Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Lihat Laut Malah Merinding? Ini 5 Alasan Kamu Kena Thalassophobia!

Kenapa Lihat Laut Malah Merinding? Ini 5 Alasan Kamu Kena Thalassophobia!
ilustrasi trauma tenggelam bisa menjadi penyebab thallassophobia (pexels.com/Aslam shah)
Intinya Sih
  • Thalassophobia adalah ketakutan mendalam terhadap laut yang bisa muncul dari rasa kehilangan kendali, misteri ruang gelap, hingga bayangan makhluk tak dikenal di bawah permukaan air.
  • Fobia ini sering dipicu oleh pengalaman traumatis masa lalu seperti hampir tenggelam atau terseret ombak, yang tersimpan dalam memori otak dan memunculkan reaksi panik saat melihat laut.
  • Faktor genetik dan tingkat sensitivitas kecemasan juga berperan besar, membuat sebagian orang lebih mudah merasa takut terhadap lautan dibandingkan orang lain meski situasinya tampak aman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Pernah gak saat melihat video laut dalam yang gelap, tiba-tiba dadamu rasanya sesak dan ingin cepat-cepat menyudahinya? Atau pas main ke pantai, alih-alih merasa tenang mendengarkan suara ombak, kamu malah ketakutan setengah mati membayangkan apa yang ada di dalam air.

Buat sebagian orang, liburan ke pantai itu seru, tapi buat kamu yang punya ketakutan berlebih pada laut, hal ini bisa jadi mimpi buruk yang nyata, lho. Kondisi ini bukan sekadar fobia biasa, melainkan sebuah respons psikologis mendalam yang dikenal dengan istilah thalassophobia.

Kalau ketakutan ini dibiarkan terus tanpa kamu tahu pemicunya, bisa-bisa kamu bakal makin cemas bahkan hanya dengan melihat foto lautan. Lebih jauh lagi, rasa takut yang gak dipahami ini bisa bikin kamu merasa 'aneh' sendirian, padahal apa yang kamu rasakan itu valid dan ada penjelasan ilmiahnya, kok. Yuk, cari tahu penyebab yang bikin seseorang bisa seketakutan itu cuma karena melihat hamparan air yang luas!


1. Misteri ruang gelap yang luas dan tak berujung

ilustrasi laut dalam yang gelap
ilustrasi laut dalam yang gelap (pexels.com/isaac mijangos)

Otak manusia secara alami didesain untuk menyukai kepastian dan rasa aman. Ketika kamu melihat laut lepas yang sangat luas, otakmu langsung bekerja keras memproses hamparan kosong yang seolah-olah gak ada ujungnya itu. Hal ini memicu kecemasan karena insting bertahan hidupmu merasa kehilangan kendali atas navigasi sekitar. Kurangnya stimulasi visual yang jelas di laut lepas bikin pikiranmu gampang memproyeksikan hal-hal yang menyeramkan.

Bayangkan kamu sedang berada di tengah kegelapan total tanpa tahu mana arah jalan pulang, mirip seperti perasaan tersesat di ruang angkasa. Sensasi helplessness atau ketidakberdayaan inilah yang bikin bulu kuduk langsung berdiri seketika. Buat kamu yang sering merasa cemas di tempat terbuka yang super luas, bisa jadi ini adalah pemicu utama thalassophobia-mu. 


2. Takut pada apa yang bersembunyi di bawah permukaan

ilustrasi ketidaktahuan isi di dalam laut membuat orang takut
ilustrasi ketidaktahuan isi di dalam laut membuat orang takut (pexels.com/Francesco Ungaro)

Bukan rahasia lagi kalau manusia baru mengeksplorasi sebagian kecil dari seluruh lautan yang ada di bumi ini. Ketidaktahuan ini memicu fear of the unknown atau rasa takut pada hal-hal yang gak kamu ketahui secara pasti. Saat kakimu menyentuh air laut yang keruh, pikiranmu mungkin langsung traveling memikirkan makhluk seram apa yang sedang mengintip dari bawah sana. Pikiran bawah sadar kamu cenderung mengisi kekosongan informasi tersebut dengan skenario film horor.

Efek menonton film seperti Jaws atau Megashark pas kecil juga kerap terbawa sampai kamu tumbuh dewasa, lho. Otak pintar mengaitkan warna air yang biru pekat dengan tempat persembunyian predator mematikan. Jadi, tiap kali melihat kedalaman air, yang terbayang bukannya terumbu karang yang cantik, tapi malah tentakel raksasa yang siap menarikmu ke dasar. Menghadapi monster imajinasi sendiri memang melelahkan, jadi wajar banget kalau kamu memilih main di pasir pantai saja.


3. Trauma masa lalu yang belum selesai berselancar di otak

ilustrasi hampir tenggelam saat berenang
ilustrasi hampir tenggelam saat berenang (pexels.com/Arın Turkay)

Fobia gak muncul begitu saja tanpa alasan. Sebab, sering kali ada kejadian buruk di masa kecil yang mengawalinya. Mungkin kamu pernah hampir tenggelam saat belajar berenang, terseret ombak kecil waktu main di pantai, atau tersengat ubur-ubur sampai kapok. Pengalaman traumatis ini tersimpan rapi di dalam amigdala, yaitu bagian otak yang mendeteksi ancaman dan mengatur rasa takut. Begitu kamu melihat laut lagi, otakmu langsung menyalakan alarm darurat seolah bahaya yang sama sedang mengincarmu.

Trauma ini suka datang tiba-tiba tanpa diundang dan bikin suasana hati langsung berantakan. Gak peduli seberapa dewasanya kamu sekarang, memori tubuh saat kesulitan bernapas di dalam air itu susah dilupakan, lho. Kalau kamu punya cerita lama yang kurang menyenangkan dengan air, pelan-pelan dimaafkan dan diterima proses sembuhnya, ya. Mengakui kalau kamu trauma itu langkah awal yang keren buat berdamai dengan rasa takutmu.


4. Hilangnya kendali tubuh saat berada di dalam air

ilustrasi berenang di laut
ilustrasi berenang di laut (pexels.com/Taher Hassan)

Di darat, kamu bisa berlari, melompat, dan mengendalikan setiap pergerakan tubuh dengan bebas berkat adanya gravitasi yang stabil. Namun, begitu masuk ke dalam air laut yang arusnya gak bisa diprediksi, kamu otomatis kehilangan kontrol penuh atas fisikmu sendiri. Bagi sebagian orang, sensasi tubuh yang mengambang tanpa pijakan yang kokoh ini bisa memicu kepanikan massal di dalam pikiran, lho. Rasa takut kehilangan kendali inilah yang bikin lautan terasa begitu mengintimidasi.

Kamu gak bisa memprediksi kapan ombak besar datang atau ke mana arus bawah laut akan menyeret tubuhmu yang mungil itu. Ketidakberdayaan fisik ini bikin sistem sarafmu langsung masuk ke mode siaga secara instan. Jadi, kalau kamu merasa lebih nyaman dengan kaki yang tetap menapak di pasir pantai, itu pilihan yang bijak, kok.


5. Pengaruh genetik dan sensitivitas kecemasan yang tinggi

ilustrasi cemas
ilustrasi cemas (pexels.com/Liza Summer)

Terkadang, alasan kamu takut setengah mati pada laut itu sesederhana karena genetikmu. Penelitian psikologi menunjukkan bahwa fobia spesifik bisa diturunkan dalam keluarga melalui genetik atau pola asuh yang penuh kecemasan. Jika orang tuamu cenderung protektif dan sering melarangmu dekat-dekat dengan air karena bahaya, kamu akan menginternalisasi rasa takut tersebut. Selain itu, orang dengan tingkat neurotisisme yang tinggi memang lebih sensitif terhadap rangsangan yang menakutkan.

Artinya, radar bahaya di otakmu itu punya setelan yang jauh lebih sensitif dibandingkan dengan teman-temanmu yang lain. Apa yang bagi orang lain kelihatan biasa saja, di matamu langsung berubah jadi ancaman keselamatan jiwa. Ini bukan berarti kamu lemah atau penakut, melainkan sistem keamanan tubuhmu saja yang bekerja terlalu bersemangat untuk melindungimu. Jadi, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri karena punya ketakutan yang berbeda dari orang kebanyakan, ya.

Mengetahui alasan di balik thalassophobia yang mengapa ada orang takut setengah mati pada laut adalah langkah awal yang baik untuk memahami dirimu sendiri secara utuh. Ketakutanmu itu nyata dan valid, jadi kamu gak perlu memaksakan diri untuk langsung berenang di laut lepas hanya demi pembuktian sosial. 




This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina

Related Articles

See More