Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Kesalahan Akustik Ruangan yang Bikin Interior Terasa Kurang Nyaman
ilustrasi interior rumah warna abu-abu (pexels.com/Max Vakhtbovych)
  • Akustik ruangan memengaruhi kenyamanan aktivitas; dominasi keramik, kaca, beton, dan dinding licin dapat memperpanjang dengung serta membuat ruang terasa bising.
  • Dinding berhadapan dapat memicu pantulan berulang, sementara furnitur keras dan penempatan televisi atau pengeras suara yang keliru membuat suara kurang jelas atau tidak seimbang.
  • Penyerapan suara mengurangi pantulan di dalam ruang, sedangkan peredaman menghambat suara dari luar atau keluar; solusi harus disesuaikan dengan sumber masalah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Interior yang nyaman gak hanya ditentukan oleh pemilihan warna, penataan furnitur, atau pencahayaan yang membuat ruangan terlihat estetik. Ada satu aspek yang sering luput dari perhatian, padahal pengaruhnya terasa setiap hari, yaitu akustik ruangan atau cara suara bergerak, memantul, dan merambat di dalam ruang. Ketika aspek ini gak diperhitungkan dengan baik, ruangan yang terlihat cantik sekalipun bisa terasa bising, bergema, bahkan melelahkan saat digunakan untuk beraktivitas.

Pernah merasa sulit berkonsentrasi di ruang kerja yang tertata rapi, atau merasa suara televisi terdengar kurang nyaman di ruang keluarga meski volumenya sudah diatur? Masalah seperti itu gak selalu berasal dari perangkat elektronik, sebab karakter permukaan, bentuk ruangan, hingga penempatan perabot turut memengaruhi kualitas suara di dalamnya. Yuk, kenali lima kesalahan akustik yang sering terjadi agar interior gak cuma sedap dipandang, tetapi juga nyaman untuk telinga dan mendukung aktivitas sehari-hari!

1. Terlalu banyak menggunakan permukaan keras yang memantulkan suara

ilustrasi interior rumah gaya clean industrial (pexels.com/Vika Glitter)

Material seperti keramik, kaca, beton, dan dinding bercat licin memang sering dipilih karena tampilannya bersih serta mudah dirawat. Namun, permukaan keras cenderung memantulkan gelombang suara alih-alih menyerap sebagian energinya, sehingga suara percakapan, langkah kaki, atau bunyi peralatan elektronik dapat terdengar lebih nyaring. Ketika material semacam ini mendominasi lantai, dinding, dan langit-langit sekaligus, ruangan berisiko memiliki waktu dengung yang lebih panjang dan terasa kurang nyaman untuk percakapan.

Kesalahan ini sering terjadi pada interior bergaya minimalis yang mengutamakan kesan lapang dan rapi, tetapi minim material bertekstur lembut. Solusinya bukan harus mengganti seluruh lantai atau menutup dinding dengan material khusus, melainkan menyeimbangkan permukaan keras dengan karpet, tirai kain, sofa berlapis tekstil, atau panel penyerap suara yang sesuai dengan kebutuhan. Perpaduan tersebut membantu mengurangi pantulan suara berlebihan tanpa mengorbankan karakter desain, sehingga ruangan tetap menarik sekaligus lebih nyaman digunakan dalam waktu lama.

2. Mengabaikan pantulan suara dari dinding yang saling berhadapan

ilustrasi interior rumah klasik (unsplash.com/Clay Banks)

Dinding yang berhadapan dengan jarak relatif dekat dapat menciptakan pantulan suara berulang ketika gelombang suara bergerak bolak-balik di antara kedua permukaan. Kondisi ini bisa membuat percakapan terdengar kurang jelas, terutama ketika beberapa orang berbicara bersamaan atau ruangan digunakan untuk rapat daring. Pada kondisi tertentu, pantulan berulang tersebut juga dapat menimbulkan efek gema bergetar yang dikenal sebagai flutter echo, sehingga suara terasa seperti memiliki jejak pantulan singkat yang mengganggu.

Masalah ini kerap luput dari perhatian karena pantulan suara gak selalu terlihat atau langsung terasa ketika ruangan masih kosong dan sunyi. Untuk mengatasinya, permukaan dinding yang berhadapan dapat diberi elemen penyerap suara, seperti panel akustik, rak buku berisi koleksi buku, atau dekorasi kain dengan karakter yang sesuai. Penempatannya perlu mempertimbangkan titik pantulan utama dan fungsi ruangan, sebab menambahkan dekorasi secara acak belum tentu cukup efektif untuk memperbaiki kejernihan suara.

3. Memilih furnitur hanya berdasarkan tampilan tanpa mempertimbangkan fungsinya

ilustrasi interior rumah gaya eklektik (pexels.com/Max Vakhtbovych)

Furnitur bukan sekadar elemen pengisi ruangan, tetapi juga dapat memengaruhi cara suara menyebar dan dipantulkan di dalamnya. Ruangan yang hanya berisi meja kaca, lemari dengan permukaan licin, dan kursi berbahan keras cenderung memiliki lebih sedikit bidang yang membantu menyerap suara. Sebaliknya, sofa berlapis kain, kursi dengan bantalan, serta rak buku dapat membantu mengurangi pantulan pada tingkat tertentu, meskipun efektivitasnya bergantung pada bahan, ukuran, dan penempatannya.

Kesalahan yang sering terjadi adalah memilih semua furnitur berdasarkan keselarasan warna dan bentuk, tanpa mempertimbangkan kebutuhan akustik penghuni. Padahal, ruang keluarga yang digunakan untuk mengobrol, misalnya, membutuhkan karakter suara yang berbeda dari ruang kerja yang menuntut konsentrasi atau studio yang memerlukan kendali suara lebih terukur. Karena itu, pertimbangkan furnitur berlapis tekstil, susunan rak yang proporsional, dan variasi material agar interior terasa lebih seimbang, baik secara visual maupun akustik.

4. Menempatkan sumber suara tanpa memperhatikan tata letak ruangan

ilustrasi furnitur lemari TV (pexels.com/HONG SON)

Posisi televisi, pengeras suara, meja kerja, dan tempat duduk dapat memengaruhi kenyamanan mendengar di dalam ruangan. Ketika pengeras suara ditempatkan terlalu dekat dengan sudut atau menempel pada dinding tanpa mempertimbangkan karakter perangkat, respons frekuensi tertentu bisa menjadi terlalu dominan, terutama pada nada rendah. Akibatnya, suara musik atau dialog mungkin terdengar kurang seimbang, sementara penghuni yang duduk di posisi berbeda bisa merasakan kualitas suara yang tidak sama.

Penataan yang tepat sebaiknya dimulai dengan mempertimbangkan posisi sumber suara, jarak pendengar, serta permukaan di sekitarnya. Untuk ruang keluarga, arahkan pengeras suara menuju area duduk utama dan hindari menempatkannya sembarangan di sudut ruangan jika posisi tersebut membuat suara bass terasa berlebihan. Jika ruangan digunakan untuk bekerja atau mengikuti rapat daring, tempatkan meja di area yang relatif tenang dan jauh dari sumber kebisingan, kemudian uji kembali kualitas suara dari posisi yang benar-benar digunakan sehari-hari.

5. Menganggap peredaman suara sama dengan penyerapan suara

ilustrasi interior kantor (unsplash.com/The Yardcoworking)

Peredaman dan penyerapan suara merupakan dua hal berbeda yang kerap dianggap sama saat merancang interior. Penyerapan suara bertujuan mengurangi pantulan di dalam ruangan agar suara terdengar lebih jelas, sedangkan peredaman suara berfokus pada menghambat suara masuk atau keluar melalui dinding, pintu, jendela, dan bagian bangunan lainnya. Kesalahpahaman ini dapat membuat penghuni membeli panel busa untuk mengatasi suara bising dari jalan, padahal panel tersebut umumnya lebih ditujukan untuk mengendalikan pantulan suara di dalam ruangan.

Jika masalah utamanya berasal dari kebisingan luar, penanganannya perlu memperhatikan celah udara, kualitas pintu dan jendela, serta kemampuan konstruksi bangunan dalam menghambat rambatan suara. Sebaliknya, jika suara percakapan terdengar bergema di ruang kosong, penambahan material penyerap pada area yang tepat bisa menjadi langkah yang lebih relevan. Mengenali sumber masalah sejak awal akan membantu menentukan solusi yang sesuai, sehingga anggaran penataan interior gak terbuang untuk material yang sebenarnya gak menjawab kebutuhan.

Kenyamanan interior ternyata gak hanya berkaitan dengan apa yang terlihat, tetapi juga bagaimana suara terasa ketika seseorang berada di dalam ruangan. Permukaan yang terlalu keras, pantulan berulang, pilihan furnitur, tata letak sumber suara, hingga kesalahan memahami fungsi material akustik dapat memengaruhi pengalaman sehari-hari secara signifikan. Jadi, sebelum mengubah interior hanya demi tampilan yang lebih menarik, yuk perhatikan karakter suara ruangan agar setiap sudut rumah gak cuma enak dipandang, tetapi juga nyaman untuk berbincang, bekerja, dan beristirahat!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorAgsa Tian

Related Article