasa sudah jago. Urusan bagus atau tidak bisa dipikirkan setelah tulisanmu benar-benar ada, bukan ketika semuanya masih berupa bayangan di kepala. Selamat menulis dan berkarya, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article