Overthinking dapat membuat kita menjadi orang yang toksik dalam hubungan. Perasaan cemas tanpa sadar akan memunculkan prasangka buruk terhadap orang lain atau terhadap situasi yang tengah terjadi. Akibatnya, hubungan dengan keluarga atau teman menjadi kurang harmonis. Hal ini juga sudah pasti akan berdampak negatif pada hubungan sosial di lingkungan kerja.
3 Dampak Negatif Overthinking Menurut Buku Nick Trenton, Bahaya!

- Menurut Nick Trenton, overthinking memicu stres, kecemasan, ketakutan, dialog diri negatif, penurunan kepercayaan diri dan motivasi, serta dapat menghambat perkembangan diri hingga depresi.
- Pikiran yang terus tegang dapat menimbulkan nyeri otot, sakit kepala, gemetar, jantung berdebar, mual, sulit fokus, dan gangguan tidur; berkepanjangan dikaitkan dengan penyakit kronis.
- Overthinking membuat seseorang cenderung menghindari interaksi, berprasangka buruk, dan sulit membangun hubungan harmonis dengan keluarga, teman, maupun rekan kerja.
Berpikir bukan suatu masalah. Tentu kita perlu berpikir saat menjalani aktivitas harian, seperti untuk bertindak atau sebelum mengambil keputusan. Namun, ketika pikiran-pikiran itu mulai memenuhi kepala dan sulit dikendalikan, berpikir akan menimbulkan masalah. Ini yang disebut overthinking atau berpikir berlebihan.
Overthinking sering kali tidak membawa kita kepada hal positif. Isi kepala justru penuh dengan segala bentuk pikiran yang menimbulkan kecemasan, ketakutan, hingga stres. Hal ini pernah dibahas dalam buku Stop Overthinking: Lebih Happy Jalani Hidup dengan Tidak Berpikir Berlebihan karya Nick Trenton.
Nick Trenton pernah menjelaskan dalam bukunya bahwa overthinking memiliki konsekuensi yang cukup besar. Ia mengatakan overthinking berdampak negatif pada mental, fisik, dan sosial. Bagaimana bisa? Mari kita kupas melalui ulasan berikut ini.
1. Overthinking dapat berdampak buruk pada mental dan psikologis

ilustrasi seseorang sedang merenung di dalam kamarnya (pexels.com/cottonbro studio) Sudah bisa kita tebak, overthinking memang berdampak buruk pada mental dan psikologis. Bukan cuma menimbulkan stres, overthinking yang parah dapat menurunkan kepercayaan diri hingga menghilangkan motivasi dalam diri. Sebab, pikiran lebih fokus pada pola pikir negatif, perasaan cemas dan takut terus muncul, bahkan pada hal-hal yang belum terjadi sekalipun.
Dalam buku Stop Overthinking dijelaskan bahwa orang yang sering overthinking lebih mudah marah, gugup, tegang, lesu, sulit berkonsentrasi, apatis, bahkan berujung pada depresi. Mereka kerap berdialog negatif dengan diri sendiri yang lama-lama bisa merusak mental. Dengan cara-cara tertentu, overthinking bahkan bisa membentuk kepribadian yang membuat kita enggan mengambil risiko dan kurang tahan terhadap stres.
Bagian paling buruknya, overthinking dapat menghambat potensi diri, yang membuat kita sulit berkembang. Segala sesuatu dipandang negatif karena kekhawatiran yang terus muncul di kepala. Ketika dihadapkan pada peluang dan pengalaman baru, bukannya belajar, justru kita malah cemas dan sulit beradaptasi. Kita juga menjadi sulit menemukan solusi ketika dihadapkan pada masalah.
2. Overthinking dapat menganggu kesehatan fisik

ilustrasi seorang pria terlihat sakit kepala (pexels.com/Andrea Piacquadio) Overthinking ternyata tidak hanya berdampak buruk pada mental, tetapi juga pada fisik. Jika pikiran terus-menerus dalam mode tegang, tentu tubuh akan lelah. Pada akhirnya, timbul rasa sakit pada otot, sakit kepala, badan gemetar, jantung berdebar kencang, bahkan rasa mual. Semua ini bisa menyebabkan kita sulit fokus hingga sulit tidur.
Tubuh pada dasarnya mampu menahan stres akut, tetapi hanya jika terjadi secara singkat. Namun, jika overthinking terjadi secara terus-menerus atau berkepanjangan, tubuh bisa tumbang. Dalam buku Stop Overthinking dikatakan bahwa berpikir berlebihan dapat menyebabkan penyakit kronis seperti penyakit kardiovaskular, insomnia, dan disregulasi hormon. Dampak fisik ini tidak main-main, karena bisa terjadi seumur hidup.
3. Kehidupan sosial pun ikut terpengaruh

ilustrasi teman sedang bertengkar (pexels.com/Liza Summer) Rusaknya kehidupan sosial semakin memperburuk keadaan yang ditimbulkan oleh overthinking. Pikiran dan perasaan yang tidak karuan membuat kita sulit menjalin hubungan baik dengan orang lain. Setiap ucapan dan tindakan sering kali memicu kekhawatiran, sehingga menghindar dari kehidupan sosial terasa jauh lebih aman.
Overthinking ternyata berbahaya jika terus dibiarkan. Solusinya, fokuslah pada tindakan, bukan masalah. Lakukan tindakan-tindakan yang dapat mengatasi pikiran berlebihan seperti mempraktikkan teknik pernapasan atau menulis jurnal emosi. Kalau ingin tahu lebih lengkap, baca bukunya, ya!






















