Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Standar Kesopanan Indonesia Bisa Melelahkan buat Orang Autistik?

Kenapa Standar Kesopanan Indonesia Bisa Melelahkan buat Orang Autistik?
ilustrasi penduduk Indonesia (pixabay.com/syauqifillah-19524098/)
Intinya Sih
  • Budaya komunikasi konteks tinggi di Indonesia membuat individu autistik kesulitan memahami pesan tersirat, sehingga sering disalahartikan sebagai tidak sopan atau kurang peka.
  • Ritual basa-basi dan tuntutan kontak fisik dalam interaksi sosial menimbulkan kelelahan mental serta sensory overload bagi banyak orang autistik.
  • Hirarki sapaan dan tekanan untuk selalu tampil ramah memaksa individu autistik melakukan masking berlebihan yang dapat berujung pada autistic burnout.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Indonesia sering kali dinobatkan sebagai salah satu negara paling ramah di dunia. Namun, di balik senyum ramah dan budaya tegur sapa kita, tersimpan labirin aturan sosial yang sangat kompleks. Bagi individu autistik yang cenderung memproses informasi secara literal dan jujur, standar kesopanan ini bukan sekadar tradisi, melainkan beban kognitif yang melelahkan.

1. Kompleksitas komunikasi "high-context" yang penuh kode

IMG_8165.jpeg
Forum Group Discussion (FGD) Nasional bertajuk “Sinergi Strategis untuk Kedaulatan Digital: Optimalisasi Barang Milik Daerah untuk Infrastruktur Telekomunikasi, Penetapan Tarif Batas Atas Infrastruktur Pasif, dan Deklarasi OVC" (IDN Times/Misrohatun)

Melansir Cultural Atlas, Indonesia memiliki budaya komunikasi konteks tinggi (high-context culture), di mana pesan sering kali tidak disampaikan secara langsung, melainkan tersirat melalui nada suara, ekspresi wajah, atau situasi.

Bagi orang autistik, bahasa adalah alat untuk menyampaikan fakta, bukan teka-teki. Ketika seseorang berkata "Kapan-kapan mampir ya!" orang autistik mungkin akan benar-benar datang atau bingung karena tidak ada tanggal pastinya. Sementara dalam budaya kita, kalimat itu sering kali hanyalah basa-basi penutup percakapan. Ketidakmampuan membaca "kode" ini sering kali membuat mereka dianggap tidak sopan atau "tidak peka", padahal otak mereka memang tidak dirancang untuk menebak subteks yang ambigu.

2. Ritual basa-basi yang terasa seperti interogasi

ilustrasi penduduk Indonesia (pixabay.com/sunu_dhadho)
ilustrasi penduduk Indonesia (pixabay.com/sunu_dhadho)

Melansir Psychology Today, individu autistik sering kali kesulitan dengan small talk karena dianggap tidak memiliki tujuan informasi yang jelas. Di Indonesia, basa-basi sering kali masuk ke ranah personal, seperti "Sudah makan?", "Mau ke mana?", hingga pertanyaan sensitif seperti "Kapan nikah?".

Bagi orang neurotipikal, ini adalah cara menunjukkan perhatian. Namun bagi orang autistik, menjawab pertanyaan-pertanyaan ini membutuhkan energi besar untuk memproses apakah penanya benar-benar ingin tahu atau sekadar menyapa. Proses mental untuk memilih "jawaban yang benar" agar tidak menyinggung perasaan orang lain inilah yang memicu kelelahan sosial atau social exhaustion.

3. Standar kesopanan fisik dan kontak mata yang memicu sensory overload

ilustrasi penduduk Indonesia (pixabay.com/astama81)
ilustrasi penduduk Indonesia (pixabay.com/astama81)

Melansir National Health Service (NHS), banyak individu dalam spektrum autisme mengalami hipersensitivitas terhadap rangsangan sensorik. Budaya Indonesia yang sangat menekankan sentuhan fisik sebagai bentuk hormat; seperti bersalaman, mencium tangan orang tua, atau berdesakan dalam acara kekeluargaan, bisa memicu rasa tidak nyaman yang hebat.

Selain itu, standar kesopanan kita yang mewajibkan seseorang untuk menatap mata lawan bicara saat mengobrol adalah tantangan tersendiri. Bagi banyak orang autistik, kontak mata yang dipaksakan bisa terasa menyakitkan atau justru membuat mereka kehilangan fokus pada apa yang sedang dibicarakan. Ketika mereka memalingkan wajah untuk berkonsentrasi, lingkungan kita sering kali salah menilai mereka sebagai sosok yang sombong atau tidak menghargai.

4. Hirarki sosial dan penggunaan sapaan yang membingungkan

ilustrasi penduduk Indonesia (pixabay.com/andreaswegelin)
ilustrasi penduduk Indonesia (pixabay.com/andreaswegelin)

Melansir The Conversation, struktur bahasa dan sosial di Indonesia sangat dipengaruhi oleh hirarki. Kita harus membedakan penggunaan kata sapaan seperti Bapak, Ibu, Kakak, Adik, Mas, atau Mbak berdasarkan usia dan status sosial yang bahkan tidak selalu terlihat jelas.

Individu autistik sering kali melihat manusia secara egaliter atau setara. Menentukan sapaan yang "tepat" dalam hitungan detik saat bertemu orang baru adalah tugas kognitif yang berat. Kesalahan kecil dalam penggunaan gelar atau sapaan di Indonesia bisa berujung pada penilaian karakter yang buruk, sehingga orang autistik sering kali memilih untuk diam daripada mengambil risiko salah bicara.

5. Tekanan untuk selalu terlihat ceria dan ramah (the smiling mask)

ilustrasi penduduk Indonesia (pixabay.com/Endho)
ilustrasi penduduk Indonesia (pixabay.com/Endho)

Melansir Autism Awareness Australia, tuntutan sosial untuk selalu menunjukkan wajah ramah atau smiling mask adalah bentuk masking yang paling umum. Di Indonesia, orang yang diam atau berwajah datar (flat affect) sering dianggap sedang marah, tidak bahagia, atau tidak ramah.

Tekanan untuk selalu "terlihat menyenangkan" di depan umum memaksa individu autistik untuk menggunakan seluruh energi mereka hanya untuk mengatur ekspresi wajah agar sesuai dengan ekspektasi lingkungan. Akibatnya, setelah pulang dari acara sosial, mereka sering mengalami autistic burnout, kondisi kelelahan fisik dan mental total karena terlalu lama berpura-pura menjadi orang lain demi standar kesopanan yang berlaku.

Sudah saatnya kita mendefinisikan ulang apa itu "sopan santun". Jika standar keramahan kita justru menjadi jeruji yang menyiksa mereka yang berbeda, maka itu bukan lagi sebuah keramahan, melainkan penyeragaman paksa.

Menjadi inklusif berarti berani menerima bahwa kejujuran tanpa basa-basi adalah bentuk ketulusan, dan diamnya seseorang bukanlah tanda tak hormat, melainkan cara mereka menjaga kedamaian di kepalanya yang riuh. Keramahan yang sejati seharusnya tidak menuntut siapa pun untuk menjadi "normal", tapi merangkul mereka apa adanya tanpa harus dipaksa memakai topeng.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us