Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Persahabatan di Upin & Ipin Lebih Real dari Teman Media Sosial?
Animasi Upin Ipin (youtube.com/Les' Copaque Production)

Pernahkah kamu merasa punya ribuan pengikut di Instagram atau ratusan teman di kontak WhatsApp, tapi saat sedang merasa sedih atau butuh bantuan, bingung harus menghubungi siapa?

Fenomena ini kontras sekali dengan apa yang kita lihat di Kampung Durian Runtuh. Upin, Ipin, Mei Mei, Mail, Ehsan, Fizi, Jarjit, dan Susanti mungkin hanya anak-anak kecil dalam sebuah animasi.

Namun, jika kita bedah lebih dalam, dinamika pertemanan mereka terasa jauh lebih "hidup" dan tulus dibandingkan circle pertemanan kita di dunia maya yang sering kali penuh filter.

Mengapa persahabatan mereka terasa lebih nyata? Mari kita jujur pada diri sendiri lewat beberapa alasan berikut.

1. Hadir secara utuh, bukan sekadar 'Like' dan 'Comment'

Animasi Upin Ipin (youtube.com/Les' Copaque Production)

Di media sosial, dukungan kita sering kali hanya sebatas memberikan like atau menulis komentar singkat. Padahal, esensi persahabatan jauh lebih dalam dari itu.

American Psychological Association (APA) dalam Psychology Today menjelaskan terkait arti persahabatan.

"Hubungan sukarela antara dua orang atau lebih yang berlangsung relatif lama dan di dalamnya pihak-pihak yang terlibat cenderung peduli untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan orang lain serta memuaskan keinginan mereka sendiri."

Bandingkan dengan geng Upin Ipin. Mereka hadir secara fisik untuk memenuhi kebutuhan satu sama lain, baik itu saat butuh teman bermain maupun bantuan saat kesulitan. Kehadiran utuh tanpa distraksi layar inilah yang membuat ikatan mereka memenuhi kriteria hubungan jangka panjang yang sehat versi APA, sesuatu yang sulit didapat hanya dari interaksi digital yang dangkal.

2. Konflik yang diselesaikan, bukan di-ghosting

Animasi Upin Ipin (youtube.com/Les' Copaque Production)

Ingat saat Fizi tanpa sengaja menyinggung perasaan Upin dan Ipin tentang surga di bawah telapak kaki ibu? Itu adalah konflik yang nyata. Namun, mereka tidak lantas saling block atau melakukan ghosting.

Marisa G. Franco, Ph.D., seorang pakar psikologi, menjelaskan dalam Psychology Today bahwa dasar pertemanan yang kuat adalah kunci menghadapi perselisihan. Ia menyatakan:

"Berinvestasi secara positif dalam persahabatan kita, dengan bersikap penuh kasih, dapat diandalkan, atau murah hati kepada teman, memberikan fondasi untuk konflik yang lebih sehat ketika hal itu muncul."

Inilah yang terjadi di Kampung Durian Runtuh. Karena Upin, Ipin, dan Fizi sudah "berinvestasi" dalam kebaikan setiap hari, mereka memiliki fondasi kuat untuk saling memaafkan. Mereka membuktikan bahwa konflik bukanlah akhir, melainkan bagian dari kedewasaan dalam berteman.

3. Penerimaan tanpa syarat dan tak memandang status sosial

Animasi Upin Ipin (youtube.com/Les' Copaque Production)

Coba perhatikan circle kita sekarang. Tanpa sadar, kita sering terjebak dalam pertemanan yang didasarkan pada kesamaan status ekonomi, hobi yang estetik, atau demi kebutuhan konten.

Geng Durian Runtuh adalah definisi asli dari keberagaman. Ehsan adalah anak orang kaya yang punya segala fasilitas, Mail si pedagang cilik yang pekerja keras, hingga Susanti yang merupakan pendatang dari negara tetangga.

Meski latar belakang mereka jomplang, mereka tidak merasa ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Mereka berteman karena mereka memang suka menghabiskan waktu bersama, bukan karena ingin terlihat keren di mata orang lain.

4. Bahagia dalam kesederhanaan, bukan demi validasi

Animasi Upin Ipin (youtube.com/Les' Copaque Production)

Banyak dari kita terjebak dalam perilaku mencari pengakuan lewat unggahan di media sosial. Kita sering kali merasa perlu menunjukkan kehidupan yang sempurna agar dianggap "bahagia".

Hal ini disoroti oleh Dr. Siti Khadijah Zainal Badri, profesor dari School of Psychology, University of Nottingham Malaysia. Ia memperingatkan bahwa pengejaran validasi emosional secara berlebihan melalui media sosial adalah perilaku yang sangat tidak sehat yang secara bertahap dapat mengurangi kesejahteraan psikologis dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Dr. Siti Khadijah menyarankan bahwa mengambil jeda dari media sosial dapat memberikan manfaat psikologis yang nyata karena individu akan terhubung kembali dengan lingkungan sekitar dan hubungan di kehidupan nyata.

"Pengejaran stabilitas emosional yang berlebihan melalui validasi media sosial adalah perilaku yang sangat tidak sehat yang secara bertahap dapat menurunkan kesejahteraan psikologis dan kualitas hidup secara keseluruhan," ujar Siti Khadijah seperti dikutip dari The Sun Malaysia.

Upin dan Ipin secara tidak langsung menjalankan saran ini. Mereka menemukan kebahagiaan murni dari mengejar ayam atau bermain di sungai, membuktikan bahwa kebahagiaan sejati muncul saat kita berhenti mencari validasi di layar dan mulai hadir di dunia nyata.

Curated For You

Editorial Team

Related Article