Kenapa Membaca Buku Bisa Terasa seperti Mengejar Prestasi?

Target jumlah buku dan pencapaian orang lain di media sosial bisa membuat membaca terasa seperti kompetisi.
Tekanan untuk selalu produktif dapat mengurangi kenikmatan membaca sebagai kegiatan santai.
Membaca tidak harus cepat atau selalu selesai karena pemahaman dan kenyamanan setiap orang berbeda.
Membaca buku sering dianggap sebagai kebiasaan positif yang patut dipertahankan. Banyak orang mulai membuat target membaca, mencatat jumlah buku yang selesai, hingga membagikan daftar bacaan mereka di media sosial. Awalnya, kebiasaan ini mungkin dilakukan untuk memotivasi diri agar lebih rajin membaca. Namun, tanpa disadari, membaca buku juga bisa berubah menjadi kegiatan yang terasa seperti mengejar prestasi.
Ada perasaan puas ketika berhasil menyelesaikan banyak buku dalam waktu singkat. Sebaliknya, muncul rasa bersalah saat satu buku membutuhkan waktu lama untuk diselesaikan. Padahal, membaca seharusnya bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan tanpa harus selalu menghasilkan pencapaian tertentu. Lantas, kenapa membaca buku bisa terasa seperti sebuah kompetisi?
1. Jumlah buku yang dibaca sering dijadikan ukuran keberhasilan

ilustrasi rak buku (pexels.com/Alisa Fjolars) Salah satu alasan membaca terasa seperti mengejar prestasi adalah kebiasaan mengukur keberhasilan dari jumlah buku yang selesai dibaca. Misalnya, seseorang menetapkan target membaca 30 atau 50 buku dalam setahun. Target tersebut sebenarnya tidak salah karena bisa membantu membangun kebiasaan membaca.
Masalahnya muncul ketika angka menjadi lebih penting daripada pengalaman membaca itu sendiri. Seseorang mungkin memilih buku yang lebih tipis agar targetnya cepat tercapai. Bahkan, ada yang merasa kurang produktif hanya karena membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan satu buku. Padahal, menyelesaikan 10 buku dengan pemahaman yang baik bisa jadi lebih baik daripada membaca 50 buku dalam setahun.
2. Media sosial membuat kebiasaan membaca terlihat seperti kompetisi

ilustrasi menggulir media sosial (unsplash.com/Marco Palumbo) Di media sosial, kita bisa menemukan banyak orang membagikan pencapaian membaca mereka. Ada yang berhasil menyelesaikan belasan buku dalam sebulan, memiliki rak buku penuh, atau rutin mengunggah ulasan setiap selesai membaca. Konten semacam ini sebenarnya bisa memberikan inspirasi. Namun, terlalu sering melihat pencapaian orang lain juga dapat membuat seseorang membandingkan kebiasaan membacanya sendiri.
Misalnya, seseorang yang baru menyelesaikan dua buku dalam sebulan merasa tertinggal setelah melihat orang lain membaca sepuluh buku. Perbandingan seperti ini bisa membuat kegiatan membaca yang awalnya menyenangkan justru terasa seperti persaingan. Padahal, setiap orang memiliki waktu luang, tanggung jawab, dan kemampuan membaca yang berbeda.
3. Ada anggapan bahwa waktu luang harus selalu produktif

ilustrasi membaca buku (pexels.com/Tima Miroshnichenko) Saat ini, banyak kegiatan sehari-hari dikaitkan dengan produktivitas, termasuk membaca buku. Membaca dianggap sebagai cara untuk meningkatkan pengetahuan, mengembangkan diri, atau menjadi pribadi yang lebih baik. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Namun, ketika semua kegiatan harus memberikan manfaat yang jelas, membaca untuk sekadar menikmati cerita bisa terasa kurang berarti.
Seseorang mungkin merasa harus memilih buku pengembangan diri daripada novel ringan. Bahkan, membaca cerita fiksi pun terkadang dianggap perlu menghasilkan pelajaran hidup tertentu. Padahal, tidak semua waktu luang harus digunakan untuk meningkatkan kemampuan diri. Tidak ada salahnya membaca novel karena tertarik dengan ceritanya atau membaca komik karena lucu.
4. Keinginan menyelesaikan buku bisa mengalahkan rasa menikmati

ilustrasi membaca buku (pexels.com/Keira Burton) Pernah merasa ingin segera mencapai halaman terakhir meskipun sebenarnya sedang menikmati sebuah buku? Hal ini bisa terjadi ketika menyelesaikan bacaan dianggap sebagai pencapaian tersendiri. Akibatnya, seseorang mungkin terus membaca meskipun sedang lelah atau kehilangan minat terhadap isi buku. Ada pula yang merasa harus menamatkan setiap buku yang sudah dimulai karena tidak ingin dianggap menyerah.
Padahal, tidak ada kewajiban untuk menyelesaikan semua buku. Selera membaca bisa berubah dan sebuah buku yang menarik bagi orang lain belum tentu cocok untuk kita. Memaksakan diri menyelesaikan bacaan justru bisa membuat kegiatan membaca terasa seperti pekerjaan tambahan.
5. Membaca perlahan sering dianggap sebagai tanda kurang disiplin

ilustrasi membaca (pexels.com/www.kaboompics.com) Orang yang mampu membaca satu buku dalam beberapa hari sering dianggap memiliki kebiasaan membaca yang baik. Sementara itu, membaca satu buku selama sebulan terkadang membuat seseorang merasa kurang konsisten. Padahal, kecepatan membaca dipengaruhi banyak hal. Buku dengan pembahasan yang rumit tentu membutuhkan waktu berbeda dibandingkan novel ringan. Belum lagi jika seseorang harus membagi waktunya untuk bekerja, mengurus keluarga, atau kegiatan lainnya.
Membaca perlahan juga memungkinkan seseorang menikmati detail cerita yang mungkin terlewat jika membaca terlalu cepat. Selain itu, pembaca memiliki lebih banyak waktu untuk memikirkan kembali bagian yang dianggap menarik. Cara ini juga bisa membantu seseorang memahami isi buku dengan lebih baik. Jadi, kecepatan membaca tidak selalu menunjukkan seberapa besar manfaat yang diperoleh.
Pada akhirnya, membaca buku merupakan pengalaman yang sifatnya pribadi. Ada orang yang menetapkan target tertentu, sementara yang lain cukup menikmati bacaan tanpa target apa-apa. Keduanya sama-sama wajar.






















