“Dari Aisyah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Orang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Sebaliknya, orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka. Orang bodoh yang dermawan lebih disukai oleh Allah daripada ahli ibadah yang kikir'."
Secara Psikologis, Kenapa Ramadan Buat Kita Lebih Berempati dengan Berbagi?

Memasuki bulan Ramadan, suasana penuh kehangatan dan kebersamaan terpancar dalam raut wajah setiap Muslim. Seolah, ibadah puasa yang mengharuskan setiap orang beriman untuk menahan haus dan lapar, justru memberi kesejukan dalam dirinya. Keikhlasan untuk menahan hawa nafsu menjadi kunci ibadah puasa dapat berjalan dengan baik.
Selain menahan nafsu, bulan Ramadan sebagai salah satu periode waktu yang suci juga mengetuk hati setiap insan untuk berbagi. Di momen yang spesial ini, umat Islam diajarkan untuk berbagi dengan sesama. Sebab, menjaga hawa nafsu tak sebatas dipahami dengan menunda dahaga dan lapar, melainkan menjaga hasrat untuk mengusai harta pribadi secara berlebihan, seorang diri.
Dalam prakteknya, umat Islam diajarkan untuk bersedekah, memberi makan orang yang berpuasa, hingga membayar zakat. Seluruh amalan ini tujuannya menumbuhkan rasa peduli terhadap sesama manusia, agar dapat sama-sama menikmati hari kemenangan yaitu Idul Fitri dengan suka cita.
Secara psikologis, berbagi kepada orang lain ternyata juga terbukti memiliki manfaat untuk menumbuhkan empati dalam diri. Bagaimana bulan Ramadan mengubah individu menjadi lebih simpatik dengan berbagi? Simak penjelasannya melalui sudut pandang psikologis.
1. Berempati terhadap sesama adalah nilai-nilai Islam

Empati menjadi hal yang esensial dalam membangun hubungan sosial di tengah masyarakat. Perpecahan, konflik, dan sikap intoleransi akan lebih mudah mereda ketika tumbuh rasa saling memahami dalam diri setiap individu.
Di bulan Ramadan, umat Islam didorong untuk terus menumbuhkan kebaikan dengan fondasi iman dan takwa. Kebiasaan inilah yang perlahan membentuk empati menjadi nilai yang tertanam kuat dalam diri.
Seperti yang dijelaskan oleh psikolog Universitas Stanford, Jamil Zaki, PhD dalam laman American Psychological Association, empati seperti perekat super yang menghubungkan dan mendasari kerja sama dalam kebaikan. Empati tidak selalu dimiliki secara natural oleh manusia, untuk itu peneliti menyarankan agar orang dapat mengolahnya dengan baik agar meningkatkan hubungan sosial. Artinya ada potensi bahwa empati bisa terus ditumbuhkan dalam diri seseorang, meski semula ia bersikap apatis.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Ann Rumble, PhD, seorang dosen psikologi di Northern Arizona University, ditemukan bahwa empati dapat mendorong orang untuk bersikap lebih dermawan. Tak hanya itu, dengan adanya sikap belas kasih, individu juga lebih mudah memaafkan dan jauh dari rasa dendam.
Riset ini selaras dengan nilai-nilai Islam. Di bulan Ramadan, kita banyak diajarkan untuk bersikap murah hati. Salah satu tujuannya adalah agar bisa saling memaafkan dan menjauhkan diri dari sifat pendendam.
2. Berbagi menularkan kebahagiaan

Umat Muslim percaya bahwa perbuatan baik akan dilipat gandakan pahalanya selama bulan Ramadan. Pahala yang berlimpah serta gugurnya dosa-dosa mendorong orang untuk berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan. Salah satunya dengan membayar zakat.
Berbeda dengan sodaqoh yang mencerminkan kebaikan sukarela, zakat mendorong umat Uslam untuk melepaskan diri dari hal-hal yang sifatnya duniawi dengan memberikan sebagian harta kepada orang yang rentan (fakir, miskin, anak yatim dan lain-lain). Zakat berkontribusi terhadap keadilan sosial, terutama bagi komunitas Muslim.
Memberikan sebagian harta berupa bahan makanan pokok kepada golongan yang berhak menerima zakat memungkinkan seseorang untuk turut serta merasakan penderitaan orang lain. Dan di hari Raya Idul Fitri, dimana semua orang bersuka cita, menikmati santapan makanan yang baik, kita bisa merasakan kebahagiaan itu menular. Membuat orang yang berbagi sebagian hartanya turut merasakan kesenangan.
Karina Schumann, PhD, selaku profesor psikologi sosial di Pittsburgh University menerangkan bahwa empati mendeorang manusia untuk berperilaku positif dan memberikan kebermanfaatan bagi hubungan antar masyarakat dan individu. Dengan adanya empati dalam diri, seseorang akan termotivasi untuk menjauhkan diri dari sikap negati seperti agresif dan intimidasi.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ashley V. Whillan dalam laman Harvard Business School, ditemukan bahwa orang-orang merasa senang jika donasi yang mereka keluarkan menunjukkan dampak. Penelitian ini juga menemukan bahwa memberi kepada orang lain menumbuhkan perasaan yang positif, sehingga mendorong orang tersebut untuk melakukan kebaikan lagi. Sebab, dalam riset serupa juga ditemukan bahwa manusia senang melakukan tindakan yang mereka sukai, sehingga mereka ingin melakukannya lagi.
3. Kemurahan hati orang Islam

Telah terbukti bahwa kemurahan hati seolah memiliki energi yang dapat menularkan kebaikan kepada orang lain. Kebiasaan berbagai mulai dari sodaqoh, berbagi bingkisan, membayar zakat, puncaknya adalah sikap dermawan yang mendekatkan manusia kepada Allah.
Hadis di atas menegaskan bahwa orang yang murah hati akan merasa ringan dalam berbagi. Jika didapati kelebihan harta atau melihat orang lain membutuhkan pertolongan, maka sikap pemurah dan dermawan akan menjadikan langkah manusia untuk membantu jadi lebih ringan. Menurut ulama, hakikatnya sikap dermawan adalah tidak sulit memberikan sesuatu. Artinya bersodaqoh atau membayar zakat, merelakan materi duniawi untuk membantu kemaslahatan sesama manusia dilakukan dengan hati yang lapang.
Secara psikologi menurut Sara Konrath, PhD, associate professor of social psychology at Indiana University ditemukan bahwa empati mendorong orang memahami perspektif dan emosi orang lain tanpa harus sepenuhnya menempatkan diri sebagai pihak yang mengalami penderitaan tersebut. Dengan menanamkan pemahaman ini, akan tumbuh rasa peduli dan belas kasih yang mendorong seseorang untuk terus membantu.
Ternyata nilai-niali Islam memiliki keselarasan dengan riset dalam dunia psikologi khusususnya terkait rasa empati dan dorongan untuk berbagi. Jadi, dipenghujung bulan Ramadan ini, kamu mungkin berminat untuk terus tingkatkan kebiasaan ini?