3 Perjalanan Kreatif Tsugaeda Menulis Novel Misteri Hilang di Wonju

- Tsugaeda, atau Ade Agustian, mendapat inspirasi novel Hilang di Wonju setelah mengikuti residensi penulis Wonju City of Literature di Korea Selatan selama dua bulan pada 2024.
- Ide tentang warga Indonesia hilang di Wonju muncul spontan saat penyusunan proposal, lalu berkembang setelah Tsugaeda mengetahui banyak pekerja migran Indonesia berada di wilayah pegunungan Korea.
- Untuk membangun latar, Tsugaeda mengamati keseharian Wonju, dari transportasi desa hingga pasar dan pangkalan militer; novel menyorot penyelidikan polwan Hani Rustaman atas hilangnya Felisia.
Inspirasi bisa datang dari mana saja. Begitu pula dengan penulis thriller dan misteri Tsugaeda. Pengalaman tinggal selama dua bulan di Wonju, Korea Selatan, menjadi titik awal lahirnya sebuah cerita tentang orang Indonesia yang hilang di kota tersebut.
Kisah di balik novel Hilang di Wonju itu dibagikan Tsugaeda dalam acara “Bincang Buku Bersama Penulis: Sebuah Kota, Sebuah Cerita” yang digelar di Korean Cultural Center Indonesia (KCC Indonesia), Jakarta, Rabu (9/9).
Tsugaeda menceritakan proses kreatif di balik novelnya. Mulai dari pengalamannya mengikuti program residensi penulis di Wonju, melakukan riset di lingkungan sekitar, hingga bagaimana pengamatan terhadap kehidupan masyarakat setempat masuk ke dalam cerita.
1. Berawal dari program residensi penulis di Wonju

novel Hilang di Wonju karya Tsugaeda (Elexmedia.id) Tsugaeda, yang memiliki nama asli Ade Agustian, merupakan penulis asal Malang, Jawa Timur. Ia mulai menulis sejak 2013. Sebelum menjadi penulis, ia sempat bekerja di sebuah bank. Kini, ia dikenal melalui karya-karyanya yang banyak mengusung genre thriller, crime, dan mystery.
Novel pertamanya, Rencana Besar, bahkan telah diadaptasi menjadi film dan tayang di salah satu platform OTT. Selain novel thriller, Tsugaeda juga menulis novel bergambar untuk anak-anak dengan tema detektif dunia hewan.
Ketertarikannya pada Wonju bermula ketika ia mengikuti program pertukaran penulis “Wonju City of Literature, Writers Residency” pada 2024.
“Saya tidak menyangka bisa lolos program itu karena genre saya detektif. Biasanya yang diterima tulisan-tulisan yang nyastra banget,” kata Tsugaeda.
Selama mengikuti program, ia bertemu dengan penulis dari berbagai negara. Para peserta tinggal dan berkarya di Toji Cultural Center, kompleks residensi penulis yang setiap tahun mengundang penulis dari berbagai belahan dunia. Bagi Tsugaeda, suasana tempat tersebut justru menjadi salah satu pengalaman yang paling membekas.
“Tempatnya seperti di tengah hutan gitu, ada banyak sawah,” ujarnya.
Toji Cultural Center merupakan tempat yang berkaitan dengan Park Kyung-ni, salah satu penulis legendaris Korea. Rumahnya kini dijadikan museum.
“Ada nuansa klasik, ada juga toko merch yang nuansanya anak muda banget. Ada banyak kamar, kafetaria, juga dapur,” kata Tsugaeda.
Selama dua bulan, para penulis mendapatkan ruang untuk berkarya tanpa tuntutan yang terlalu ketat. Panitia lebih banyak menyediakan ruang untuk berdiskusi dan menciptakan suasana yang mendukung proses kreatif.
2. Ide orang Indonesia hilang di Wonju muncul secara spontan

Tsugaeda berbagi cerita dalam acara “Bincang Buku Bersama Penulis: Sebuah Kota, Sebuah Cerita” di KCC Indonesia (Dok. Pribadi/ndiana Malia) Menariknya, gagasan utama Hilang di Wonju tidak muncul setelah riset panjang. Ide tersebut justru lahir secara spontan. Ketika mengikuti program residensi, Tsugaeda hanya memiliki waktu sekitar dua minggu untuk mengirimkan proposal. Ia kemudian memutuskan membuat cerita tentang orang Indonesia yang hilang di Wonju.
"Terus terang saya saat itu tidak tahu di mana letak kota Wonju,” tuturnya.
Sesampainya di Korea, Tsugaeda justru sempat merasa ragu dengan gagasannya sendiri. Selama bulan pertama, ia melihat Wonju sebagai kota yang cukup tenang dan jauh dari kesan sebagai tempat yang memungkinkan terjadinya kisah hilangnya seorang warga Indonesia.
“Kayaknya gak mungkin deh orang Indonesia hilang di sini,” ujarnya mengenang pengalamannya.
Namun, pemikirannya berubah setelah mengetahui bahwa terdapat banyak pekerja migran Indonesia yang bekerja di wilayah pegunungan Korea.
Dari situ, muncul pertanyaan lain yang kemudian memperkaya cerita: bagaimana jika seorang warga Indonesia benar-benar hilang di wilayah tersebut? Apakah polisi Indonesia bisa terlibat dalam pencarian? Bagaimana caranya?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian ia kembangkan menjadi premis novel.
3. Tsugaeda mengamati keseharian masyarakat Wonju

sesi tanda tangan bersama penulis dalam acara “Bincang Buku Bersama Penulis: Sebuah Kota, Sebuah Cerita” di KCC Indonesia (Dok. Pribadi/Indiana Malia) Untuk membuat cerita terasa lebih hidup, Tsugaeda banyak mengamati langsung kehidupan sehari-hari masyarakat Wonju.
Salah satu hal yang membuatnya terkesan adalah transportasi di wilayah yang menurutnya sangat jauh dari gambaran perkotaan. Ia menemukan halte bus lengkap dengan jadwal kedatangan dan keberangkatan. Bus tetap datang sesuai jadwal meskipun berada di kawasan pedesaan. Pengalaman semacam itu kemudian menjadi bahan untuk menghidupkan latar dalam novel.
“Saya pernah pergi ke pasar yang gak ada turisnya. Ini, kan, wilayah pedesaan banget. Ada halte bus, ada jadwalnya dan on time, saya gak expect ada bus masuk ke pedesaan gitu,” katanya.
Selain pasar tradisional, ia juga kerap mampir ke kedai dan bahkan berkunjung ke rumah petani. Menurutnya, aktivitas tersebut bukan sekadar jalan-jalan, melainkan cara untuk memahami lingkungan tempat cerita berlangsung.
Suatu hari, ketika sedang bersantai, ia melihat banyak pesawat tempur di sekitar kawasan tersebut. Ia kemudian mengetahui bahwa ada pangkalan militer di dekat Wonju yang terkenal karena idol yang sedang menjalani wajib militer. Hal ini membuatnya tertarik menggali dunia K-pop lebih jauh untuk mengembangkan naskah.
Tsugaeda bertanya kepada teman-temannya yang merupakan penggemar K-pop. Ia juga memanfaatkan akses perpustakaan Yonsei University yang diberikan kepada peserta program residensi untuk mencari literatur yang dibutuhkan.
Bagi Tsugaeda, proses menulis Hilang di Wonju menunjukkan bahwa inspirasi tidak selalu datang dari tempat yang sudah dikenal atau dari riset yang direncanakan sejak awal. Wonju, kota yang awalnya bahkan tidak ia kenal justru memberinya bahan untuk membangun sebuah cerita.
Novel Hilang di Wonju mengisahkan Iptu Hani Rustaman, polwan Indonesia yang kariernya sedang di ujung tanduk. Jika bisa membantu memecahkan kasus hilangnya Felisia—gadis dari Jakarta—di Korea, ada harapan jalan hidupnya di kepolisian masih bisa diselamatkan. Namun, kehadiran Hani diremehkan dan ditolak Kepolisian Korea.
Hani tetap memutuskan untuk melanjutkan penyelidikannya. Bersama Detektif Lee Kyungseok—detektif yang ditugaskan untuk mendampinginya—Hani mulai menyusun kepingan petunjuk yang membawa mereka lebih jauh ke dalam labirin teka-teki penyelamatan Felisia. Koper yang sengaja dibuang, rumor Pembunuh Saputangan, hingga ritual angka tujuh yang mengerikan menyadarkan Hani bahwa misi penyelamatan Felisia lebih pelik daripada yang dia bayangkan.




![[QUIZ] Pilih Situasi, Apakah Kamu Pick Me di Mata Orang Lain?](https://image.idntimes.com/post/20250919/pexels-rdne-8419238_06d5012f-e173-4e1a-b72e-83cdb85332e5.jpg)
![[QUIZ] Orang Melihat Sikapmu, tapi Kuis Ini Membaca Perasaan di Baliknya](https://image.idntimes.com/post/20250528/pexels-olha-ruskykh-6454779-ca7861d229530a4050f7ba8e168cf362.jpg)



![[QUIZ] Kamu ingin Dicintai, Dipahami, atau Sekadar Didengar?](https://image.idntimes.com/post/20250428/sad-couple-sitting-bench-by-lake-23-2150516228-3159a2704e4b6062c72c7e3be406df32-a68847360d9bb339aed1fdc2441b893e.jpg)
![[QUIZ] Pilih Situasi Overwhelmed, Apakah Kamu Sebenarnya Ambiver?](https://image.idntimes.com/post/20251213/pexels-mart-production-7606023_475f07a5-796c-4292-8a28-8e9201d50fd9.jpg)


![[QUIZ] Dari Caramu Bereaksi Saat Kecewa, Kamu Alpha atau Beta?](https://image.idntimes.com/post/20250828/vitaly-gariev-8kggggvzdx0-unsplash_f74019b4-503a-478a-80ac-c042e3b6a5c1.jpg)

![[QUIZ] Di Fase Hidupmu Sekarang, Kamu Masih Butuh Validasi atau Fokus pada Kebahagiaan Personal?](https://image.idntimes.com/post/20250524/pexels-glassesshop-gs-1317359316-27055603-83de87f553c5cee9745696dfbd6ab017.jpg)






